KUALITAS HASIL PENERJEMAHAN INDIVIDU DAN PENERJEMAHAN KELOMPOK (Studi Kasus Proses dan Hasil Penerjemahan Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Linguistik Minat Utama Penerjemahan Universitas Sebelas Maret Surakarta)

Kurnianingtyas, Winantu (2008) KUALITAS HASIL PENERJEMAHAN INDIVIDU DAN PENERJEMAHAN KELOMPOK (Studi Kasus Proses dan Hasil Penerjemahan Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Linguistik Minat Utama Penerjemahan Universitas Sebelas Maret Surakarta). PhD thesis, Universitas Sebelas Maret .

[img] PDF - Published Version
Download (1007Kb)

    Abstract

    Dewasa ini, menerjemahkan bukanlah aktivitas baru lagi khususnya bagi mereka yang berkecimpung di bidang akademis karena sebagian besar referensi yang digunakan sebagai buku penunjang menggunakan bahasa asing (baca = Inggris). Disadari atau tanpa disadari pada saat membaca referensi-referensi tersebut sebenarnya mereka telah melakukan aktivitas menerjemahkan karena mereka mencoba untuk mentransfer makna yang ada dalam teks sumber ke bahasa sasaran (Indonesia) untuk bisa memahami makna yang terkandung dalam buku- buku referensi tersebut. Lebih lanjut, pada saat aktivitas menerjemahkan tersebut berlangsung, mereka tidak peduli apa saja yang telah terjadi pada saat menerjemahkan referensi-refensi yang mereka baca karena dalam benak mereka hanya terfokus pada menerjemahkan teks referensi-referensi untuk memahami dan mengetahui maksud dari teks referensi-referensi yang dibaca dalam bahasa mereka. Padahal banyak hal yang sebenarnya terjadi pada saat menerjemahkan seperti proses pencarian padanan yang sesuai dan tepat, proses pengambilan keputusan, proses penyusunan kembali kalimat terjemahan mereka, dsb; sehingga mereka bisa mencapai harapan untuk memahami dan mengetahui maksud dari teks referensi tersebut.2 Sebagai contoh kasus diambil dari salah satu program studi yang terdapat pada program Pascasarjana UNS yang referensinya menggunakan bahasa Inggris seperti program studi Linguistik minat utama Penerjemahan. Mereka, para civitas akademisi Program Studi Linguistik Minat Utama Penerjemahan hampir setiap harinya harus berhadapan dengan referensi-referensi berbahasa Inggris. Di sini, mereka mentransfer makna yang terkandung dalam buku referensi tersebut ke dalam bahasa sasaran dan tanpa disadari mereka telah melakukan aktivitas menerjemahkan yang disertai oleh proses penerjemahan yang berlangsung di dalam otak. Contoh kasus di atas diadopsi karena penelitian ini difokuskan pada civitas akademisi Program Studi Linguistik Minat Utama Penerjemahan Pascasarjana UNS dengan beberapa pertimbangan diantaranya yaitu kemampuan penguasaan dan pemahaman kebahasaan yang mereka miliki seperti pengetahuan kebahasaan (linguistik) yang meliputi semantik, pragmatik, sosiolinguistik, analisa wacana dan analisa perbandingan (contrastive analysis). Selain itu, para penerjemah juga memiliki pengetahuan tentang penerjemahan. Dengan kompetensi lebih yang dimiliki civitas akademisi Program Studi Linguistik Minat Utama Penerjemahan tersebut, peneliti mencoba untuk menggali lebih dalam proses penerjemahan yang berlangsung selama penugasan dan kualitas terjemahan yang mereka hasilkan. Dalam penelitian ini, peneliti tidak hanya melihat proses dan produk dari penerjemahan individu akan tetapi mencoba untuk membandingkan bentuk penerjemahan tersebut dengan penerjemahan kelompok baik dari segi proses3 maupun produknya. Pertimbangan untuk membandingkan kedua bentuk penerjemahan tersebut karena pada umumnya penerjemahan dilakukan secara individu dan jarang sekali penerjemahan dilakukan secara berkelompok. Di samping itu, sejauh ini penelitian-penelitian yang sering dilakukan terfokus pada penerjemahan yang dilakukan oleh orang per orang (individu) daripada penerjemahan yang dilakukan secara kelompok. Pada penerjemahan individu, proses yang berlangsung benar-benar secara monolog mulai dari pengambilan keputusan untuk menentukan strategi dan teknik penerjemahan, kemudian penentuan makna yang sesuai, selanjutnya merangkai dan menyusun kembali kalimat terjemahannya. Semuanya murni bergantung pada penerjemah itu sendiri tanpa ada pertimbangan ataupun masukan dari pihak lain. Bagaimana dengan penerjemahan kelompok? Apakah proses penerjemahan yang berlangsung pada penerjemahan kelompok sama dengan proses penerjemahan yang dilakukan secara individu atau perorangan? Tentunya proses yang terjadi bisa jadi berbeda dengan penerjemahan individu karena pada saat menerjemahkan, mereka menemukan istilah-istilah yang mungkin tidak diketahui maknanya atau mungkin dimengerti maknanya tetapi sulit untuk diungkapkan dalam bahasa sumbernya, mereka tidak hanya dapat menemukan maknanya dalam kamus serta memikirkan sendiri makna yang tepat dan sesuai seperti yang dialami oleh penerjemah individu, melainkan mereka bisa bertukar pikiran dan pendapat untuk memecahkan permasalahan sehingga mampu memperoleh solusi yang tepat. Dengan kata lain, proses penerjemahan yang berlangsung dalam penerjemahan kelompok terjadi secara dialog.4 Kemudian, setelah proses penerjemahan dengan penentuan strategi penerjemahan yang tepat pastinya berpengaruh pada teknik penerjemahan seperti contoh berikut ini Data 004 TETS Teks BSu Teks Bsa Individu Teks BSa Kelompok At last all his money Semua uangnya sudah Suatu hari, semua was gone and the habis. Dia hanya uangnya habis dan shoemaker had only memiliki selembar kulit tukang sepatu itu hanya enough leather left to yang cukup untuk memiliki bahan kulit make one pair of shoes. membuat sepasang yang cukup untuk sepatu. membuat sepasang sepatu. Kedua teks terjemahan di atas yaitu terjemahan individu dan kelompok memiliki teknik penerjemahan yang berbeda. Teks terjemahan individu menggunakan dua teknik terjemahan yaitu teknik penerjemahan literal dan teknik transposisi. Teknik transposisi bisa diidentifikasi dari perubahan bentuk kalimat yaitu pada teks BSu merupakan kalimat kompleks berubah menjadi dua kalimat simpleks pada teks BSa. Teknik penerjemahan literal bisa dilihat dari struktur teks terjemahan individu yang memiliki kesamaan dengan struktur yang terdapat pada teks Bsu, sedangkan teknik penerjemahan yang terdapat pada teks BSa kelompok merupakan teknik amplifikasi. Teknik ini tampak dari adanya informasi tambahan pada teks BSa yang tidak terdapat pada teks BSu. Penambahan informasi tersebut dapat diidentifikasi dari penambahan keterangan waktu suatu hari. Meskipun jenis penerjemahnya berbeda yaitu penerjemah individu dan penerjemah kelompok dan dengan penerapan strategi yang berbeda pula, tidak5 semua teknik penerjemahan yang dihasilkan juga berbeda semua. Ada beberapa kalimat pada teks BSa pada terjemahan individu yang memiliki jenis teknik penerjemahan yang sama dengan terjemahan kelompok. Di samping itu, ada pula teks BSa pada terjemahan kelompok yang memiliki teknik penerjemahan sejenis, seperti contoh kasus berikut ini Data 01 TCLA Teks BSu Teks Bsa Individu Teks BSa Kelompok Translation Kompetensi Kompetensi Competence and Penerjemahan dan Penerjemahan dan Language Awareness Kesadaran Bahasa. Pengetahuan Bahasa. Kedua teks terjemahan di atas yaitu teks BSa Individu dan teks BSa Kelompok menggunakan teknik penerjemahan yang sama yakni teknik penerjemahan literal. Teknik penerjemahan literal tersebut bisa dilihat dari struktur kedua terjemahan yang dihasilkan oleh masing-masing penerjemah. Terjemahan tersebut memiliki struktur yang sama dengan struktur yang terdapat pada teks BSu. Meskipun memiliki teknik penerjemahan yang sama, namun kedua terjemahan tersebut juga memiliki tingkat kesepadanan yang berbeda yang dikarenakan adanya perbedaan pada pemilihan istilah. Awareness oleh penerjemah individu diterjemahkan sebagai kesadaran namun oleh penerjemah kelompok istilah tersebut diterjemahkan menjadi pengetahuan. Istilah yang tepat untuk menggantikan istilah awareness adalah pengetahuan karena dalam kamus Oxford awareness berarti having knowledge of somebody or something; interested in and knowing about something.6 Penelitian berikutnya adalah untuk melihat kualitas terjemahan dari kedua bentuk penerjemahan tersebut. Bagaimana kualitas terjemahan yang dihasilkan oleh kedua penerjemah dengan pertimbangan penerapan strategi penerjemahan yang berbeda dan teknik penerjemahan yang ada? Kedua bentuk penerjemahan, penerjemahan kelompok dan penerjemahan individu, mungkin akan menghasilkan terjemahan yang berbeda termasuk dari segi kualitas terjemahannya apabila dilihat dari segi kesepadanan, keberterimaan, dan keterbacaan, meskipun para penerjemah memiliki kompetensi atau keahlian yang sama atau hampir sama. Belum tentu terjemahan yang dikerjakan secara kelompok memiliki kualitas yang baik dibanding dengan penerjemahan yang dilakukan secara individu. Begitu juga sebaliknya, bisa jadi teks terjemahan dari penerjemah individu memiliki kualitas yang lebih baik dari teks terjemahan kelompok. Penelitian ini akan membandingkan kedua bentuk penerjemahan tersebut yaitu penerjemahan individu dan kelompok dari beberapa segi di antaranya dari segi strategi penerjemahan, teknik penerjemahan serta kualitas penerjemahan, sedangkan materi yang digunakan sebagai tolak ukur dari ketiga segi di atas dalam penelitian ini terdiri atas dua teks yaitu (1) kalimat-kalimat yang terdapat pada penggalan teks non-fiksi yaitu teks yang terkait dengan penerjemahan “Translation Competence and Language Awareness” dan (2) kalimat-kalimat pada penggalan teks fiksi yaitu teks yang terkait dengan karya sastra “The Elves and The Shoemaker”.7 Kedua materi di atas dipilih sebagai sumber dalam penelitian ini karena teks tersebut sudah mencakup dalam keahlian atau kompetensi yang dimiliki oleh penerjemah, meliputi kompetensi kebahasaan (linguistik), kompetensi budaya, kompetensi tekstual, kompetensi bidang ilmu, kompetensi strategi, dan kompetensi transfer.

    Item Type: Thesis (PhD)
    Subjects: P Language and Literature > P Philology. Linguistics
    Divisions: Pasca Sarjana > Doktor > Linguistik - S3
    Depositing User: neno sulistiyawan
    Date Deposited: 22 Jul 2013 21:29
    Last Modified: 22 Jul 2013 21:29
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/8221

    Actions (login required)

    View Item