PERANCANGAN PROMOSI BATIK DAKON MAS MELALUI MEDIA KOMUNIKASI VISUAL

ESTY, MALIA BUDI (2010) PERANCANGAN PROMOSI BATIK DAKON MAS MELALUI MEDIA KOMUNIKASI VISUAL. Other thesis, Universitas Negeri Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (4Mb)

    Abstract

    Indonesia kaya akan hasil budaya, salah satunya adalah batik. Batik merupakan salah satu hasil budaya yang juga merupakan ladang usaha masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Banyak orang Indonesia ataupun Warga Negara Asing yang sangat tertarik dengan batik, maka dari itu, banyak dari penduduk Indonesia menjadikan batik sebagai lapangan kerja, dengan demikian batik makin lestari. Bisa dilihat, masyarakat Indonesia terutama yang bertempat tinggal di wilayah Kota Solo, banyak yang menggantungkan hidupnya pada usaha batik. Salah satunya warga Kampung Kauman, hampir semua masyarakatnya berprofesi sebagai pembuat dan pedagang batik. Sentra Batik di Kecamatan Pasar Kliwon, tepatnya di Kampung Kauman telah ada sejak pindahnya Keraton Kartasura ke Solo pada tahun 1700 yang kemudian berubah nama menjadi Kasunanan. Kauman merupakan tempat ulama yang terdiri dari beberapa lapisan masyarakat mulai dari penghulu tafsir anom, ketip, modin, suronoto, dan kaum. Keberadaan kaum sebagai penduduk mayoritas di kawasan inilah yang menjadi dasar pemilihan nama “kauman”. Masyarakat Kauman (abdi dalem) mendapatkan latihan secara khusus dari Kasunanan untuk membuat batik, baik berupa jarik atau selendang dan sebagainya, dengan kata lain, tradisi Batik Kampung Kauman mewarisi secara langsung inspirasi membatik dari Ndalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Berdasarkanbekal keahlian yang diberikan tersebut masyarakat Kauman dapat menghasilkan karya batik yang langsung mengaplikasikan motif-motif batik yang sering dipakai oleh keluarga keraton ke dalam kain mori (www.indotoplist.com). Pada mulanya para abdi dalem ulama hanya bekerja sebagai abdi dalem saja, istrinya bekerja sambilan membatik di rumahnya untuk konsumsi keraton. Seiring berjalannya waktu usaha rumah tangga tersebut kemudian berkembang menjadi usaha batik, dan kerja rangkap ini berhasil menaikkan taraf ekonomi masyarakat. Usaha inilah yang antara lain menyebabkan masyarakat Kauman dapat membangun rumah yang megah atau indah pada awal tahun 1800 sampai dengan pertengahan tahun 1900 (th penelitian 1998. www.indotoplist.com). Kampung tersebut menjadi makmur karena hidupnya usaha batik yang mendominasi kehidupan masyarakat pada masa itu. Bahkan menurut penelitian Wiwik setyaningsih (pada tahun 2000. www.indotosplit.com), keberhasilan ini menarik minat para pendatang untuk tinggal di wilayah Kauman dan menjadi kawula dalem yang bekerja memenuhi segala kebutuhan keraton seperti menjahit (Kampung Gerjen), membuat kue (Kampung Baladan), membordir (Kampung Blodiran), dan sebagainya. Suksesnya dengan usaha batik itulah yang membuat masyarakat Kauman hingga sekarang banyak bahkan bertambah jumlahnya yang menjadikan batik tak hanya sebagai budaya, tapi juga sebagai ladang usaha mereka. Seperti Batik Dakon Mas misalnya. Batik Dakon Mas merupakan batik yang sudah ada sejak lama di Kampung Kauman. Sebelum memiliki rumah produksi sendiri, Batik Dakon Mas layaknya perusahaan batik kecil lain yang awalnya menawarkan produknya secaraberkeliling kampung dan dipasarkan di pasar tradisional. Butuh waktu bertahuntahun, hingga akhirnya Batik Dakon Mas menjadi perusahaan batik yang sukses. Di zaman orde baru, Batik Dakon Mas mengalami perkembangan yang sungguh pesat dengan kain santungnya. Bahkan Batik Dakon Mas berhasil memiliki rumah produksi sendiri yang juga berada di kawasan Kampung Kauman. Batik Dakon Mas mempunyai banyak klien tersebar di seluruh nusantara, bahkan pernah satu kali mengadakan hubungan kerja sama dengan Negara Malaysia (kerjasama ekspor kemeja batik, pada tahun 2004). Batik Dakon Mas selalu bisa mencapai target penjualannya, bahkan lebih dari yang ditargetkan. Kesuksesan memasarkan produk batik tidak hanya dialami Batik Dakon Mas saja, tetapi seluruh pedagang batik yang berada di Kampung Kauman. Kendala yang dihadapi sekarang, Batik Dakon Mas mengalami penurunan permintaan oleh konsumen dan klien-klien tetap semenjak perekonomian Asia Tenggara mengalami krisis global. Bersamaan dengan itu, bahan Batik Dakon Mas sedang melakukan diversifikasi produk, yang semula hanya dari santung saja, menjadi produk batik dengan berbagai macam jenis kain. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi baru yang lebih unik, menarik, dan komunikatif untuk mengembalikan minat masyarakat yang dulu, terhadap produk Batik Dakon Mas yang sekarang.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: N Fine Arts > N Visual arts (General) For photography, see TR
    Divisions: Fakultas Sastra dan Seni Rupa > D3 - Desain Komunikasi Visual
    Depositing User: Chrisstar Dini S
    Date Deposited: 25 Jul 2013 11:53
    Last Modified: 25 Jul 2013 11:53
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/9109

    Actions (login required)

    View Item