Peran Programa Seksologi di Radio Romansa FM dalam membentuk persepsi mengenai kesehatan reproduksi di kalangan remaja ponorogo

Pramono, (2008) Peran Programa Seksologi di Radio Romansa FM dalam membentuk persepsi mengenai kesehatan reproduksi di kalangan remaja ponorogo. PhD thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (4Mb)

    Abstract

    Globalisasi informasi dan komunikasi saat ini telah banyak mengubah tatanan sosial kultural bangsa kita. Berbagai informasi tersedia begitu melimpah dan mudah diperoleh, lebih-lebih dengan bantuan teknologi komunikasi. Di lain pihak ternyata secara sosio kultural kita belum siap menghadapi fenomena ini. Kultur kita belum mampu membangun daya kritis terhadap setiap informasi baru yang menerpa, sehingga yang terjadi timbulnya cultural lag (kesenjangan budaya) yang memicu terjadinya penyimpangan dan penggunaan informasi yang tidak konstruktif. Hal ini berarti informasi yang kita terima tidak mampu membangun peradaban baru yang lebih baik. Akulturasi budaya yang terjadi justru asimetris, budaya kita termarginalkan dari budaya asing. Perlahan namun pasti justru budaya kita mulai tercerabut dari akarnya. Oleh karena itulah, saat ini kita begitu mudah menemukan representasi nilai-nilai ke-Barat-Baratan dalam ruang-ruang publik kita, baik di tempat-tempat umum maupun pada representasi isi media massa. Budaya konsumtif, cara berpakaian, tata rias wajah bahkan gaya hidup liberal semacam pergaulan bebas lawan jenis pun semakin longgar serta permisif sebagai cermin budaya Barat. Mengacu pernyataan di atas dalam realitas kehidupan kita yang paling riskan dan mulai mengkhawatirkan adalah budaya pergaulan bebas di masyarakat, khususnya di kalangan remaja. Saat ini performa pergaulan di 13kalangan remaja kita amat sangat kontras jika dikomparasikan dengan pergaulan remaja di dekade sebelumnya. Beberapa fakta atau hasil penelitian menunjukkan pergaulan remaja kita benar-benar telah keluar dari kelaziman budaya ketimuran dan tuntunan agama, sebab pergaulan bebas di kalangan remaja itu sudah mengarah seperti layaknya hubungan suami-istri, tidak jauh berbeda dengan pergaulan bebas remaja-remaja di luar negeri. Kenyataan lain juga menunjukkan bahwa buku, majalah, tabloid, gambar- gambar bahkan film porno begitu mudahnya didapatkan, belum lagi teknologi internet memberi peluang secara terbuka bagi remaja kita untuk menjelajah situs-situs porno yang hampir tidak terproteksi. Hal inilah yang menstimulasi mereka melakukan eksperimen seksual tanpa mempertimbangkan akibat- akibatnya. Fenomena pergaulan bebas di kalangan remaja mulai mengejutkan. Indikasi ini mulai menggejala di era 1990-an ke atas. Sebagai buktinya, data terbaru hasil penelitian Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kalimantan Tengah misalnya, mengungkapkan bahwa 41% dari responden remaja setuju dengan hubungan seks pranikah. Fakta lain yang juga tidak kalah mengejutkan bahwa sebagian besar dari para remaja tersebut tidak mengetahui resiko akibat seks bebas itu semacam penyakit menular seksual (IMS) maupun HIV-AIDS. (Jawa Pos: Sabtu, 3 Februari 2007) Fakta ini ternyata tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan beberapa penelitian sebelumnya. Pada tahun 1996 sebuah penelitian yang dilakukan di Denpasar Bali, dari 633 pelajar SLTA kelas II, sebanyak 23,4%(155 remaja) mempunyai pengalaman hubungan seks, 27% putra dan 18% putri. Sedangkan di Medan pada tahun 2001 diperoleh hasil penelitian bahwa 27% remaja laki-laki dan 9% remaja perempuan pernah melakukan hubungan seks. (BKKBN: 2003: 4) 14Padahal hubungan seks bebas pranikah akan menimbulkan banyak akibat buruk baik bagi remaja yang bersangkutan maupun keluarganya. Kemungkinan pertama, terjadinya pernikahan usia dini. Pernikahan yang terlalu dini bagi para remaja secara psikologis, sosial maupun ekonomi akan membentuk keluarga yang rapuh. Maka wajar jika perceraian maupun kekerasan dalam rumah tangga kian hari kian tinggi. Kedua, hubungan seks pranikah berbahaya bagi organ reproduksi, terutama bagi wanitanya. Sebab organ reproduksi yang belum siap digunakan akan berbahaya bagi kesehatan janin maupun ibunya. Jangka panjang dapat menimbulkan penyakit kanker organ reproduksi. Ketiga, kemungkinan yang dapat terjadi hubungan seks pranikah yang berganti-ganti pasangan adalah terjangkitnya penyakit menular seksual (IMS) maupun HIV- AIDS. Penyakit-penyakit ini sangat berbahaya bagi manusia. Apalagi penyakit HIV-AIDS hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Tindakan medis sampai saat ini hanya berupaya mengisolir saja agar wabah tidak menyebar lebih luas. Jumlah kumulatif pengidap infeksi HIV dan AIDS hingga saat ini di Indonesia mencapai 5230 HIV dan 8194 AIDS (Jawa Pos: Kamis, 1 Februari 2007: 8). Jika berbagai gambaran mengenai pergaulan bebas remaja kita di atas berasal dari hasil penelitian sudah begitu mengejutkan, maka jika kita tengok kembali fenomena teraktual mengenai pergaulan bebas remaja ini mungkin kita lebih miris. Karena representasi pergaulan bebas remaja sudah terekam dan beredar berupa audio visual melalui media rekam gambar. Terutama penggunaan teknologi telepon selular (Handphone). Artinya, bukti pergaulan seks bebas remaja kita tidak lagi terekam dalam bentuk kertas dari hasil 15penelitian melalui wawancara yang boleh disanksikan orisinalitasnya, tetapi sebuah bukti nyata yang tidak mungkin dibantah dengan argumentasi apapun. Video porno yang merekam perilaku seks bebas remaja kita satu dua tahun terakhir ini kian mengejutkan. Ini terjadi di Bandung, Jember, Ponorogo, Situbondo, Ngawi, Balikpapan dan beberapa kota lainnya yang tidak terekspos media (Ponorogo Pos, No.290 Tahun VI,08-14 Maret 2007: 5). Ponorogo yang dikenal dengan Kota Santri karena banyaknya Pondok Pesantren bertaraf nasional bahkan internasional juga tidak luput terimbas stigma pergaulan bebas ini. Persoalan seks bebas pranikah yang terepresentasi dalam telepon selular dan sempat menghebohkan Kota Reog ini dikenal dengan “Tonggo Dewe” (Tetangga Sendiri). Karena besarnya nilai berita ini (magnitud), Radar Madiun memuat pemberitaan ini secara berturut dari tanggal 6,7,8,9,10,11 hingga 16 Desember 2006. Dalam film tersebut adegan porno ini dilakukan secara two in one. Adegan pertama tergambarkan pelaku wanita sedang melakukan seks oral terhadap alat kelamin teman laki-lakinya, pada adegan kedua dengan laki-laki yang berbeda pada lokasi yang sama pelaku wanita melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Film ini berdurasi 1 menit 45 detik. (Radar Madiun, 6 Desember, 2006 :1) Tidak berselang beberapa lama kasus serupa muncul lagi. Kalau yang pertama berjudul ‘Tonggo Dewe”, film kedua ini bertitel hampir sama, yaitu ‘Konco Dewe’. Munculnya film-film ini ini sekaligus menggambarkan bahwa pergaulan bebas di Ponorogo sudah cukup mengkhawatirkan. Bahkan Dalam Ponorogo Pos edisi Oktober 2006, secara menggelitik dalam suatu karikaturnya digambarkan bagaimana muda-mudi sedang berboncengan bermesum ria 16dengan tangan usil remaja wanitanya memegang (maaf) alat kelamin teman prianya. Fakta lain yang terjadi bahwa Ponorogo yang dikenal sebagai kota santri ini juga diwarnai oleh bisnis prostitusi terselubung. Terutama bertebarannya warung remang-remang yang tersebar di berbagai pelosok kota dan desa. Tempat-tempat inilah lahan subur terjadinya seks eksperimental di kalangan remaja karena konsumen warung ini sebagian besar adalah para remaja. Melihat realitas seperti ini, maka perlu upaya-upaya yang cepat dan fundamental. Oleh karena itu semua pihak harus ikut bertanggungjawab memecahkan persoalan krusial ini. Pemerintah, masyarakat maupun media massa dalam hal ini merupakan tiga pilar yang sangat besar kontribusinya bagi upaya yang realistis untuk meminimalkannya dengan memberikan informasi yang benar dan terjangkau mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) kepada para remaja kita. Memperbincangkan peran media dalam konteks ini, maka penilaian terhadap media massa lebih cenderung sebagai kambing hitam dari akar persoalan sosial ini. Begitu juga dengan munculnya pergaulan bebas di kalangan remaja kita, media massa secara santer juga dianggap menjadi salah satu pemicunya. Anggapan ini sebenarnya tidak seutuhnya benar, tetapi juga tidak seratus persen salah. Harus diakui, media massa mampu mencitrakan hal- hal tertentu. Termasuk ikut mencitrakan bahwa pergaulan bebas yang mengarah pada hubungan seks bebas pranikah adalah budaya baru yang lazim 17dianut. Sebagai apologinya adalah banyak informasi yang disuguhkan media massa yang menggambarkan hubungan yang bebas itu. Menurut Rakhmat (dalam Ishadi et.al: 2001: 228) media massa telah men- displacemen (menggantikan) nilai-nilai lama dengan nilai-nilai baru. Artinya, tata pergaulan ketimuran yang adiluhung itu, tergantikan dengan nilai-nilai pergaulan bebas seperti di negara Barat karena ekspos media yang terus menerus. Baik dalam berita, film, infotainmen dan segudang kemasan media lainnya. Menyalahkan media secara membabi buta juga kurang bijaksana. Sebab bagaimanapun juga media massa juga memiliki kontribusi yang positif bagi masyarakat dalam ikut mencerahkan kehidupan. Sebenarnya juga banyak media yang mengemas isinya dengan materi mengenai pendidikan bagi remaja yang konstruktif. Sejalan dengan diterapkannya otonomi daerah (Otoda), maka sangat signifikan jika potensi daerah yang ada dimaksimalkan perannya dalam memecahkan persoalan ini. Pergaulan bebas di kalangan remaja yang mengkhawatirkan tersebut membutuhkan sekali berbagai media komunikasi massa untuk menyampaikan pesan-pesan seputar seksologi yang benar dan bertanggungjawab. Artinya semakin banyak media yang menyampaikan pesan ini, maka akan semakin banyak remaja yang mendapatkan wacana seksualitas. Radio Romansa FM Ponorogo sejak tahun 2004 memiliki suatu programa yang disebut Seksologi. 18Programa ini memiliki kontribusi yang luar biasa besar bagi upaya memberikan wacana seksual kepada kalangan remaja. Radio Romansa secara konsisten membangun segmentasinya di kalangan remaja dengan bangga sebagai saluran Young Channel-nya. Praktis pendengar radio ini kebanyakan adalah para remaja. Daya dukung lainnya adalah radio ini berada di jalur/gelombang FM yaitu pada gelombang 91,5 Mhz yang tentu dengan jalur ini menciptakan kenyamanan pendengar karena kejernihan audionya. Sehingga para remaja bisa mendengar radio sambil beraktivitas yang lain. Dengan materi menyangkut seksologi juga menjadi daya tarik para remaja yang on air setiap Senin Malam pukul 21.00 hingga 22.00 WIB saat yang tepat bagi remaja karena baru selesai dengan belajarnya. Program Seksologi ini diisi oleh Pengurus Forum Komunikasi Penyuluh KB Dinas KBKS Kab. Ponorogo yang bidang kerjanya sebagian menyangkut Kesehatan Reproduksi Manusia. Peran semacam inilah yang harus dilakukan media komunikasi dalam rangka membantu masyarakat dan pemerintah dalam menyelamatkan generasi muda akibat dari kesalahan pergaulan bebas. Pentingnya media komunikasi massa dalam konteks ini berangkat dari asumsi bahwa : Pertama, jumlah penduduk usia remaja cukup dominan. Misalnya di Ponorogo saja menurut catatan BPS Kabupaten Ponorogo tahun 2007 saja distribusi remaja di kota ini sebesar 204.885 jiwa dari total jumlah penduduk 919.392 jiwa atau jumlah remaja di Ponorogo secara prosentase adalah 22% (BPS Ponorogo: 2007). Kedua, Kasus aborsi di Indonesia sebesar 2,4 juta jiwa per tahun dan sekitar 700 ribu di antaranya dilakukan para remaja. Ketiga, di satu sisi kecenderungan 19remaja untuk melakukan berbagai tindakan yang membahayakan kesehatan mereka sendiri semakin meningkat, namun di sisi lain ternyata pengetahuan para remaja itu sendiri mengenai aspek kesehatan reproduksi yang harus mereka pahami sangatlah rendah. Berbagai informasi yang mereka peroleh kebanyakkan bukan berasal dari mereka yang memang ahli di bidangnya, namun justru dari sumber informasi yang kadang-kadang menyesatkan (Balatbang BKKBN Jatim:2007: 15). Melihat kondisi inilah maka remaja harus dapat mengakses informasi seksualitas (KRR) yang memadai. Berangkat dari asumsi tersebut, maka perhatian semua pihak kepada kehidupan remaja sangat berarti untuk menyelamatkan bangsa ini melalui penyampaian materi kesehatan reproduksi remaja atau pendidikan seksologi kepada mereka. Oleh karena itulah, penelitian menyangkut masalah remaja dan kehidupan seksualitasnya merupakan suatu kontribusi luar biasa sebagai sumbangan pemikiran bagi upaya tersebut.

    Item Type: Thesis (PhD)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    H Social Sciences > HM Sociology
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister
    Depositing User: neno sulistiyawan
    Date Deposited: 25 Jul 2013 19:15
    Last Modified: 25 Jul 2013 19:15
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/9502

    Actions (login required)

    View Item