EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PROBLEM BASED LEARNING DAN COOPERATIVE LEARNING TIPE STAD DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA

Suminar, Eka Putra Wahyu (2011) EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PROBLEM BASED LEARNING DAN COOPERATIVE LEARNING TIPE STAD DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1191Kb)

    Abstract

    Pendidikan sebagai wahana dan sarana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan setiap manusia untuk mengembangkan potensi diri dalam menghadapi keadaan yang selalu berubah dan kompetitif. Tujuan pendidikan nasional dalam menjamin mutu pendidikan dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat telah diupayakan pemerintah melalui perwujudan pendidikan yang bermutu pada setiap satuan pendidikan di Indonesia. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang bertujuan mendidik siswa untuk mampu berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, serta kreatif memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan. Akan tetapi, kenyataan masih adanya anggapan bahwa matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang menakutkan, sulit dipahami dan kurang menarik bagi siswa pada setiap satuan pendidikan menyebabkan matematika membutuhkan perhatian khusus. Berdasarkan penelitian dari Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), pendidikan matematika di Indonesia sangat memprihatinkan. Hal ini dibuktikan data UNESCO yang menempatkan kualitas matematika Indonesia pada peringkat ke-34 dari 38 negara peserta pada TIMMS 1999, peringkat ke-35 dari 46 negara peserta pada TIMMS 2003 dan peringkat ke-36 dari 48 negara peserta pada TIMMS 2007. Kenyataan yang ada, data TIMMS yang dipublikasikan tahun 2006 menunjukkan jumlah jam pelajaran matematika di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan Malaysia dan Singapura. Siswa kelas 8 di Indonesia rata-rata mendapatkan 169 jam pelajaran matematika, sedangkan Malaysia 120 jam dan Singapura hanya 112 jam. Akan tetapi, prestasi Indonesia berada jauh di bawah kedua negara tersebut. Prestasi matematika siswa Indonesia hanya memperoleh skor rata-rata 411, sedangkan Malaysia mencapai 508 dan Singapura 605 (400 = rendah, 475 = menengah, 550 = tinggi, dan 625 = tingkat lanjut). Data tersebut menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan siswa Indonesia untuk belajar matematika tidak sebanding dengan prestasi yang diraih (http://zainurie.wordpress.com). Selain itu, data hasil Ujian Nasional mata pelajaran matematika SMP Negeri di Kabupaten Pacitan tahun ajaran 2009/2010 menunjukkan prestasi belajar matematika siswa yang masih rendah. Sekitar 38,67% dari 5.475 siswa peserta Ujian Nasional Utama memperoleh nilai mata pelajaran matematika pada rentang 2,00 sampai dengan 5,49, serta sebanyak 1.318 siswa dinyatakan gagal dan wajib mengikuti Ujian Nasional Ulang. Ada 27 sekolah dari 41 SMP Negeri di Kabupaten Pacitan yang memperoleh nilai rata-rata Ujian Nasional Utama mata pelajaran matematika diantara 4,13 dan 5,86 (Kemendiknas, 2010) Berbagai data yang menunjukkan rendahnya prestasi belajar matematika tersebut harus mampu memotivasi dan memacu para pendidik atau guru untuk selalu berpikir inovatif dan kreatif dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswanya. Kemampuan siswa dalam memahami dan menguasai konsep-konsep matematika merupakan faktor utama dalam mencapai prestasi belajar yang baik. Seorang guru harus mampu mengorganisasikan pelaksanaan pembelajaran sehingga materi akan tersampaikan dengan baik dan konsep-konsep matematika dapat dipahami dan dikuasai oleh siswa. Suatu upaya yang dapat dilakukan oleh seorang guru adalah dengan inovasi dalam pelaksanaan pembelajaran yang awalnya masih cenderung konvensional. Salah satu pandangan tentang pembelajaran yang lahir sebagai inovasi dalam pembelajaran adalah pandangan konstruktivisme. Pandangan ini menuntut pendekatan manajemen dan pengorganisasian pelaksanaan pembelajaran yang berbeda serta menuntut peran aktif siswa dalam membangun pemahaman dan menguasai konsep. Dua model pembelajaran yang inovatif dalam pelaksanaan pembelajaran dan sejalan dengan pandangan konstruktivisme adalah Cooperative Learning tipe Student Team-Achievement Division (STAD) dan Problem Based Learning (PBL) (Arends, 2008: 1). Cooperative Learning tipe STAD merupakan metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan model yang paling mudah dilaksanakan oleh guru yang baru mengenal pembelajaran kooperatif. Model ini telah digunakan dalam berbagai mata pelajaran dan paling sesuai untuk mengajarkan bidang studi seperti matematika. Fokus utama dari STAD adalah adanya kelompok-kelompok diskusi dalam sebuah pembelajaran, sehingga metode ini lebih merupakan metode umum dalam mengatur kelas dari pada metode komprehensif dalam mengajarkan mata pelajaran tertentu (Slavin, 2009: 12-13). Problem Based Learning menurut Tatang Herman (2006 : 4) memiliki fokus utama yaitu memposisikan guru sebagai perancang dan pengelola pembelajaran, sedangkan siswa bertugas memahami dan menguasai konsepkonsep matematika melalui aktivitas belajarnya. PBL mengawali pembelajaran dengan menghadapkan siswa dengan masalah matematika dan siswa dituntut untuk menyelesaikannya. Di dalam PBL guru tidak menyampaikan banyak informasi kepada siswa, tetapi siswa diharapkan dapat mengembangkan pemikiran mereka sendiri. Peran guru dalam PBL adalah sebagai pemberi masalah, memfasilitasi penyelidikan dan diskusi, serta memberikan motivasi dalam pembelajaran, sedangkan siswa berperan aktif sebagai problem solver, decision markers, dan meaning makers (Sugiman, 2006 : 2). Keberhasilan pembelajaran bukan hanya dipengaruhi oleh model pembelajaran, akan tetapi dipengaruhi juga oleh gaya belajar siswa yang lebih dominan, yaitu visual, auditorial, atau kinestetik. Meskipun masing-masing siswa pada tahapan tertentu belajar dengan menggunakan kombinasi dari ketiga gaya belajar ini, kebanyakan siswa akan lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya. Kegiatan pembelajaran harus disesuaikan dengan gaya belajar siswa, karena siswa yang dapat menyesuaikan gaya belajarnya dengan pembelajaran yang dilakukan akan lebih mudah dalam menerima dan mengolah informasi serta menggunakannya dalam pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran yang telah direncanakan oleh guru dapat terlaksana dengan maksimal (DePorter, 2010: 110-111).

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister > Pendidikan Matematika - S2
    Depositing User: Wibowo Anggita
    Date Deposited: 24 Jul 2013 06:08
    Last Modified: 24 Jul 2013 06:08
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/8773

    Actions (login required)

    View Item