Poligami Dalam Film Berbagi Suami (Analisis Semiotik Potret Poligami dalam masyarakat dengan latar belakang ekonomi dan sosial yang berbeda dalam Film “Berbagi Suami”)

Utomo , Octavianus Wahyu Tri (2010) Poligami Dalam Film Berbagi Suami (Analisis Semiotik Potret Poligami dalam masyarakat dengan latar belakang ekonomi dan sosial yang berbeda dalam Film “Berbagi Suami”). Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (0b)

    Abstract

    Secara sederhana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia manusia berarti “mahluk yang berakal budi (mampu menguasai mahluk lain)”. Manusia sendiri mempunyai tiga roh dibandingkan dengan mahluk yang lain, karena memiliki roh yang lengkap itu manusia menjadi besar, berkembang biak, bernafsu, bernaluri, bergerak, bertindak, berpikir juga berkehendak. Manusia sendiri terdiri dari laki-laki dan perempuan. Perempuan digambarkan sebagai sosok yang lembut, labil, sensitif, lemah dan irasional. Sedangkan laki-laki sendiri digambarkan sebagai sosok yang tegas, kuat, dan rasional. Hal inilah yang membuat pengertian dalam masyarakat bahwa perempuan itu selalu dibawah laki-laki. Kita tak akan pernah paham aspek psikologi laki-laki dan perempuan, jika tidak mengakui bahwasanya perang gender telah berlangsung semenjak enam ribu tahun lalu. Enam ribu tahun yang lampau, patriarki menaklukan perempuan dan masyarakat mulai terorganisasi dalam dominasi laki-laki. Perempuan menjadi milik laki-laki, dan harus berterima kasih atas segala kebaikan hatinya. Namun tak akan pernah ada dominasi satu golongan terhadap yang lain, tanpa memicu timbulnya pemberontakan tanpa sadar, kemarahan, kebencian dan hasrat membalas dendam dalam diri orang-orang yang tertekan dan tertindas. Juga menciptakan rasa takut dan tidak aman dalam diri orang-orang yang menekan dan menindas. Pernyataan Erich Fromm dalam sebuah wawancara dengan majalah Italia, L’Epresso, 16 Februari 1975. Pernyataan ini mengungkapakan pemikiran mendasar tentang relasi problematis antara perempuan dan laki-laki. Bukan perbedaan alamiah mereka, tapi implikasi yang tercipta dari perbedaan tersebut. Kehidupan modern dirembesi oleh tabu egois (mementingkan diri sendiri). Bertindak egois adalah dosa, dan sebaliknya, mencintai orang lain adalah tindakan mulia. Tentu saja, doktrin ini tidak hanya sangat kontradiktif dalam praktik kehidupan masyarakat modern, tapi juga sebagai oposisi terhadap doktrin lainnya yang mengasumsikan bahwa dorongan yang sangat kuat dalam diri manusia dan dilegitimasi, adalah sifat egois, dan setiap individu yang mengikuti dorongan imperatif ini juga bertindak untuk kebaikan umum. Eksistensi dari tipe yang terakhir tidak dipengaruhi eksistensi tipe pertama, yang secara terus menerus meyakinkan bahwa egois adalah dosa besar dan mencintai orang lain adalah kebajikan. Egois, mementingkan diri sendiri, yang sering digunakan dalam ideologi ini, memiliki arti kurang lebih sama dengan cinta diri. Atau dengan kata lain, mencintai orang lain adalah kebajikan dan mencintai diri sendiri adalah suatu dosa.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi
    Depositing User: Na'imatur Rofiqoh
    Date Deposited: 28 Jul 2013 20:05
    Last Modified: 28 Jul 2013 20:05
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/9871

    Actions (login required)

    View Item