GAYA HIDUP KONSUMTIF DAN PENCITRAAN DIRI PELAJAR PENGGUNA HANDPHONE DI SMA NEGERI 1 SAMBI BOYOLALI

MURDANINGSIH, SITI (2008) GAYA HIDUP KONSUMTIF DAN PENCITRAAN DIRI PELAJAR PENGGUNA HANDPHONE DI SMA NEGERI 1 SAMBI BOYOLALI. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

[img] PDF - Published Version
Download (529Kb)

    Abstract

    SITI MURDANINGSIH D 0304073 Judul skripsi : Gaya Hidup Konsumtif dan Pencitraan Diri Pelajar Pengguna Handphone di SMA Negeri 1 Sambi Boyolali. Globalisasi melahirkan situasi dunia yang serba cepat dan canggih. Akibatnya dunia komunikasi dan informasi pun menjadi berkembang dengan pesat. Ditambah lagi dengan perluasan jaringan operator ke wilayah pedesaan. Kehadiran handphone di wilayah pedesaan memunculkan kebutuhan baru di masyarakat. Handphone diterima di berbagai kalangan masyarakat termasuk di kalangan pelajar SMA. Belum banyak penelitian tentang handphone, padahal handphone erat sekali dengan kehidupan seharihari. Dimana rasa sosial, gaya dan citra diri mampu tersimbolkan melalui handphone. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran gaya hidup konsumtif dan pencitraan diri yang ditampilkan melalui handphone yang digunakan, serta bagaimana kaitan antara suatu gaya hidup konsumtif dengan pencitraan diri pelajar dalam menggunakan handphone. Sedangkan alasan memilih objek penelitian pelajar SMA yang berlokasi di wilayah pedesaan karena pelajar sebagai remaja yang berada pada masa transisi dimana mereka cenderung merasa ingin dihargai dengan memiliki hal-hal yang baru disekitarnya. Mengingat wilayah kecamatan Sambi baru sekitar 2 tahun didirikan tower jaringan operator. Sehingga handphone masih dianggap teknologi yang relatif baru terutama di kalangan pelajar SMA. Berbeda jika handphone dimiliki oleh keluarga atau orang-orang di dunia kerja yang sudah pasti sangat membutuhkan alat komunikasi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik pengambilan sampel Purposive Sampling didukung dengan strategi Maximum Variaton. Untuk mendapatkan variasi maximum ditentukan informan dari kelas 1 sampai kelas 3. Dimana dari keseluruhan kelas 1 diambil empat orang informan yang terdiri dari 2 lakilaki dan 2 perempuan, serta yang memiliki handphone model baru dan model lama. Begitu juga dilakukan pada kelas 2 dan kelas 3. Sementara itu juga diambil 4 orang sebagai orang yang menilai penampilan terdiri dari guru dan pelajar. Dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara diharapkan dapat menggali dan memperoleh gambaran lebih mendalam mengenai fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa handphone selain sebagai alat komunikasi tetapi juga untuk meningkatkan gengsi. Seseorang yang pada awalnya belum merasa membutuhkan handphone, pada akhirnya merasa butuh juga karena gengsi dengan teman-teman yang sudah memiliki handphone bahkan yang bagus-bagus. Supaya tidak dianggap ketinggalan jaman dan kuper atau supaya terlihat dari orang yang mampu/kaya. Hal ini menunjukkan sesuai konsep dalam penelitian ini, dengan lebih mementingkan penghargaan dari pada kebutuhan yang sebenarnya. Bahkan terdapat kebutuhan yang mementingkan kesenangan yakni memiliki handphone untuk mencari kenalan, pacar, atau sekedar menghambur-hamburkan pulsa untuk SMS yang kurang penting. Handphone ibarat jam tangan yang kemana-mana selalu dibawa. Handphone telah merubah gaya hidup pelajar di SMA ini yang semula merasa tenangtenang saja tidak memiliki handphone sekarang merasa tidak tenang jika tidak membawa handphone. Sehingga menimbulkan gaya hidup konsumtif, baik konsumtif dalam waktu, uang, serta barang (dalam hal ini handphone). Betapa tidak, mereka lebih suka memainkan handphone pada saat jam pelajaran, waktu belajar di rumah juga waktu viii tidur malam. Dalam penggunaan pulsa pun tergolong sangat boros yang rata-rata 60-150 ribu perbulan mengingat uang saku mereka yang cenderung pas-pasan. Handphone menjadi fashion. Kata Chaney fashion mempesonakan kita, sehingga penggunaan uang sebagai penanda-penanda telah melebihi nilai yang nyata (petandapetanda). Pada akhirnya seperti argumen Baudrillard bahwa logika seseorang dalam konsumsi bukan lagi logika kebutuhan (need) melainkan logika hasrat ( desire). Seperti melakukan hal-hal negatif seperti menggelapkan uang SPP, uang kas, dan menonton video porno di handphone demi hasrat kesenangan dan prestise. Kaitan antara gaya hidup konsumtif dan pencitraan diri terdapat pada penggunaan waktu, uang dan barang. Dimana dalam membentuk citra diri pelajar bergaya hidup konsumtif. Handphone mampu menyampaikan pesan “status sosial” dan gambaran diri pemiliknya. Seperti argumen Chaney bahwa gaya hidup akan mengarahkan kita pada perburuan penampilan dan citra. Yang akhirnya masuk ke dalam permainan konsumsi. Dan mengarah pada tindakan bahkan gaya hidup konsumtif yang lebih mementingkan kesenangan (hasrat) dan keinginan untuk dihargai (prestise). Argumen Chaney dapat dikaitkan dengan argumen Goffman dimana seseorang ibarat aktor dalam panggung sandiwara mereka berusaha menampilkan yang terbaik dari dirinya bahkan memanipulasi citra dirinya untuk mendapatkan kesan sesuai dengan apa yang dia tampilkan. Kesan yang baik termasuk dalam prestise, sehingga prestise menjadi bagian dari pencitraan diri.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Sosiologi
    Depositing User: Aldhila Maharani
    Date Deposited: 23 Jul 2013 22:15
    Last Modified: 23 Jul 2013 22:15
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/8658

    Actions (login required)

    View Item