MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN GEOMETRI MELALUI MEDIA GEOBOARD PADA SISWA TUNA NETRA KELAS D-2 SEMESTER 2 SLB-A YAAT KLATEN TAHUN PELAJARAN 2008/2009”

Yatiningsih, Rusli (2009) MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN GEOMETRI MELALUI MEDIA GEOBOARD PADA SISWA TUNA NETRA KELAS D-2 SEMESTER 2 SLB-A YAAT KLATEN TAHUN PELAJARAN 2008/2009”. Other thesis, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

[img] PDF - Published Version
Download (415Kb)

    Abstract

    Pendidikan merupakan sebuah proses pembelajaran yang tidak hanya mentransformasi ilmu pengetahuan saja, melainkan proses transformasi nilai, sikap, keterampilan, norma dan proses pewarisan budaya pada generasi depan, sehingga dalam pendidikan diharapkan menghasilkan sosok manusia cerdas, terampil, beretika, serta menghargai nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 31, menjelaskan bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa tanpa ada kecualinya dan pemerintah wajib menyelenggarakan pengajaran, maka anak yang mengalami ketidaksempurnaan baik pada fisik, sosial, intelektual, maupun mental dan emosi pun mempunyai hak yang sama untuk memanfaatkan pendidikan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka. Pada prinsipnya pembelajaran adalah usaha untuk meningkatkan kualitas subjek belajar, sehingga dalam belajar dituntut adanya perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan kata lain, dalam proses pembelajaran hendaknya memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik untuk mengeliminir kelemahan yang ada. Keberhasilan pembelajaran sangat tergantung pada komponen pendidikan yakni metode, kurikulum, fasilitas, guru, siswa, dan sumber belajar, evaluasi serta pemilihan dan penggunaan metode dan kurikulum serta pembelajaran. Dalam pembelajaran anak tunanetra, guru tentunya juga dituntut kreativitasnya dalam memilih strategi pembelajaran dan media belajar. Dalam memilih dan menggunakan media hendaknya memperhatikan kondisi dan kebutuhan anak tunanetra itu sendiri sehingga pembelajaran dapat maksimal dan menghasilkan perubahan yang positif. Anak tunanetra adalah anak yang mempunyai keterbatasan pada dria visualnya, jadi dalam pembelajaran guru dituntut mengkompensasikan kekurangan tersebut dengan penggunaan indera yang lain yang masih dapat berfungsi. Terlebih pada pembelajaran matematika yang banyak terdapat 1 2 materi-materi pelajaran yang menuntut penggunaan indera penglihatan, Menurut De Quire (1982:17), sasaran dalam belajar matematika meliputi kemampuan keruangan yang mencakup orientasi ruang, dan visualisasi ruang. Dengan kondisi yang ada pada diri tunanetra maka yang tidak dapat menyerap informasi dari indera visual wajar jika prestasi belajar matematika pada anak tunanetra menjadi rendah jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain meski sama-sama ada sub bahasan yang berupa visual. Berdasarkan hal tersebut di atas, peneliti memilih mata pelajaran Matematika, karena mata pelajaran Matematika sangat komprehensif yang melibatkan berbagai hal yang bersifat abstrak dan beberapa diantaranya membutuhkan pemecahan yang bersifat visualisasi. Seorang guru bidang studi Matematika dituntut kreativitasnya dalam menggunakan media yang aksesibel bagi anak tunanetra, karena pada hakikatnya mereka mampu berkembang lebih baik jika guru dalam menyampaikan materi juga menggunakan media yang tepat. Tidaklah manusiawi jika potensi yang ada pada anak tunanetra tidak dapat berkembang, hanya karena tidak adanya media yang dapat digunakan oleh guru maupun siswa dalam menunjang kegiatan belajar mengajar. Jika ditinjau tentang media dan alat peraga yang tersedia bagi pembelajaran anak tunanetra maka kondisinya sangat memprihatinkan, karena jumlahnya tidak banyak dan itu pun terkadang tidak dapat digunakan oleh anak tunanetra, hal ini disebabkan antara lain dalam pembuatannya tidak memperhatikan hambatan yang ada pada anak tunanetra. Berdasarkan hal tersebut, maka kondisi yang demikian tidaklah mengherankan jika prestasi belajar anak tunanetra pada mata pelajaran Matematika cenderung lebih rendah dibandingkan dengan bidang studi yang lain. Dalam pembelajaran matematika guru mengalami kesulitan dalam menyampaikan materi yang bersifat visual. Hal ini dipertegas oleh pernyataan guru bidang studi Matematika di SLB-A YAAT Klaten yang merasa kesulitan dalam menyampaikan materi yang bersifat visual terhadap siswa tunanetra dikarenakan kurangnya media atau alat peraga yang dapat digunakan oleh guru. Pembuatan media geoboard merupakan alternatif dalam penggunaan media belajar bagi anak tunanetra karena media ini memperhatikan kondisi dan 3 hambatan yang dimiliki oleh anak tunanetra, sehingga dalam penggunaannya pun dapat memaksimalkan indera taktual pada anak tunanetra. Selama ini sekolah khusus dan guru bidang studi Matematika belum dapat memanfaatkan media ini, karena media ini merupakan media baru yang belum banyak dikenal dikalangan komunitas penyandang tunanetra, padahal media geoboarrd ini merupakan sebuah solusi dalam meningkatkan kemampuan matematika anak tunanetra. Dengan digunakan media geoboard ini diharapkan hambatan guru dalam menyampaikan materi pada bidang studi Matematika dapat dimaksimalkan, sehingga potensi yang dimiliki oleh anak tunanetra menjadi lebih maksimal dan prestasi belajar mereka meningkat pada bidang studi Matematika.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
    Depositing User: Ahmad Santoso
    Date Deposited: 23 Jul 2013 22:10
    Last Modified: 23 Jul 2013 22:10
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/8656

    Actions (login required)

    View Item