PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS NARASI MELALUI PENERAPAN MEDIA BUKU CERITA BERGAMBAR PADA SISWA KELAS VII B SMP ISLAM AL-HADI MOJOLABAN TAHUN AJARAN 2008/2009

Susilowati, Endang (2009) PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS NARASI MELALUI PENERAPAN MEDIA BUKU CERITA BERGAMBAR PADA SISWA KELAS VII B SMP ISLAM AL-HADI MOJOLABAN TAHUN AJARAN 2008/2009. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (0b)

    Abstract

    Kemampuan menulis karangan siswa di Indonesia masih sangat rendah. Umumnya, mereka membuat karangan dengan panjang yang tidak maksimal sesuai harapan. Banyak anak mengalami kesulitan dalam menulis karangan dengan kualitas baik dan panjang yang memuaskan serta dengan menggunakan ejaan dan tanda baca yang memadai. Menurut Achmad Alfianto (2006: 1), hal tersebut disebabkan anak-anak dibanyak kelas jarang dilatih menulis dengan kata-kata mereka sendiri. Mereka lebih sering dan terbiasa menyalin dari papan tulis atau buku pelajaran. Uraian di atas menggambarkan hasil kegiatan belajar mengajar Bahasa Indonesia masih belum maksimal walaupun jam pelajaran Bahasa Indonesia sendiri memiliki porsi yang cukup banyak. Rendahnya kemampuan menulis juga dikemukakan oleh Taufik Ismail (Suara Merdeka, 20 Februari 2003) bahwa di SMP dan SMU kita, tugas enam kali mengarang dalam setahun sudah tergolong tinggi. Itupun hanya 16, 6 % dan di kelas tiga praktis tidak ada lagi tugas mengarang. Permasalahan keterampilan menulis (dalam hal ini menulis narasi) juga terjadi pada siswa kelas VII B SMP Islam Al Hadi Mojolaban, Sukoharjo. Berdasarkan hasil wawancara dan sharing ideas dengan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VII B, diperoleh fakta bahwa kemampuan menulis siswa masih rendah. Kelas VII B yang berjumlah 40 siswa, sebanyak 8 siswa (20%) tidak mengerjakan tugas menulis narasi yang diberikan guru; 15 siswa (40%) yang mengerjakan asal- asalan tidak sesuai perintah/yang diharapkan; 13 siswa (40, 625% dari 32 siswa) menulis kurang runtut; dan 12 siswa (37, 5 % dari 32 siswa) yang menulis dengan kesalahan tanda baca. Rendahnya kemampuan menulis narasi siswa disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, berdasarkan wawancara dengan guru kelas VII B diperoleh informasi bahwa faktor kebiasaan dari SD yang tidak familier dengan kegiatan menulis membuat guru kesulitan membiasakan siswa menulis ( di SD terbiasa mengerjakan soal-soal instan di LKS). Kesulitan guru ditambah dengan input siswa yang mempunyai kemampuan menengah ke bawah membuat pelajaran agak berjalan 1 iiilambat. Kedua, masih berhubungan dengan masalah pertama, di kelas VII B, guru memfokuskan pada keterampilan membaca sehingga waktu untuk pembelajaran menulis kadang-kadang dikorbankan. Hal ini dikarenakan kemampuan membaca siswa sebagian masih rendah. Bahkan di kelas VII B masih dijumpai anak yang belum bisa membaca lancar (mengeja). Ketiga, motivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran menulis tergolong rendah. Hal ini terbukti dari 20 % siswa yang tidak mau mengerjakan tugas menulis narasi yang diberikan guru dan 40% siswa yang mengerjakan asal-asalan tidak sesuai perintah. Pembelajaran di luar kelas dengan tujuan memberikan suasana yang lebih nyaman agar siswa termotivasi pernah diterapkan, tetapi hal ini tidak memberikan hasil yang signifikan baik untuk proses maupun hasil. Dalam kegiatan menulis narasi di ruang kelas, motivasi siswa mengikuti pembelajaran rendah. Mereka merasa malas menghadapi banyaknya tulisan-tulisan hasil wawancara yang harus dinarasikan. Namun, jika pembelajaran di luar kelas, waktu yang tersedia dua jam pelajaran (2 x 40 menit) tidak cukup. Hal ini karena sulitnya mengawasi dan mengorganisasikan siswa sejumlah 40 yang semuanya perempuan. Efek yang terjadi adalah mereka bergerombol dan mengobrol sehingga menyita waktu. Berdasarkan wawancara dengan beberapa siswa diperoleh informasi yang sejalan dengan pernyataan guru yaitu mereka kurang termotivasi mengikuti pembelajaran. Mereka malas menghadapi tulisan-tulisan sehingga tugas menulis terasa sangat berat. Dijumpai pula kasus bahwa teks wawancara dinarasikan secara tidak runtut. Hal ini dikarenakan siswa ingin segera menyelesaikan tugas yang diberikan tanpa memikirkan kualitas tulisan. Pembelajaran yang selama ini diberikan guru adalah: (1) memberikan teks wawancara yang harus dinarasikan sebanyak satu sampai dengan dua halaman, (2) pembelajaran dilakukan di dalam kelas dan sesekali di luar kelas, (3) dalam waktu dua jam pelajaran (2 x 40 menit) tulisan dikumpulkan, (4) guru mengoreksi tulisan narasi siswa. Pada kelas yang besar (jumlah siswa > 25 siswa) seperti di kelas VII B SMP Islam Al-Hadi Mojolaban, Sukoharjo membuat guru kesulitan untuk dapat memantau seluruh kegiatan siswa selama pembelajaran, apalagi jika di luar kelas. Agar pembelajaran menulis narasi di kelas memperoleh output yang maksimal baik proses maupun hasil, maka diperlukan pengorganisasian bahan, media dan waktu yang baik. Salah satu media yang dapat digunakan adalah buku cerita bergambar (disingkat: bucergam; dan terjemahan dari: picture story book (Murti Bunanta: 2008)) ivyang di dalamnya berisi dialog disertai gambar-gambar ilustrasi pendukung. Alasan pemilihan media ini karena pada usia kelas VII SMP, anak sangat menyukai cerita sehingga diharapkan dapat termotivasi mengikuti pembelajaran. Buku cerita bergambar memuat ilustrasi gambar yang dapat membantu pembaca berimajinasi/membayangkan cerita dan alur secara benar, memperjelas teks, membuat penampilan menjadi lebih menarik sehingga dapat menarik minat untuk membaca. Buku yang digunakan adalah buku cerita bergambar seri wisata nusantara dan seri cerita rakyat. Di samping meningkatkan kualitas pembelajaran, siswa juga dapat mengenal dan mengetahui daerah- daerah wisata dan cerita rakyat di Indonesia. Oleh karena itu, peneliti berketetapan menerapkan media tersebut dalam pembelajaran menulis narasi untuk meningkatkan kualitas proses maupun hasil belajar. Mengenai komponen pembentuk karangan narasi dipaparkan oleh Gorys Keraf (2003: 145) bahwa struktur narasi dapat dilihat dari komponen-komponen yang membentuknya, yaitu: perbuatan, penokohan, latar dan sudut pandangan. Tetapi ada juga dianalisis berdasarkan alur (plot) narasi. Selanjutnya, mengenai urutan logis dalam mengarang dijelaskan oleh Nurudin (2007:71) bahwa narasi pada umumnya merupakan himpunan peristiwa yang disusun berdasarkan urutan waktu atau urutan kejadian. Dengan demikian, karangan siswa kelas VII B SMP Islam Al-Hadi Mojolaban, Sukoharjo, belum secara maksimal menampilkan komponen-komponen pembentuk narasi (perbuatan, penokohan, latar dan sudut pandangan) dengan baik. Dari fenomena di atas, maka salah satu tindakan yang dapat dilakukan adalah menerapkan media buku cerita bergambar pada kelas VII B SMP Islam Al-Hadi Mojolaban, Sukoharjo. Adapun buku yang digunakan adalah cerita petualangan seri wisata Indonesia yang tiap judul buku berisi satu daerah wisata dan cerita rakyat yang tiap judul berisi satu cerita. Penentuan judul buku yang akan diterapkan dalam pembelajaran berdasarkan konsultasi dengan guru kolaborator dan masukan dari siswa. Pemilihan media buku cerita bergambar didasari oleh alasan: (1) buku dengan desain dan gambar yang menarik dapat membangkitkan motivasi siswa membaca isi buku kemudian menuangkannya ke dalam bentuk tulisan narasi, (2) media ini memudahkan guru memantau proses menulis siswa karena pembelajaran dapat dilakukan di dalam kelas, (3) cerita petualangan dan cerita rakyat dapat memicu keingintahuan membaca tiap dialog sampai akhir, (4) bahasa yang digunakan sangat komunikatif sesuai dengan tingkat perkembangan siswa kelas VII, v(5) cerita mengenai asal- usul tempat wisata atau cerita rakyat dalam buku tersebut dapat menambah pengetahuan siswa, (6) media mudah digunakan, (7) media dapat diterapkan di kelas lain atau siswa angkatan berikutnya, dan (8) materi berkaitan dengan kompetensi dasar yang harus dicapai lainnya. Dari uraian di atas, peneliti terdorong untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas sebagai usaha perbaikan kualitas proses dan hasil pembelajaran menulis narasi pada siswa kelas VII B SMP Islam Al-Hadi, Mojolaban, Sukoharjo, dengan menerapkan media buku cerita bergambar.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: L Education > LB Theory and practice of education > LB1603 Secondary Education. High schools
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
    Depositing User: neno sulistiyawan
    Date Deposited: 27 Jul 2013 18:27
    Last Modified: 27 Jul 2013 18:27
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/9809

    Actions (login required)

    View Item