STUDI KELAYAKAN INVESTASI HOTEL BEST WESTERN PREMIER KAPASITAS HOTEL BINTANG TIGA DI SURAKARTA

WIJAYA, SRI (2011) STUDI KELAYAKAN INVESTASI HOTEL BEST WESTERN PREMIER KAPASITAS HOTEL BINTANG TIGA DI SURAKARTA. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (2014Kb)

    Abstract

    Pertumbuhan ekonomi kota Solo dalam 5 tahun terakhir rata-rata 5,33% (Biro Pusat Statistik Surakarta, 2007), dengan tingkat investasi tumbuh rata-rata 18% (Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah ,2007). Pertumbuhan property seperti apartemen, kondotel dan hotel berskala internasional seperti Ibis, Solo Paragon, Centerpoint, Kusuma Mulia Tower serta Water World menunjukan bangkitnya nadi perekonomian di Kota Solo. Selama 5 tahun terakhir rata-rata Tingkat Penghunian Kamar hotel bintang 3 keatas mencapai 45,72% (Biro Pusat Statistik Surakarta, 2007). Perkembangan tingkat hunian kamar hotel bintang tiga,empat dan lima bertambahnya jumlah wisatawan, pengembangan kota Solo hal itu menjadi iklim perekomomian yang kondusif untuk investasi. Investasi merupakan keputusan yang beresiko, karena memerlukan modal pada saat sekarang bertujuan untuk mendapatkan manfaat atau keuntungan yang lebih besar dimasa mendatang. Oleh karena menyangkut investasi dalam jumlah yang besar, sedangkan manfaatnya baru akan diterima di masa mendatang, maka akan selalu ada resiko. Untuk meminimalisir resiko dan untuk mengestimasi besar keuntungan yang bisa diperoleh, studi kelayakan investasi perlu dilakukan. Studi kelayakan investasi harus dilakukan secara tepat dan cermat dengan menggunakan perhitungan yang kompleks. Untuk membantu tugas para estimator dalam menganalisis berbagai faktor berpengaruh yang terjadi. Hal yang menarik minat penulis untuk melakukan penelitian adalah pada hotel Best Western Premier bintang 4 yang sudah beroperasi selama kurang lebih 1 tahun akan dianalisis kelayakan dalam kapasitasnya menjadi hotal bintang 3. Alasan perubahan kapasitasnya adalah hotel bintang 3 memiliki fasilitas yang berbeda dengan hotel bintang 4 atau 5 dengan harga lebih murah. Selain itu bangunan hotel tersebut dulunya merupakan sebuah bank, jadi perlu dilakukan proses alih fungsi bangunan gedung. Keuntungan dari bangunan alih fungsi adalah masa konstruksi yang lebih pendek dan letaknya yang strategis. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kelayakan investasi pada hotel Best Western Premier yang akan dirubah kapasitasnya menjadi bintang 3. Analisis kelayakan investasi dilakukan dengan metode, Metode Net Present Value (NPV), Revenue Cost Ratio (RCR), Internal Rate of Return (IRR), Break Event Point (BEP), Return On Investment (ROI) sebelum dan sesudah pajak, Tingkat Pengembalian Modal Sendiri (Return On Equity) Net Present Value Metoda ini dikenal sebagai metoda Present Worth dan digunakan untuk menentukan apakah suatu rencana mempunyai keuntungan dalam periode waktu analisis. Hal ini dihitung dari Present Worth of the Revenue (PWR), dan Present Worth of the Cost (PWC), Metode Revenue Cost Ratio (RCR) metode ini menganalisis suatu proyek dengan membandingkan nilai revenue terhadap nilai cost, Internal Rate of Return (IRR) adalah besarnya tingkat bunga yang menjadikan biaya pengeluaran dan pemasukan sama besarnya dan IRR > i (suku bunga) maka usulan investasi diterima. Break Event Point (BEP) Nilai sewa minimuin diperoleh jika pendapatan gedung sama dengan pengeluaran. Return On Investment (ROI) sebelum dan sesudah pajak metode ini menganalisis proyek dengan membandingkan laba sebelum dan sesudah pajak terhadap nilai investasi. Tingkat Pengembalian Modal Sendiri metode ini untuk mengetahui seberapa besar pemupukan modal sendiri.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: T Technology > TH Building construction
    Divisions: Fakultas Teknik > Teknik Sipil
    Depositing User: Users 865 not found.
    Date Deposited: 23 Jul 2013 14:57
    Last Modified: 23 Jul 2013 14:57
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/8519

    Actions (login required)

    View Item