PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP SIARAN INFORMASI STASIUN TV LOKAL (Studi Hubungan Antara Faktor Psikologis, Faktor Kondisional, dan Faktor Demografis dengan Persepsi Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS Terhadap Siaran Informasi Stasiun Televisi Lokal Terang Abadi TV Solo)

PUTRI , PRAMANTI (2010) PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP SIARAN INFORMASI STASIUN TV LOKAL (Studi Hubungan Antara Faktor Psikologis, Faktor Kondisional, dan Faktor Demografis dengan Persepsi Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNS Terhadap Siaran Informasi Stasiun Televisi Lokal Terang Abadi TV Solo). Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (252Kb)

    Abstract

    Informasi sudah menjadi kebutuhan manusia yang esensial untuk mencapai tujuan. Informasi dianggap sebagai kebutuhan pokok layaknya sandang, pangan, papan, dan komoditas penting lainnya dalam kehidupan sosial, budaya, serta ekonomi. Karena melalui informasi, manusia dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di sekitarnya, memperluas cakrawala pengetahuannya, sekaligus memahami kedudukan serta peranannya dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara. Pentingnya manfaat informasi ini secara tidak langsung telah melahirkan masyarakat informasi yang tuntutan akan hak dalam mengetahui dan mendapatkan informasi semakin besar demi peningkatan kualitas hidup mereka. Sejalan dengan era revolusi informasi sekarang ini yang menuntut kecepatan informasi, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi ikut membawa implikasi terhadap dunia media massa, salah satunya dunia penyiaran di Indonesia. Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan atau sarana tranmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengn perangkat penerima siaran (Pasal 1 ayat 2 UU No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran). Penyiaran sebagai media penyalur informasi dan pembentuk pendapat umum, perannya semakin strategis, terutama dalam mengembangkan iklim demokrasi dalam berpendapat, menyampaikan dan memperoleh informasi di negara ini. Beberapa tahun lalu, ketika otoritarisme politik orde baru diwujudkan dalam bentuk monopoli televisi siaran, mungkin orang tidak akan menyangka dunia pertelevisian Indonesia akan berkembang sedemikian pesat seperti sekarang ini. Pergerakan reformasi tahun 1998 silam telah melahirkan euforia desentralisasi yang melahirkan perangkat perundang-undangan yang mengatur desentralisasi politik berupa otonomi daerah (Setiyakarya, 2010). Akan tetapi, reformasi Mei 1998 rupanya tidak saja membawa angin segar bagi dunia perpolitikan, tetapi juga suasana baru bagi industri media Indonesia, yakni dengan dilahirkannya perundang-undangan yang meregulasi desentralisasi penyiaran. Pemerintah telah menyadari bahwa hukum pengaturan penyiaran tidak lagi memadai dengan pesatnya perkembangan komunikasi dan informasi. Kini, masyarakat Indonesia diberikan berbagai pilihan tontonan di layar kaca, tidak lagi hanya terpaku pada stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI) yang sebagian besar acaranya hanyalah bentuk lain dari penyuluhan program-program pembangunan pemerintah. Khusus untuk industri penyiaran televisi, ternyata tidak sekedar terbukanya kesempatan untuk menambah jumlah stasiun televisi swasta nasional, tetapi juga bermunculan berbagai gerakan di daerah untuk mendirikan stasiun televisi lokal. Alasannya ialah untuk menumbuhkan kelokalan dan nuansa keberagaman yang selama orde baru terberangus. Sedangkan stasiun televisi lokal merupakan stasiun penyiaran dengan wilayah siaran terkecil yang mencakup satu wilayah kota atau kabupaten (Morissan, 2008:105). Karena itulah dibentuk Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran yang mengamanatkan realisasi Sistem Stasiun Berjaringan (SSB), seperti yang dituangkan dalam Pasal 31 ayat 1: (UU No.32 Tahun 2002) “Lembaga penyiaran yang menyelenggarakan jasa penyiaran radio atau jasa penyiaran televisi atas stasiun penyiaran jaringan dan atau stasiun penyiaran lokal”. Berbagai informasi tentang daerah yang tidak terekspose oleh media nasional mendasari kehadiran media televisi lokal di berbagai daerah. Kehadiran televisi lokal menambah variasi atau pilihan bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi, hiburan, dan pendidikan. Hal ini sesuai dengan amanat Undang- Undang Penyiaran No. 32 tahun 2002 yang lebih menitikberatkan pada partisipasi dan kontrol masyarakat serta pemberdayaan institusi lokal. Tujuan UU Penyiaran No.32 tahun 2002 yang mengatur tentang Stasiun Siaran Berjaringan (SSB) adalah untuk meletakkan pondasi bagi sistem penyiaran, yang telah membawa perubahan paradigma dari semula sangat sentralistik, menjadi desentralistis. Agar daerah dapat menikmati manfaat yang lebih baik dari ranah penyiaran, baik di wilayah isi siaran (diversity of content) maupun di wilayah bisnis ekonomi penyiaran (diversity of ownship). Makna dari UU ini adalah untuk memberikan keleluasaan untuk pembangunan ekonomi, kesejahteraan masyarakat di daerah. Juga, agar penyiaran tidak terkonsentrasi di pusat (Setiyakarya, 2010). Semenjak disahkannya Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran ini pada tanggal 28 Desember 2002 oleh Presiden Republik Indonesia, Megawati Soekarno Putri, maka terbukalah kesempatan daerah-daerah di Indonesia untuk memiliki televisi lokal sendiri. Menurut Pasal 6 Undang-Undang Penyiaran ayat (3) disebutkan bahwa: (UU No.32 Tahun 2002) “Dalam sistem penyiaran nasional terdapat lembaga penyiaran dan pola jaringan yang adil dan terpadu yang dikembangkan dengan membentuk stasiun jaringan dan stasiun lokal”. Dari aturan tersebut jelas menyebutkan bahwa ada pembaharuan tentang penyiaran nasional. Lebih lanjut juga, telah diatur dalam pasal 13 ayat (1) dan (2) yang menyatakan tentang lembaga penyiaran yang terdiri dari penyiaran radio dan televisi, diselenggarakan oleh Lembaga Penyiaran Publik; Lembaga Penyiaran Swasta; Lembaga Penyiaran Komunitas; dan Lembaga Penyiaran Berlangganan. Jadi jelas, dengan diundangkannya Undang-Undang Penyiaran tersebut, daerah- daerah mempunyai legitimasi untuk memiliki televisi lokal, menyusul kewenangan yang sebelumnya dimiliki daerah untuk mempunyai radio-radio lokal. Pembahasan yang cukup panjang selama kurang lebih tiga tahun, membuat undang-undang yang digodok dengan susah payah oleh pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat, bersama dengan seluruh elemen masyarakat, ternyata membuahkan hasil yang baik. Salah satunya, pengakuan atas media penyiaran lokal dan komunitas yang tertuang dalam pasal di UU Penyiaran tersebut, praktis menjadi nilai lebih dan merupakan sejarah baru bagi dunia penyiaran kita. Sehingga, tidak berlebihan rasanya jika pertumbuhan media yang cukup pesat dalam area reformasi saat ini menjadi pendamping utama masyarakat kita untuk mewujudkan proses demokratisasi yang sesungguhkan. Sebab, media merupakan salah satu pilar kekuatan republik ini. Dan televisi lokal pun menjadi salah satu unsur penegak pilar tersebut (www.atvli.com, 2010). Efek dari UU Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 membuat stasiun televisi lokal di berbagai daerah menggeliat dan turut memberi warna baru bagi dunia pertelevisian di Indonesia. Perkembangan televisi lokal di Indonesia selama 10 tahun terakhir sampai tahun 2005, mengalami peningkatan yang signifikan. Setelah dunia pertelevisian kita didominasi oleh beberapa stasiun TV swasta nasional dan satu stasiun TV publik, sekarang melaju pesat dengan adanya penambahan secara bertahap stasiun televisi lokal baru yang kini mencapai sekitar 86 stasiun tersebar di lebih dari 50 kota besar dan di hampir semua provinsi di Indonesia (www.atvli.com, 2010). Menurut data Asosiasi Televisi Lokal Indonesia (ATVLI), saat ini televisi lokal yang sudah menjadi anggota ATVLI telah bertambah sebanyak 29 stasiun televisi lokal. Stasiun-stasiun televisi swasta lokal tersebut adalah: Riau TV, Batam TV, Sri JunjunganTV-Bengkalis, JAKTV-Jakarta, Jogja TV, TV Borobudur-Semarang, JTV-Surabaya, Bali TV, Lombok TV, Publik Khatulistiwa TV-Bontang, Gorontalo TV, Makassar TV, Terang Abadi TV-Surakarta, Bandung TV, O’ Channel-Jakarta, Space Toon TV Anak-Jakarta, Cahaya TV-Banten, Megaswara TV-Bogor, Cakra TV-Semarang, Cakra Buana Channel-Depok, Pal TV-Palembang, Kendari TV, Tarakan TV, Manajemen Qolbu TV-Bandung, Ratih TV-Kebumen, Ambon TV, Sriwijaya TV-Palembang, Aceh TV dan Padjadjaran TV-Bandung (www.atvli.com, 2010). Terang Abadi TV (TATV) hadir sebagai televisi lokal pertama dan satu- satunya bagi masyarakat Solo dan sekitarnya. Jangkauan siarnya sampai saat ini sudah mencapai wilayah Kota Surakarta (Solo); DIY Yogyakarta, meliputi Kota Yogyakarta, Kab. Sleman, Kab. Bantul, Kab. Kulon Progo, Kab. Gunung Kidul; Kab. Magelang; Kab. Klaten; Kab. Boyolali; Kab. Wonogiri; Kab. Sukoharjo; Kab. Karanganyar; Sebagian Pati; Kudus; Wonosobo; Temanggung dan Ngawi (www.tatv.co.id, 2010). TATV sendiri berdiri pada tanggal 1 September 2005. Dengan hadirnya TATV, diharapkan dapat membangun pola berpikir masyarakat supaya lebih baik lagi, sehingga dapat membangun manusia Indonesia seutuhnya. Dengan Berslogan TATV MANTEB (Masa Kini dan Tetap Berbudaya), TATV menjadi televisi yang memberikan hiburan–hiburan yang menarik serta mengangkat informasi dari daerah–daerah dan tidak ketinggalan pula budaya daerah. Dibuktikan, TATV sampai saat ini memiliki porsi content program lokal 60 persen dan universal 40 persen (www.tatv.co.id, 2010). TATV memiliki visi untuk menjadi televisi yang memberi pencerahan pada paradigma berpikir dan berperilaku bagi pemirsa dan masyarakat, menuju pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Serta misi memberi sumbangsih yang berarti guna kemajuan daerah dan masyarakat permirsa dalam segala bidang kehidupan, melalui perubahan paradigma berpikir dan berperilaku (www.tatv.co.id, 2010). Ada beberapa alasan mengapa televisi lokal memungkinkan memiliki daya tarik, misalnya, karena adanya unsur kedekatan (proximity) emosional setiap program yang ditawarkan dengan kognisi warga masyarakat setempat. Jarak terjadinya suatu peristiwa dengan tempat dipublikasinya peristiwa, juga mempunyai arti penting. Khalayak akan tertarik untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan langsung dengan kehidupannya dan lingkungannya (Riswandi, 2009:109). Bahkan ada ungkapan “one local death is worth -in term of news interest- five elsewhere in the state, twenty elsewhere in the country, and hundreds elsewhere in the world” (Tuggle, C.A dikutip Morissan,2008:20). Kehadiran televisi lokal sangat berpengaruh bagi masyarakat lokal yang memang membutuhkan informasi yang bersifat lokal. Dibungkus dengan kemasan lokal yang kental, televisi lokal berupaya mempersembahkan yang terbaik bagi masyarakat dengan kearifan lokal yang berbeda-beda. Seperti yang ditegaskan oleh Mantan Menteri Infokom Sofyan Djalil, keberadaan televisi lokal diharapkan menjadi sarana untuk meningkatkan akses informasi masyarakat di daerah. Juga bisa mengembangkan potensi daerah sehingga menjadi lebih maju dan sejahtera melalui pengembangan perekonomian rakyat dan meningkatkan pendidikan politik publik (Bali Post, 26 Juli 2005). Kebanyakan tayangan di televisi swasta nasional sekarang berorientasi Jakarta sentris. Itu pun hanya 20 persen isi tayangan televisi yang bermuatan pendidikan dan informasi dan 80 persen sisanya adalah hiburan. Tayangan televisi nasional lebih banyak berisi budaya massa dan mengabaikan budaya lokal (Kompas, 29 Desember 2009). Tak banyak budaya dan gaya hidup daerah yang tergali melalui televisi nasional. Dengan adanya televisi lokal, menguntungkan masyarakat daerah. Pertama, televisi lokal berperan sebagai filter atas budaya yang kurang sesuai dengan nilai-nilai daerah. Pada saat yang bersamaan, budaya daerah juga memperoleh ruang untuk dilestarikan (Pikiran Rakyat,18 Desember 2009). Tayangan televisi lokal yang bermaterikan sosial, budaya, pariwisata, ekonomi, dan unsur kedaerahan lainnya tentunya menjadi suatu kebutuhan bagi seluruh lapisan masyarakat, demi mempercepat pembangunan setempat. Televisi lokal dapat mengangkat budaya dan kearifan lokal yang hidup berkembang di masyarakat, sehingga akan terjadi proses pembelajaran dan penanaman nilai-nilai positif budaya lokal. Seperti halnya media massa lain, televisi lokal memiliki kekuatan sebagai penggerak ekonomi dan pelestarian kebudayaan. Karena itu, televisi lokal hendaknya tidak hanya mengacu pada idealisme komersial, seperti yang telah dianut televisi-televisi komersial nasional. Pengelola media penyiaran lokal harus berpikir secara lokal. Ini harusnya menjadi suatu kekuatan dan sumber keuntungan pengelola media penyiaran lokal dibandingkan dengan media penyiaran nasional. Orang cenderung akan lebih tertarik terhadap apa yang terjadi pada masyarakat atau lingkungan mereka sendiri. Program acara bermuatan lokal pada umumnya menjadi primadona televisi lokal. Nickesia Stacy Ann Gordon mengemukakan: (Stacy, 2009:7) local programming appears to be the preferred televisual choice where the geo-linguistic contextallows, it is important to note that in the media marketplace, that which scholars identify as cultural proximity, television executives see as a great business opportunity. That is to say, with the recognition that local audiences tend to prefer culturally proximate programmes, executives have come to understand the value of localization through programme modeling (program lokal tampaknya menjadi pilihan televisi di mana konteks geo-linguistik memungkinkan, penting untuk dicatat bahwa dalam pasar media, yang mana para sarjana mengidentifikasikannya sebagai kedekatan budaya, para pebisnis televisi melihatnya sebagai peluang bisnis yang besar. Artinya, dengan pengakuan bahwa penonton lokal cenderung memilih program budaya proksimat, para pebisnis telah mengerti nilai lokalisasi melalui program pemodelan) Namun, dalam konteks arus perubahan zaman yang demikian cepat, menghadirkan dan mengangkat kembali budaya daerah bukan hal mudah. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para penyelenggara dan pengelola stasiun televisi lokal untuk mampu menghadirkan program-program acara yang sarat nilai lokal tetapi tampil menarik bagi khalayaknya. Tentu saja bukanlah hal yang mudah bagi televisi lokal untuk dapat menghadirkan program-program acara yang bernilai budaya lokal, tetapi tetap menarik di mata penonton terutama bagi kelompok remaja yang pada umumnya berkiblat ke Barat. Padahal jika bisa membujuk kelompok remaja, sesungguhnya mereka adalah sasaran pasar yang potensial, karena rata-rata dari mereka menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menonton televisi. Merujuk pada kebijakan internal TATV, stasiun ini menggolongkan target audiens berusia remaja sebesar 20 persen dan muda sebesar 30 persen, diikuti usia dewasa sebesar 40 persen dan anak-anak sebesar 10 persen (www.tatv.co.id, 2010). Oleh karena itu, untuk dapat menciptakan tayangan acara yang menarik dan menghadirkan televisi lokal yang diminati bagi para remaja, perlu diketahui bagaimana pendapat, tanggapan, serta penilaian mereka. Vane-Gross menyatakan, petunjuk yang dapat digunakan untuk menentukan apakah suatu program telah melewati masa puncaknya adalah dengan mendengarkan pandangan kelompok audien anak muda. Alasannya, audien anak muda dapat dijadikan patokan karena selera mereka yang berubah-ubah dan gampang jenuh dengan suatu acara. Sementara dari segi jumlah, kelompok audien anak muda adalah yang paling besar (Morissan, 2008:336). Tentu saja penilaian dan tanggapan yang diberikan akan beragam, setiap individu mempunyai penilaian yang berbeda terhadap suatu hal. Terh

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi
    Depositing User: Budianto Erwin
    Date Deposited: 18 Jul 2013 17:53
    Last Modified: 18 Jul 2013 17:53
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/6575

    Actions (login required)

    View Item