REVITALISASI BENTENG VASTENBURG Dengan Taman Budaya Sebagai Sebuah Rekomendasi Fungsi Baru

FAUZI , MUH. LUTHFI (2010) REVITALISASI BENTENG VASTENBURG Dengan Taman Budaya Sebagai Sebuah Rekomendasi Fungsi Baru. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (5Mb)

    Abstract

    “Indonesia masa kini, dengan warisan arsitektur perkotaan kolonial dan pribuminya, harus menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar sejarah, nilai budaya, pelestarian, penggunaan kembali, atau penghancuran bangunan tua…” Cor Passchier Kita mempunyai begitu banyak bangunan bersejarah. Berbagai ragam dan corak bangunan bersejarah dapat kita temui dihampir seluruh kota di Indonesia, mulai dari rumah tinggal, fasilitas pemerintahan, fasilitas militer dan fasilitas umum yang lain, yang kebanyakaan merupakan peninggalan kolonial dan berumur lebih dari 50 tahun. Namun sayangnya hanya sedikit bangunan bersejarah tersebut yang masih bertahan sampai sekarang, itupun kebanyakan hanya menjadi bangunan kosong yang tak berpenghuni. Kebanyakan yang lain telah dirobohkan, diganti dengan bangunan baru yang lebih ‘menjual’. Mungkin hanya sebagian kecil yang nasibnya beruntung, yang telah mengalami konservasi dan mempunyai fungsi baru. Faktanya di Indonesia, konservasi bangunan bersejarah (didalamnya mencakup renovasi, preservasi, restorasi, rehabilitasi, rekonstruksi dan revitalisasi) belum dilihat sebagai sebuah usaha kolektif dalam perencanaan dan perancangan kota. Hanya segelintir orang yang sadar akan pentingnya nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam bangunan bersejarah tersebut terhadap perkembangan kota kedepan. Sebagian orang masih menilai bahwa bangunan bersejarah telah menjadi bagian dari cerita kelam masa kolonial yang tidak ingin diingat kembali. Mereka sepertinya lupa bahwa bagaimanapun pahitnya sejarah, keberadaanya bisa menjadi pembelajaran untuk menuju ke arah yang lebih baik, atau setidaknya menjadi pengingat tentang dari mana kita berasal dan peristiwa apa yang telah terjadi sebelum kita ada. Permasalahan kota kedepan adalah semakin sedikitnya lahan kosong yang tersedia. Sedangkan hasrat untuk membangun akan sangat sulit dibendung, seiring semakin metropolis-nya sebuah kota. Ledakan penduduk dan aktivitas baru akan terus bermunculan. Mau tak mau harus ada upaya untuk mendaur ulang (meminjam istilah Galih Widjil Pangarsa) arsitektur yang ada untuk dapat mengimbangi perkembangan kota ke arah metropolis. Membangun kemudian tidak harus dengan menggusur, merobohkan, menghilangkan arsitektur yang telah ada (termasuk didalamnya bangunan tua bersejarah) tetapi dengan menggunakannya kembali untuk mewadahi aktivitas- aktivitas baru masyarakat urban yang terus bermunculan. Benteng Vastenburg Di Surakarta, isu akan dibangunnya hotel dan mall Solo Boutique berlantai 13 di lokasi berdirinya Benda Cagar budaya (BCB) Benteng Vastenburg memicu berbagai reaksi dari masyarakat, terutama kalangan budayawan dan pemerhati kota yang gencar melakukan penolakan. 1 Terlepas dari kontroversinya, saya melihat hotel dan mall Solo Boutique adalah sebuah usaha untuk mendaur ulang Benteng Vastenburg, memanfaatkannya untuk fungsi yang baru. Jika boleh menilai, sah-sah saja menempatkan bangunan baru untuk memberi vitalitas dan identitas baru pada kawasan Benteng Vastenburg. Tetapi pertanyaan yang muncul kemudian, apakah fungsi dan arsitektur yang diangkat tetap berpijak terhadap konteks sejarahnya. Apakah arsitektur yang dipilih tetap mempertahankan jejak-jejak sejarah yang ada. Apakah arsitektur yang dipilih tetap menjaga ke-khas-an sebuah kawasan kota, mengacu pada hadirnya pusat perbelanjaan dan bangunan perkantoran yang telah merubah struktur kawasan sekitar Gladak menjadi kawasan komersial. Sejatinya Benteng Vastenburg menyimpan sejarah yang panjang tentang perjalanan kota Surakarta. Jejak sejarah benteng Vastenburg adalah jejak sejarah kota Surakarta juga. Menghilangkannya berarti menghapus jejak sejarah kota Surakarta. Keberadaan Benteng Vastenburg merupakan simbol perlawanan yang gigih terhadap penguasaan kolonial Belanda pada waktu itu. Gambar 1.1 Polemik seputar Vastenburg dari mulai isu akan dibangunnya hotel dan mall sampai penolakan dari masyarakat yang termuat dalam harian lokal. [sumber : Skyscrapercity forums] Apalagi kemudian setiap bangunan yang mempunyai nilai sejarah atau yang telah berumur 50 tahun ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya seperti yang telah diatur dalam UU No. 5 tahun 1992. Sehingga apapun kegiatan yang berkaitan dengan Benteng Vastenburg telah diatur oleh UU dan ada sanksi bagi yang melanggarnya. Tetapi pada kenyataanya Benteng tersebut telah dimiliki swasta dan diikuti berbagai polemik mulai isu akan dibangun menjadi hotel dan mall, penolakan dari masyarakat sampai tidak mendapatkan izin dari Depbudpar sehingga sekarang nasibnya terkatung-katung. Revitalisasi : Taman Budaya Salah upaya untuk melestarikan bangunan tua bersejarah adalah dengan revitalisasi. Revitalisasi termasuk bagian dari konservasi. Secara harfiah pengertian revitalisasi adalah proses, cara, perbuatan memvitalkan (menjadikan vital). 2 Namun pengertian yang lebih sering digunakan adalah merubah tempat agar dapat digunakan yang lebih sesuai. Yang dimaksud dengan fungsi yang lebih sesuai adalah kegunaan yang tidak menuntut perubahan drastis atau yang hanya menuntut sedikit dampak minimal. 3 Intinya adalah memberikan fungsi baru dengan penyesuaian terhadap konteks ke-kini- an. Untuk kasus Benteng Vastenburg sendiri upaya revitalisasi yang dilakukan adalah dengan memfungsikannya kembali sebagai sebuah taman budaya. Tetapi sebelumnya didahului dengan public hearing terkait Benteng Vastenburg dan mengkaji beberapa preseden mengenai konservasi bangunan tua.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General)
    Divisions: Fakultas Teknik
    Fakultas Teknik > Arsitektur
    Depositing User: Budianto Erwin
    Date Deposited: 21 Jul 2013 19:10
    Last Modified: 21 Jul 2013 19:10
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/7543

    Actions (login required)

    View Item