TEKNIK PENYUTRADARAAN BUDI RIYANTO DALAM NASKAH LAKON “KELUARGA YANG DIKUBURKAN” KARYA AFRIZAL MALNA

Agustin, Corry (2010) TEKNIK PENYUTRADARAAN BUDI RIYANTO DALAM NASKAH LAKON “KELUARGA YANG DIKUBURKAN” KARYA AFRIZAL MALNA. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (2350Kb)

    Abstract

    Penelitian ini membahas bagaimana teknik penyutradaran Budi Riyanto sebagai bentuk penyutradaraan terhadap naskah lakon “Keluarga yang Dikuburkan” karya Afrizal Malna? Tujuan penelitian ini adalah untuk Mendeskripsikan teknik-teknik penyutradaraan Budi Riyanto sebagai bentuk penyutradaraan terhadap naskah lakon “Keluarga yang dikuburkan” karya Afrizal Malna. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah proses penyutradaraan dari awal hingga pertunjukan naskah lakon “Keluarga yang Dikuburkan” karya Afrizal Malna yang merupakan adaptasi bebas dari naskah lakon “The Buried Child” karya Sam Shepard. Adapun data untuk penelitian ini adalah teknik-teknik yang dilakukan oleh Budi Riyanto dari bulan Desember 2006 sampai November 2007 berkenaan dengan tugasnya sebagai seorang sutradara yang menyutradarai naskah lakon “Keluarga yang Dikuburkan” dan bentuk visualisasi pertunjukannya. Didukung data yang berupa artikel-artikel yang berhubungan dengan teater secara umum, ataupun artikel yang memuat pementasan tersebut, juga data-data lain berupa wawancara, buku-buku, majalah, dan artikel-artikel cyber dari internet. Teknik yang digunakan adalah (1) teknik pustaka, yaitu mengumpulkan data-data dengan membaca dan mempelajari buku yang mempunyai hubungan atau buku-buku yang dapat menunjang penulis dalam penelitian. (2) teknik observasi dan wawancara, teknik observasi yang dilakukan penulis adalah pengamatan lapangan, yaitu ketika proses latihan dan pementasan. Setelah teknik observasi, penulis melakukan teknik wawancara dan kemudian mencatat yang selanjutnya diinventarisasikan sebagai data yang diolah dalam penelitian. Berdasarkan analisis yang telah di sampaikan, maka diperoleh simpulan sebagai berikut: Teknik penyutradaraan yang digunakan Budi Riyanto dalam mengangkat naskah lakon “Keluarga yang Dikuburkan”, meliputi menentukan nada dasar, menentukan casting/ pemeranan, latihan (terdiri dari olah vokal, olah tubuh, olah rasa, reading, blocking), tata dan teknik pentas (tata setting/ruang, tata lampu, tata rias dan busana, dan tata musik), menguatkan atau melemahkan scene, menciptakan aspek-aspek laku, mempengaruhi jiwa pemain, koordinasi. Budi Riyanto mencoba mengangkat naskah lakon “Keluarga yang Dikuburkan” yang diadaptasi bebas dari “The Buried Child” karya Sam Shepard. Naskah lakon ini menceritakan berbagai masalah-masalah yang dialami oleh sebuah keluarga karena adanya kekacauan komunikasi. Budi Riyanto menggabungkan konsep realis dan bentuk-bentuk simbolis dengan tujuan mempermudah interpretasi penonton. Pementasan ini diperankan oleh enam orang aktor. aktor yang ikut dalam proses pementasan ini gabungan dari aktor yang sudah lama ikut berproses bersama Teater Tesa maupun baru (mahasiswa baru). Setiap aktor memiliki latar belakang yang berbeda dan kemampuan yang berbeda-beda dalam menangkap maksud dari naskah lakon tersebut. Untuk menghindari adanya ketidakseimbangan permainan, Budi Riyanto menggabungkan gaya penyutradaraan Gordon Craig dan Laisses Faire. Gaya penyutradaraan Gordon Craig merupakan gaya penyutradaraan yang mutlak, semua ide dan gagasan dari sutradara harus dilakukan oleh para aktor. Gaya penyutradaraan Laisses Faire adalah suatu gaya penyutradaraan yang memberikan kebebasan para aktor untuk lebih mengekspresikan diri. Budi Riyanto menerapkan gaya Gordon Craig untuk aktor-aktor yang belum memiliki “jam terbang” tinggi, sedangkan gaya Laisses Faire diterapkan pada aktor yang memiliki “jam terbang” tinggi. “jam terbang” setiap aktor ditentukan dari lamanya ia bergabung dengan Teater Tesa dan seberapa sering ia ikut dalam setiap proses pementasan yang diadakan oleh Teater Tesa. Meskipun menggunakan penggabungan gaya Gordon Craig dan Laisses Faire, Budi Riyanto juga mengadakan diskusi-diskusi dalam setiap kesempatan. Dari diskusi-diskusi ini dapat dilihat bahwa Budi Riyanto tidak selalu memaksakan kehendak (diktator). Budi Riyanto bersedia mendengarkan masukan dari orang lain, meskipun tidak semua masukan ia terima dengan berbagai pertimbangan.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: N Fine Arts > N Visual arts (General) For photography, see TR
    Divisions: Fakultas Sastra dan Seni Rupa
    Depositing User: Dyah Pratiwi
    Date Deposited: 18 Jul 2013 18:48
    Last Modified: 18 Jul 2013 18:48
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/6757

    Actions (login required)

    View Item