KAJIAN PRAGMATIK TEKS “M ÉNAKJINGGA LÉNA” PADA SENI PERTUNJUKAN LANGENDRIYA MANDRASWARA MANGKUNEGARAN

Haryono , Sutarno (2010) KAJIAN PRAGMATIK TEKS “M ÉNAKJINGGA LÉNA” PADA SENI PERTUNJUKAN LANGENDRIYA MANDRASWARA MANGKUNEGARAN. PhD thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (131Kb)

    Abstract

    Penelitian ini b ertujuan untuk mengungkap pemahaman makna tindak tutur terkait dengan konteks. Permasalahan yang diangkat meliputi: jenis -jenis tindak tutur, strategi pengutaraan, prinsip kerja sama, prinsip kesantunan, implikatur, daya pragmat i k, konsepsi penciptaan, dan dampak terhadap masyarakat. Mengingat permasalahan yang diungkap sangat kompleks, maka memerlukan berbagai sudut pandang dengan menggunakan ilmu -ilmu linguistik, ilmu komunikasi, ilmu seni p ertunjukan (estetika), dan budaya . Ilmu pragmatik menjadi perhatian utama dan cenderung menempatkan seni pertunjukan di dalam proses komunikatif, tidak hanya dianggap sebagai produk dan pernyataan melainkan juga sebagai produksi makna dan ucapan. Ilmu pragmatik adalah komunikasi makna yang terikat dengan konteks, mengkaji makna penutur meskipun tidak dikatakan atau ditulis, tetapi terjadi komunikasi yang baik antara penutur dan petutur. Tiga fokus perhatian kajian pragmatik yaitu : hubungan antara teks dengan sumbernya, menekankan dinamik pengucapan d an kesengajaan komunikatif; hubungan antara teks dengan teks -teks lain, yang menyangkut masalah konteks dan praktik intertekstual; dan hubungan antara teks dengan penerimanya, yang men yangkut tindak tutur dan interpretasi. Analis is tekstual dipisahkan menjadi dua bagian: ko -tekstual dan kontekstual . Pertama, analis is ko- tekstual terkait dengan keteraturan “internal” pada teks pertunjukan, (heterogenitas ekspresif, keragaman kode, durasinya yang hanya sementara, atau sifatnya tidak dapat diulang-ulang) , dan kedua, analisis kontekstual memperhatikan aspek-aspek “eksternal” pada teks pertunjukan, se lanjutnya dipisahkan menjadi konteks kultural dan konteks pertunjukan. Langendriya Mandraswara Mangkunegaran menggunakan komponen verbal dan komponen nonverbal, s ebagai media komunikasi antarpenari. Komponen verbal dalam bentuk bahasa Jawa berupa tembang macapat yang sangat terikat oleh konvensi- konvensi yang berlaku. Komponen verbal meliputi: je nis-jenis tindak tutur dan tindak tutur yang dominan, realisasi pengutaraan, prinsip kerja sama, prinsip kesantunan, implikatur, dan daya pragmatik. Implikatur dan daya pragmatik mencoba mengungkap pesan-pesan pendidikan, keadilan (hukum), dan budaya yang terbingkai dalam seni pertunjukan. Komponen nonverbal terdiri dari gerak tari, karawitan tari, rias-busana, properti, dan tata cahaya. Masing - masing medium memiliki kekuatan yang berbeda, namun dalam seni pertunjukan, kekuatan- kekuatan menjadi satu kesatua n yang utuh. Pengungkapan komponen verbal diperkuat oleh komponen nonverbal, sehingga lebih menarik, estetis, dan ekspresif, serta muncul makna yang baru. Bentuk penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Strategi yang digunakan a dalah studi kasus tunggal, karena penelitian ini terarah pada satu karakteristik tindak tutur “Ménakjingga Léna” pada seni pertunjukan Langendriya Mandraswara Mangkuneg aran. Pendekatan menggunakan kritik holistik dengan mengkaji tiga faktor utama yaitu faktor genetik, factor objektif, dan faktor afektif. Informasi atau perolehan data yang masih beragam, dikelompokkan menjadi tiga jenis faktor yaitu 1). Faktor genetik (latar belakang), yang berkaitan dengan latar belakang atau konsep dasar penciptaan dan pro ses pembentukkan jenis -jenis tindak tutur; 2). Faktor objektif (teks dalam seni pertunjukan Langendriya Mandraswara “Ménakjingga Léna” teks verbal dan nonverbal; 3). Faktor afektif (dampak, persepsi masyarakat). Analisis teks dilakukan secara menyeluruh da n saling berkaitan di antara tiga faktor tersebut, dan analisis akhir sebagai suatu simpulan makna pragmatik. Hasil temuan pada penelitian ini sesuai dengan rumusan masalah di antaranya adalah: jenis-jenis tindak tutur dan tindak tutur yang dominan yaitu direktif sebanyak 46,84% dari 301 jenis ; pengutaraan tindak tutur menggunakan tindak tutur langsung literal lebih dominan; tingkat pematuhan prinsip kerja sama khususnya maxim relevansi lebih banyak; tingkat pematuhan prinsip kesantunan tidak terjadi pela nggaran; implikatur banyak digunakan dengan tujuan agar mitra tutur tidak tersinggung, menyenangkan, dan sebagai bentuk penghormatan; daya pragmatik terdapat pesan -pesan tersirat yaitu pendidikan, agama, hukum, politik, dan budaya; konsepsi penciptaan bertolak dari perilaku kehidupan masyarakat dan nilai-nilai budaya Jawa; dampak sebagai pijakan “ruh” bagi para seniman dalam kekaryaan seni. Diharapkan hasil penelitian ini bisa memberikan kontribusi para peneliti muda sebagai wacana dalam penerapan teoretik maupun praktis. Selain itu, membuka wawasan yang lebih luas terhadap kritikus seni yang dapat dipercaya dan memiliki dasar untuk mempertanggung jawabkan hasilnya. Dengan demikian nilai -nilai budaya masa lampau diharapkan dapat terungkap secara menyeluruh dan dipakai sebagai cerminan kehidupan masa depan bangsa. Key words: Pragmatik , Tindak Tutur , Te ks , K onte ks , Impli katur, Daya Pragmati k, Genetik, Obje kti f, dan Afe kti f.

    Item Type: Thesis (PhD)
    Subjects: P Language and Literature > P Philology. Linguistics
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister
    Pasca Sarjana > Magister > Linguistik - S2
    Depositing User: Na'imatur Rofiqoh
    Date Deposited: 19 Jul 2013 11:45
    Last Modified: 19 Jul 2013 11:45
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/6985

    Actions (login required)

    View Item