PROFIL SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA DI TINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN

Yuwono, Aries (2010) PROFIL SISWA SMA DALAM MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA DI TINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1149Kb)

    Abstract

    Aries Yuwono, S850908106. Profil Siswa SMA dalam Memecahkan Masalah Matematika ditinjau dari Tipe Kepribadian. Tesis: Program Pascasarjana Pendidikan Matematika Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2010. Pemecahan masalah (problem solving) menjadi sentral dalam pembelajaran matematika. Hal ini dapat dimaklumi karena pemecahan masalah dekat dengan kehidupan sehari-hari, juga karena pemecahan masalah melibatkan proses berpikir secara optimal. Hal ini terjadi karena untuk menyelesaikan masalah, seseorang perlu menciptakan aturan untuk mengatasi masalah. Karena proses berpikir peserta didik sulit diamati, maka perlu upaya agar pemecahan masalah dalam matematika dapat dikuasai dengan baik, salah satunya melalui penghargaan terhadap perbedaan pada masing-masing peserta didik. Dengan pengamatan yang mendalam pada diri peserta didik, akan disadari adanya berbagai jenis perbedaan, seperti perbedaan kepribadian, perbedaan proses berpikir, dan perbedaan cara belajar. Keirsey membagi tipe kepribadian menjadi empat tipe, yaitu tipe guardian, tipe artisan, tipe rational, dan tipe idealist. Mengajarkan pemecahan masalah matematika berdasarkan perbedaan peserta didik berarti pengajar mengusahakan agar setiap peserta didik mempunyai hak untuk diperhatikan oleh setiap pengajar secara pribadi masing-masing, dan bukan secara klasikal, dimana banyak pribadi bergabung menjadi satu. Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana profil siswa dalam memecahkan masalah matematika ditinjau dari masing-masing tipe kepribadian. Sedangan tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan profil siswa SMA masing-masing tipe kepribadian dalam memecahkan masalah. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif-eksploratif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian yang diambil adalah siswa SMA Negeri 1 Kedungwaru kelas XII dengan cara stratified sampling dan purposive sampling. Subjek penelitian sejumlah 2 siswa dari masing-masing tipe kepribadian. Data penelitian berwujud data tertulis dan data lisan. Data tertulis diperoleh dari hasil pengerjaan subjek penelitian terhadap instrumen penggolongan tipe kepribadian dan instrumen lembar tugas pemecahan masalah matematika. Data lisan diperoleh dari wawancara yang dilakukan peneliti dengan subjek penelitian. Adapun langkah-langkah dalam penelitian ini adalah: (1) menyiapkan instrumen penggolongan tipe kepribadian, instrumen soal pemecahan masalah, dan pedoman wawancara, (2) validasi instrumen penggolongan tipe kepribadian, instrumen soal pemecahan masalah, dan pedoman wawancara, (3) pelaksanaan tes tertulis penggolongan tipe kepribadian, (4) penentuan subjek penelitian, (5) pelaksanaan tes tertulis soal pemecahan masalah matematika dan wawancara pada subjek penelitian, (6) analisis data, (7) pendeskripsian profil subjek penelitian berdasarkan hasil tes tertulis dan wawancara, (8) pembahasan, dan (9) menyimpulkan hasil penelitian. Data dianalisis untuk mengetahui profil subjek penelitian dalam memecahkan masalah matematika yang terkait abstraksi ditinjau dari tipe kepribadian berdasarkan langkah-langkah Polya: (1) langkah memahami masalah, (2) langkah membuat rencana pemecahan masalah, (3) langkah melasanakan rencana pemecahan masalah, dan (4) langkah memeriksa kembali jawaban. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) dalam memahami masalah, siswa tipe guardian melakukan proses berpikir asimilasi, tetapi tidak menuliskan syarat cukup dan syarat perlu secara eksplisit; (2) dalam membuat rencana pemecahan masalah, siswa tipe guardian melakukan proses berpikir asimilasi dan abstraksi, tetapi perencanaan pemecahan masalah yang dibuat tidak dapat dijadikan pedoman untuk menyelesaian pemecahan masalah; (3) dalam menyelesaikan pemecahan masalah, siswa tipe guardian melakukan proses berpikir asimilasi dan abstraksi, dan meskipun tidak dapat membuat rencana pemecahan masalah yang dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan pemecahan masalah, tetapi siswa tipe guardian dapat melaksanakan rencana pemecahan masalah dengan lancar dan benar; (4) dalam memeriksa kembali jawaban, siswa tipe guardian melakukan proses berpikir asimilasi dan abstraksi, dan dapat memeriksa kembali jawaban dengan lancar dan benar, tetapi tidak mengetahui cara lain dalam memeriksa kembali jawaban; (5) dalam memahami masalah, siswa tipe artisan melakukan proses berpikir asimilasi dan abstraksi, tetapi tidak menuliskan syarat cukup dan syarat perlu secara eksplisit; (6) dalam membuat rencana pemecahan masalah, siswa tipe artisan melakukan proses berpikir asimilasi dan abstraksi, tetapi perencanaan pemecahan masalah yang dibuat tidak dapat dijadikan pedoman untuk menyelesaian pemecahan masalah; (7) dalam menyelesaikan pemecahan masalah, siswa tipe artisan melakukan proses berpikir asimilasi dan abstraksi, dan meskipun tidak dapat membuat rencana pemecahan masalah yang dapat digunakan sebagai pedoman menyelesaikan masalah, tetapi siswa tipe artisan dapat menyelesaikan pemecahan masalah dengan lancar dan benar; (8) dalam memeriksa kembali jawaban, siswa tipe artisan melakukan proses berpikir asimilasi dan abstraksi, dan dapat memeriksa kembali jawaban dengan lancar dan benar, tetapi tidak mengetahui cara lain dalam memeriksa kembali jawaban; (9) dalam memahami masalah, siswa tipe rational melakukan proses berpikir asimilasi, dan dapat menuliskan syarat cukup dan syarat perlu secara eksplisit; (10) dalam membuat rencana pemecahan masalah, siswa tipe rational melakukan proses berpikir asimilasi dan abstraksi, tetapi perencanaan pemecahan masalah yang dibuat tidak dapat dijadikan pedoman untuk menyelesaian pemecahan masalah; (11) dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah, siswa tipe rational melakukan proses berpikir asimilasi dan abstraksi, dan meskipun tidak dapat membuat rencana pemecahan masalah yang dapat dijadikan pedoman dalam menyelesaikan masalah, siswa tipe rational dapat menyelesaikan pemecahan masalah dengan lancar dan benar; (12) dalam memeriksa kembali jawaban, siswa tipe rational melakukan proses berpikir asimilasi dan abstraksi, dan dapat memeriksa kembali jawaban dengan lancar dan benar, tetapi tidak mengetahui cara lain dalam memeriksa kembali jawaban; (13) dalam memahami masalah, siswa tipe idealist melakukan proses berpikir asimilasi, dan menuliskan syarat cukup dan syarat perlu secara implisit; (14) dalam membuat rencana pemecahan masalah, siswa tipe idealist melakukan proses berpikir asimilasi dan abstraksi, tetapi perencanaan pemecahan masalah yang dibuat tidak dapat dijadikan pedoman untuk menyelesaian pemecahan masalah; (15) dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah, siswa tipe idealist melakukan proses berpikir asimilasi dan abstraksi, dan meskipun tidak dapat membuat rencana pemecahan masalah, tetapi siswa tipe idealist dapat melaksanakan rencana pemecahan masalah dengan lancar dan benar; (16) dalam memeriksa kembali jawaban, siswa tipe idealist melakukan proses berpikir asimilasi dan abstraksi, dan dapat memeriksa kembali jawaban dengan lancar dan benar, tetapi tidak mengetahui cara lain dalam memeriksa kembali jawaban.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    L Education > LB Theory and practice of education > LB1603 Secondary Education. High schools
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister
    Pasca Sarjana > Magister > Pendidikan Matematika - S2
    Depositing User: Faisal Adhinata
    Date Deposited: 20 Jul 2013 20:36
    Last Modified: 20 Jul 2013 20:36
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/7294

    Actions (login required)

    View Item