BERITA DINAMIKA POLITIK DALAM PEMILU 2009 DAN PERSAINGAN SURAT KABAR ( Analisa Isi dan Aplikasi Teori Niche pada Penelitian Tentang Tingkat Persaingan Surat Kabar Antara Kompas dan Jawa Pos dalam Peliputan Berita Dinamika Politik Pemilu 2009 )

MAHMASSANI, FAUZAN RAHMAN (2009) BERITA DINAMIKA POLITIK DALAM PEMILU 2009 DAN PERSAINGAN SURAT KABAR ( Analisa Isi dan Aplikasi Teori Niche pada Penelitian Tentang Tingkat Persaingan Surat Kabar Antara Kompas dan Jawa Pos dalam Peliputan Berita Dinamika Politik Pemilu 2009 ). Other thesis, Universitas Negeri Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (494Kb)

    Abstract

    Perkembangan media massa, terutama media cetak, di Indonesia dalam beberapa dekade ini mengalami peningkatan cukup besar. Dari sisi geografis, saat ini semua ibu kota provinsi sudah ada penerbitan, bahkan di beberapa kota jumlah media cetaknya lebih dari satu. Kebebasan yang diberikan oleh pemerintah dengan menghapus SIUPP (Surat Ijin Penerbitan Pers) merupakan tonggak kebangkitan media cetak di Indonesia. Pemerintah memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk menerbitkan koran, tabloid atau majalah, tanpa harus dibredel oleh pemerintah. Perkembangan yang pesat ini, secara tidak langsung menumbuhkan bentuk industri yang semakin ketat dan berujung pada persaingan. Perkembangan surat kabar di Indonesia sangat besar, namun tingkat ketidakberhasilan atau gulung tikar karena hukum alam juga besar. Dari tahun 1997 (awal reformasi) terbit 289 media cetak, dan setelah SIUPP dicabut terbit 1678 pada tahun 1999 atau naik hingga 600 %. Namun pada perkembangannya sebanyak 71 % media cetak gulung tikar di tengah jalan. Dari 1678 yang ada, kini hanya tersisa 487 yang bertahan dan 1191 gagal berkembang alias bangkrut.1 Persaingan antar industri media memang sulit terhindarkan. Terlebih dengan berdirinya media televisi - dengan keunggulan audio dan visualnya - yang membawa dampak bagi media lainnya, khususnya media cetak. Nampaknya, 1“ 71 Persen Media Bangkrut Pasca Reformasi” http://www.litefmjakarta.com/liteinfo.php?kategori=hilite& id=380&start=1945&PHPSESSID=c5599b25628697098bbfbb4efba5ff54. 14/08/2009/22.51 3 konsumsi media konvensional seperti media cetak lebih harus lebih inovatif dalam menjaring khalayaknya. Berdasarkan Riset Nielsen Media Indonesia, tingkat kepembacaan media cetak dari waktu ke waktu kian menurun. Hal ini terlihat dari responden yang lebih memilih televisi dan di internet daripada membeli media cetak, dengan perbandingan 72 persen mengatakan sibuk dan tidak punya waktu membaca koran atau media konservatif. 14 persen memilih menonton televisi dan 11 persen tidak membaca media cetak karena alasan harga. Survei ini juga memperlihatkan 35 persen pembaca koran dan 45 persen pembaca majalah mengatakan kenaikan harga mempengaruhi kebiasaan membaca. Sehingga mereka beralih ke media lain, televisi, radio dan internet. 2 Persaingan yang ketat memang tidak hanya terjadi antar lintas media, tetapi juga dialami sesama media sejenis, seperti halnya antar sesama surat kabar ataupun media lainnya. Persaingan akan semakin terasa bila dalam pada area jangkauan yang sama, corak dan segmentasi antara media satu dengan yang lain. Sebagai gambaran, dalam kurun waktu yang cukup singkat media cetak di Indonesia secara kuantitas berkembang sangat pesat, jumlahnya bahkan mencapai seribu penerbitan. Tapi jumlah yang besar itu tidak disertai dengan peningkatan kualitas dan profesionalisme pengelolanya. Akibatnya, banyak media cetak yang diterbitkan saat awal era reformasi, tapi pada saat yang tidak terlalu lama, banyak pula yang berguguran. Pemerintah sudah menghapus kebijakan bredel terhadap media cetak, tapi ‘’bredel’’ yang dilakukan masyarakat jauh lebih kejam, tak 2 Ishadi SK, “Internet, Cetak Jarak Jauh, Dan Masa Depan Pers Nasional”, dalam buku Peringatan Hari Pers Nasional 1996, PT Temprint, Jakarta, 1996, hal. 94 4 kenal ampun. Seleksi alam terhadap media cetak terjadi sangat cepat. Begitu banyak media cetak diterbitkan, tapi sebagian besar sekarang hanya tinggal nama Kata “kompetisi” atau “persaingan” bukanlah hal yang tabu dalam kehidupan pers, melainkan kata kunci yang mendorong setiap pihak yang terlibat dalam dunia pers untuk menghasilkan produk terbaik. Usaha-pun dikerahkan untuk mempertahankan kelangsungan (survive) media cetak di Indonesia dalam masyarakat. Beberapa diantaranya melakukan perubahan yang cukup signifikan. Koran dengan format broadsheet sudah semakin ditinggalkan. Sosok koran semakin kecil dan ramping. Di samping menghemat kertas, juga membuat nyaman pembaca ketika memegang lembar koran saat menikmati berita. Selain itu ialah peningkatan kualitas berita, yang sangat menentukan kualitas surat kabar. Suatu surat kabar harus mampu menyajikan berita-berita yang disukai pembaca. Persaingan antar media, khususnya sesama jenis, tampaknya semakin ketat. Hal ini nampak pada dua konglomerat media di Indonesia, yaitu Kelompok Kompas Gramedia dengan Jawa Pos Group. Kedua kelompok media ini sudah menyebarkan jaringan hingga hampir di seluruh Indonesia. Terlebih dengan kondisi ekonomi pasar global kini, surat kabar dapat dilihat layaknya suatu institusi-institusi produksi dan distribusi lainnya. Kondisi yang ada semacam level kepemilikan media, praktik-praktik pemberitaan,dan berbagai dinamika politik yang lain. Kelompok Kompas Gramedia merupakan kelompok usaha media terbesar di Indonesia dengan puluhan penerbitan (koran, majalah, dan tabloid) dengan surat kabar Kompas sebagai pioneer utamanya. Kelompok Kompas Gramedia juga memiliki Radio Sonora (Jakarta), serta merambah dalam dunia industri 5 televisi melalui stasiun TV 7 (yang kini Trans 7) 3. Dalam industri media cetak, bukan rahasia publik bila pesaing terberat surat kabar Kompas ialah surat kabar Jawa Pos. Jawa Pos Group merupakan konglomerat media terbesar kedua setelah Kelompok Kompas Gramedia, dengan markasnya di Surabaya. Dari kota itu, dikendalikan 67 media cetak, yang terdiri atas aneka koran, tabloid, dan majalah. Secara nasional, surat kabar Jawa Pos beroplah 370 ribu eksemplar dan 60 persen pangsanya diserap di Surabaya. Sebaliknya, surat kabar Kompas, dari total oplah 500 ribu eksemplar, 80 persen beredar di Jakarta, 5 persen di Jawa Timur, dan sisanya di kota-kota lain. Hal ini menandakan, di luar Jakarta, pasar Surabaya adalah prioritas terpenting untuk Kompas.4 Persaingan antara dua surat kabar terbesar di Indonesia ini memang bukan hal baru. Sejak dahulu surat kabar Kompas, yang menguasai bisnis media di Jakarta, berusaha untuk masuk ke Jawa Timur khususnya Surabaya yang merupakan markas utama dari surat kabar Jawa Pos. Kekuatan dominasi Jawa Pos di Surabaya memang sulit ditandingi, bahkan oleh Kompas sekalipun. Untuk menjaga persaingan dengan Jawa Pos, Kompas menjawabnya dengan mendirikan koran Surya, untuk bertarung head-to-head dengan Jawapos. Hingga kini, kompas masih serius menggarap pasar Jawa Timur dengan memberikan suplemen koran “Seputar Jatim” pada koran yang beredar di Jawa Timur. Begitu pula dengan surat kabar Jawa Pos, dengan Kompas yang menguasai pasar di Jakarta, Jawa Pos juga berusaha menjawab persaingan dengan memilih untuk memperkuat hegemoninya di daerah-daerah. Hal ini nampak 3 Ibid 4 “Persaingan Media Cetak Yang Intelektual dan yang Cerdas” http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2001/02/19/MD/mbm.20010219.MD77844.id.html. 01/07/2009/23.17 6 dengan mendirikan koran-koran yang bernama “Radar”. di berbagai daerah sudah terdapat berbagai koran radar, seperti Radar Tulungagung, Radar Madiun, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Radar Solo, dan sebagainya. Setelah koran Radar merambah di daerah-daerah, Jawa Pos berusaha melirik pasar Jakarta. Jawa Pos menggunakan strategi yang sama dengan Kompas, yaitu dengan mendirikan koran Indopos untuk menggoyahkan hegemoni Kompas di Jakarta. Apabila Kompas memberikan suplemen-suplemen dalam korannya, maka Jawa Pos juga menambah suplemen bagi anak muda terutama pelajar SMP,SMA, serta mahasiswa, yaitu suplemen Deteksi. Pada awalanya Deteksi hanya memuat hasil survey di kalangan anak muda mengenai topik yang menarik di sekitar mereka. Namun pada perkembangannya, Deteksi juga merambah ke topik lain, seperti otomotif, modifikasi, elektronik, tren gadget, komik, video games, dll. Hingga kini, Deteksi juga mensponsori berbagai event olahraga yang aktif di kalangan anak muda, seperti halnya lomba basket bagi seluruh pelajar SMU se- Indonesia. Surat kabar merupakan salah satu media massa sebagai lembaga kunci dalam masyarakat moderen, mampu merepresentasikan diri sebagai ruang publik yang utama dan turut menentukan dinamika sosial, politik, dan budaya. Dan salah satu yang menentukan kualitas surat kabar ialah pada kualitas beritanya. Dalam persaingan surat kabar, berita merupakan elemen dan produk yang paling penting. Suatu surat kabar haruslah mampu menyajikan berita-berita yang disukai pembaca. Apa yang menarik pembaca haruslah terdapat dalam suatu berita, karena tujuan pemuatan berita dalam surat kabar ialah agar ia dibaca. 7 Berita politik merupakan salah satu yang selalu menarik perhatian pembaca. Hal ini dikarenakan kehidupan politik kenegaraan secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kehidupan rakyat. Terlebih berita tentang politik semakin besar baik segi kualitas ataupun kuantitas, menjelang event politik terbesar di Indonesia yaitu pelaksanaan Pemilu 2009. Event akbar ini hampir menyita seluruh perhatian masyarakat, tidak terkecuali dengan surat kabar di negara ini. Hal ini terlihat dari pemberitaan-pemberitaan tentang Pemilu 2009 yang banyak menghiasi halaman-halaman surat kabar. Pemilu 2009 diperkirakan berlangsung ketat, bukan saja jumlah pesertanya bertambah signifikan daripada pemilu 2004, namun dengan masa kampanye yang panjang, akan menyedot energi dan sumber daya partai untuk memenangkan kompetisi. Selain itu, dalam pemilu kali ini, pemilihan dibagi menjadi dua periode yaitu pemilihan anggota legislatif serta presiden Indonesia. Gejala lain yang menarik untuk disimak lebih lanjut adalah dinamika partai dalam menghadapi pemilu 2009. Tidak hanya organisasi partai yang siap menyusun rencana dalam rangka pemenangan pemilihan presiden, namun juga calon anggota legislatif yang berusaha mendekatkan diri terhadap konstituennya. Partai peserta pemilu 2009 berusaha memperkuat diri agar mendapatkan dukungan suara yang lebih, dengan menggelar rapat konsolidasi dan berbagai pertemuan nasional partai. Selain itu, juga dengan gencarnya iklan politik jauh-jauh hari sebelum laga dimulai. Penyebabnya bukan hanya masa kampanye yang dikenalkan KPU sangat panjang, tapi juga kompetisi yang ketat mendorong elite untuk berlomba-lomba memompa tingkat ke-dikenalannya pada calon pemilih. Sehingga tidak salah jika pilihannya tidak jatuh pada mesin organisasi partai, tapi media massa. Media massa adalah 8 instrumen kampanye paling efektif dalam melakukan sosialisasi pada calon pemilih. Penyajian berita akan meningkat seiring panasnya suhu politik menjelang Pemilu 2009. Hal ini terlihat pada surat kabar nasional salah satunya adalah Kompas dan Jawa Pos. Berita-berita tentang geliat dinamika politik menghiasi halaman-halaman kedua surat kabar tersebut. Bahkan kedua surat kabar ini menyediakan halaman khusus atau halaman tambahan yang menyajikan geliat pemilu 2009. Kompas menempatkan suplemen tambahannya pada halaman “Pemilu 2009” dan pada awal tahun 2009 rubrik tersebut berganti nama “ Mandat Rakyat 2009” dengan berbagai liputan mengenai Pemilu 2009. Sedangkan Jawa Pos menempatkan rubrik Politika sebagai wadah informasi tentang pemilu 2009. Kedua surat kabar tersebut mempunyai corak dan karakter yang khas sesuai dengan kebijakan redaksionalnya yang diwujudkan dalam motto dan semboyannya, Kompas dengan Amanat Hati Nurani Rakyat, dan Jawa Pos mempunyai motto Selalu Ada Yang Baru.. Bagi surat kabar tidaklah mungkin menuangkan seluruh kegiatan kampanye tersebut ke dalam korannya, salah satu sebabnya adalah karena keterbatasan ruang. Kesemuanya ini mengandung konsekuensi adanya seleksi berita, yang pada akhirnya memunculkan adanya corak peliputan berita. Meskipun isu atau tema yang diangkat dalam suatu berita surat kabar itu sama, misalnya tentang kampanye, kompetisi akan tetap terjadi. Spesifikasi yang menjadi senjata dalam memenangkan pasar di kalangan masyarakat. Untuk itulah pengamatan pasar dan ciri pembaca yang akan dituju menjadi sangat penting, karena persaingan antara media cetak dalam lahan yang terbatas itu sangat tinggi. 9 Surat kabar Kompas dan Jawa Pos saling berlomba untuk memberikan yang terbaik bagi pembacanya. Jika dilihat dari lingkup informasi dan sirkulasinya, surat kabar Jawa Pos dan Kompas tentu saling bersaing dalam memperebutkan khalayak pembacanya. Walaupun pusat domisili yang berbeda, Kompas berada di Jakarta sedangkan Jawa Pos di Surabaya, namun ketiganya mempunyai target distribusi menembus seluruh Indonesia. Keduanya juga mempunyai isi yang cenderung serupa, yaitu sama-sama memuat berita umum, artinya tidak memfokuskan pada satu bidang saja. Untuk mengetahui persaingan Kompas dan Jawa Pos dalam pemberitaan seputar Pemilu 2009 dapat digunakan metode analisa isi dan mengaplikasikan Teori Niche dari Dimmick dan Rothenbuhler. Metode analisa isi akan memberikan gambaran tentang kecenderungan isi dan perbandingan pesan dari media yang berbeda, yaitu Kompas dan Jawa Pos. Dalam penelitian ini akan dillihat pada tingkat frekuensi, penempatan halaman, serta ragam isi berita Pemilu 2009 pada surat kabar Kompas dan Jawa Pos pada kurun waktu 1 Agustus 2008 - 31 Januari 2009.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > HE Transportation and Communications
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi
    Depositing User: Chrisstar Dini S
    Date Deposited: 21 Jul 2013 04:37
    Last Modified: 21 Jul 2013 04:37
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/7388

    Actions (login required)

    View Item