POLA-POLA HUBUNGAN PATRON-KLIEN DI SENTRA KERAJINAN PERAK KOTAGEDE YOGYAKARTA

Kurniasih, Marisa (2009) POLA-POLA HUBUNGAN PATRON-KLIEN DI SENTRA KERAJINAN PERAK KOTAGEDE YOGYAKARTA. Other thesis, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

[img] PDF - Published Version
Download (290Kb)

    Abstract

    Indonesia menempatkan industri menjadi program yang mempunyai kedudukan penting dalam pembangunan, karena pembangunan industri kecil dan industri kerajinan rumah tangga mempunyai dampak yang sangat besar dalam meningkatkan perekonomian. Hal ini terlihat dalam penyediaan lapangan pekerjaan bagi angkatan kerja yang potensial baik di wilayah perkotaan maupun di pedesaan, serta menekan angka pengangguran di Indonesia yang semakin lama semakin bertambah. Berdasarkan perhitungan Sensus Ekonomi tahun 2006, diketahui bahwa jumlah perusahaan di Indonesia pada bulan Mei-Juni 2006, tercatat sebanyak 22,7 juta perusahaan. Dibandingkan dengan tahun 1996, jumlah perusahaan/usaha sebesar 16,4 juta perusahaan/usaha, berarti ada kenaikan 38,4 persen selama 10 tahun terakhir. Dari jumlah tersebut, apabila dilihat dari skala usaha perusahaan/ usaha di Indonesia sebagian besar merupakan perusahaan/usaha merupakan Usaha Mikro (UM) dan Usaha Kecil (UK), dengan persentase masing-masing 83,43 persen dan 15,84 persen. Sedangkan jumlah perusahaan/usaha yang merupakan Usaha Menengah dan Besar (UMB) hanya 166,4 ribu atau tidak lebih dari satu persen terhadap seluruh perusahaan/ usaha (www.bps.go.id). Selain dominan dalam jumlah unit usaha, ternyata tenaga kerja yang diserap oleh usaha mikro dan usaha kecil juga sangat banyak. Berdasarkan 3 perhitungan Sensus Ekonomi tahun 2006 terdapat 62,68 persen orang bekerja pada usaha mikro; 21,91 persen pada usaha kecil; 5,39 persen pada usaha menengah; dan 10,02 persen pada usaha besar (www.bps.go.id). Data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan industri kecil dan industri rumah tangga di dalam perekonomian negara lebih tinggi daripada industri menengah dan industri besar. Dalam situasi banyaknya pengangguran di Indonesia, keberadaan industri kecil dan industri rumah tangga mempunyai peranan yang lebih besar dalam menyerap tenaga kerja yang tidak dapat ditampung oleh sektor industri besar dan industri menengah. Pada dasarnya keberadaan industri kecil dan kerajinan rumah tangga di Indonesia memberikan andil yang cukup besar terhadap produk nasional, sebagai sumber pendapatan, dan penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu, keberadaan industri kecil dan kerajinan rumah tangga di Indonesia perlu mendapatkan perhatian, pembinaan dan pengarahan baik dari segi permodalan maupun pemasaran. Sehingga dalam hal ini peranan pemerintah sangat diperlukan guna kelangsungan usaha. Kebijakan jangka panjang yang dilakukan pemerintah saat ini dalam sektor industri terutama dalam usaha berskala kecil-menengah yaitu dengan meningkatkan potensi dan partisipasi aktif UKM dalam proses pembangunan nasional, khususnya dalam kegiatan ekonomi dalam rangka mewujudkan pemerataan pembangunan melalui perluasan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan. Sasaran dan pembinaan usaha kecil adalah meningkatnya jumlah pengusaha menengah dan terwujudnya usaha yang makin tangguh dan mandiri, 4 sehingga pelaku ekonomi tersebut dapat berperan dalam perekonomian nasional ( Tiktik Sartika dan Abd. Rachman, 2002 : 25). Strategi pembinaan dan pengembangan usaha yang dilaksanakan oleh pemerintah tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1) Aspek managerial, yang meliputi: peningkatan produktivitas/omset/tingkat utilisasi/tingkat hunian, meningkatkan kemampuan pemasaran, dan pengembangan sumberdaya manusia. 2) Aspek permodalan, yang meliputi: bantuan modal (penyisihan 1-5% keuntungan BUMN dan kewajiban untuk menyalurkan kredit bagi usaha kecil minimum 20% dari portofolio kredit bank) dan kemudahan kredit. 3) Mengembangkan program kemitraan dengan besar usaha baik lewat sistem Bapak-Anak Angkat, PIR, keterkaitan hulu-hilir (forward linkage), keterkaitan hilir-hulu (backward linkage), modal ventura, ataupun subkontrak. 4) Pengembangan sentra industri kecil dalam suatu kawasan apakah berbentuk PIK (Pemukiman Industri Kecil), LIK (Lingkungan Industri Kecil), SUIK (Sarana Usaha Industri Kecil) yang didukung oleh UPT (Unit Pelayanan Teknis) dan TPI (Tenaga Penyuluh Industri). 5) Pembinaan untuk bidang usaha dan daerah tertentu lewat KUB (Kelompok Usaha Bersama), KOPINKRA (Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan). (Kuncoro Mudrajad, 2009 : Paragrap 23). Akan tetapi adanya krisis global yang melanda dunia saat ini sangat berpengaruh bagi perekonomian setiap negara. Di Indonesia pada khususnya, 5 krisis global membawa dampak bagi sektor industri. Krisis global telah mengakibatkan kedudukan posisi pelaku sektor ekonomi berubah. Usaha besar satu persatu pailit karena bahan baku impor meningkat secara drastis, biaya cicilan utang meningkat sebagai akibat dari nilai tukar rupiah terhadap dolar yang menurun. Akibatnya, terjadi penurunan pertumbuhan industri di Indonesia. Selama masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, pertumbuhan industri 7,5% pada tahun 2004; 5,9% tahun 2005; 5,3% tahun 2006; 5,2% tahun 2007 dan 4,4% sampai triwulan II 2008 (Harian Seputar Indonesia, 24 Desember 2008). Untungnya, ditengah kondisi krisis yang melanda dunia saat ini, keberadaan industri kecil dan kerajinan rumah tangga masih tetap bertahan. Mereka tetap bertahan untuk mengembangkan industrinya dan melakukan aktivitas kegiatan industri.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > HM Sociology
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Sosiologi
    Depositing User: Ahmad Santoso
    Date Deposited: 25 Jul 2013 20:52
    Last Modified: 25 Jul 2013 20:52
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/9553

    Actions (login required)

    View Item