SISTEM PENENTUAN SKALA PRIORITAS PEMELIHARAAN BANGUNAN SEKOLAH ( Studi Kasus: SMK Negeri I Kota Singkawang ) DETERMINATION SYSTEM OF MAINTENANCE PRIORITY SCALE OF SCHOOL BUILDING (Case Study: SMK Negeri I Kota Singkawang)

Sutikno, (2009) SISTEM PENENTUAN SKALA PRIORITAS PEMELIHARAAN BANGUNAN SEKOLAH ( Studi Kasus: SMK Negeri I Kota Singkawang ) DETERMINATION SYSTEM OF MAINTENANCE PRIORITY SCALE OF SCHOOL BUILDING (Case Study: SMK Negeri I Kota Singkawang). PhD thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1613Kb)

    Abstract

    Kinerja bangunan sekolah akan mengalami penurunan seiring dengan bertambahnya usia pakai bangunan tersebut. Penurunan kinerja bangunan ini umumnya disebabkan oleh pengaruh lingkungan di sekitar bangunan yang mengakibatkan kerusakan pada bahan bangunan yang digunakan. Untuk menjaga kinerja bangunan diperlukan suatu tindakan pemeliharaan. Tindakan pemeliharaan sudah dilakukan oleh pihak pengelola. Akan tetapi masih terdapat kekurangan di beberapa bagian gedung hal ini disebabkan tidak tepatnya identifikasi kerusakan dalam menetukan prioritas pemeliharaan dan efisiensi biaya. Suatu sistem penentuan skala prioritas pemeliharaan bangunan yang dapat menganalisa indeks kondisi bangunan dan biaya pemeliharaan telah dikembangkan dalam penelitian ini. Bangunan disusun dalam suatu hirarki kemudian dianalisis menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menghitung bobot fungsionalnya. Untuk menilai kondisi bangunan dilakukan dengan menghitung nilai indeks kondisi bangunan yang merupakan penggabungan dua atau lebih nilai kondisi dikalikan dengan bobotnya (Composite Condition Index). Biaya pemeliharaan dihitung sesuai prosedur Standar Nasional Indonesia (SNI). Penelitian dilakukan pada Gedung Sekolah Menengah Kejuruan Negeri I Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Sekolah ini memiliki beberapa unit gedung, setiap unit gedung terdiri dari komponen arsitektur, struktur dan utilitas. Penelitian ini terutama mempelajari kinerja komponen arsitektur. Komponen arsitektur terdiri atas komponen arsitektur pada ruang kantor, ruang penunjang dan ruang belajar. Sub komponen arsitektur pada setiap ruang meliputi elemen plafond, dinding, pintu, jendela dan lantai. Setiap elemen kemudian diberi bobot sesuai fungsinya. Nilai kondisi dihitung berdasarkan persentase kerusakan. Kondisi sisa ditentukan oleh hasil pengurangan nilai kerusakan terhadap konstanta (nilai maksimum 100 menyatakan kondisi paling baik). Akumulasi dari indeks kondisi elemen menunjukkan kondisi dari setiap ruang. Penetapan skala prioritas pemeliharaan didasarkan pada nilai terkecil dari hasil perbandingan antara selisih nilai indeks kondisi (∆IK) dengan biaya pemeliharaan (BP). Hasil analisis menunjukkan bahwa diantara 40 (empat puluh) ruang yang diteliti, kelompok ruang belajar memperoleh prioritas pemeliharaan yang pertama diikuti oleh kelompok ruang penunjang dan terakhir kelompok ruang kantor. Tiga urutan pertama prioritas pemeliharaan pada kelompok ruang belajar dari 22 (dua puluh dua) ruang yang ada, yaitu bengkel elektronik, bengkel bangunan dan bengkel mesin. Prioritas pemeliharaan pada kelompok ruang penunjang dari 14 (empat belas) ruang yang ada berturut-turut dari pertama sampai dengan ketiga, yaitu ruang KM/WC, ruang gudang dan ruang selasar. Prioritas pemeliharaan pada kelompok ruang kantor dari 4 (empat) ruang yang ada berturut-turut dari pertama sampai dengan ketiga, yaitu ruang dewan guru, ruang tata usaha dan ruang kepala sekolah dan wakil. Kata kunci: pemeliharaan, indeks kondisi, biaya, prioritas.

    Item Type: Thesis (PhD)
    Subjects: T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General)
    T Technology > TH Building construction
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister > Teknik Sipil - S2
    Depositing User: neno sulistiyawan
    Date Deposited: 25 Jul 2013 11:45
    Last Modified: 25 Jul 2013 11:45
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/9107

    Actions (login required)

    View Item