EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DAN PROBLEM POSING DITINJAU DARI KEAKTIFAN BELAJAR SISWA

Rejeki, Sri (2011) EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DAN PROBLEM POSING DITINJAU DARI KEAKTIFAN BELAJAR SISWA. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (593Kb)

    Abstract

    Pendidikan merupakan suatu kekuatan yang dinamis dalam kehidupan setiap manusia yang dipengaruhi oleh seluruh aspek kehidupan dan kepribadian seseorang. Dengan kedinamisannya, pendidikan selalu menuntut adanya perubahan-perubahan dan perbaikan secara terus-menerus. Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang dapat menghasilkan output atau lulusan yang memiliki kemampuan dasar yang dapat menjadi pelopor dalam pemahaman. Matematika adalah salah satu pelajaran mendasar yang diajarkan di sekolah. Matematika sebagai ilmu yang bersifat deduktif, dalam hal ini sebagai ilmu eksakta, untuk mempelajarinya tidak cukup hanya dengan hafalan dan membaca, tetapi memerlukan pemikiran dan pemahaman. Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang sangat berguna untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini selaras dengan apa yang dikemukakan Ignacio (2006: 16), “Learning mathematics has become a necessity for an individual’s full development in today’s complex society” . Belajar matematika sudah menjadi kebutuhan bagi kemajuan seseorang di masyarakat kita yang kompleks sekarang ini. Sudah sejak dulu rendahnya prestasi belajar matematika siswa menjadi salah satu kekhawatiran di banyak negara termasuk Indonesia Sejauh ini, Indonesia masih belum mampu lepas dari deretan penghuni papan bawah. Menurut penelitian Trends in International Mathematics and Science Study (TIMMS) tahun 2007 matematika Indonesia berada di peringkat 36 dari 48 negara (data UNESCO). Sementara berdasarkan hasil Programme for International Student Assesment (PISA) 2006, kualitas pembelajaran Indonesia berada pada peringkat 50 dari 57 negara untuk bidang matematika (www.sampoerna foundation.org). Menurut data yang diperoleh dari UPTD Pendidikan Kecamatan Grobogan, hasil ujian nasional SD Negeri se kecamatan Grobogan pada tahun ajaran 2007/2008 dan 2008/2009 menunjukkan bahwa nilai rata-rata Matematika berada pada posisi ketiga setelah Bahasa Indonesia dan IPA. Pada tahun ajaran 2007/2008 nilai rata-rata Bahasa Indonesia sebesar 7,25, IPA sebesar 6,91 dan Matematika sebesar 6,11. Pada tahun ajaran 2008/2009 nilai rata-rata Bahasa Indonesia sebesar 7,15, IPA sebesar 6,87 dan Matematika sebesar 5,91. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam matematika dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendahnya prestasi belajar matematika siswa adalah ketakutan siswa terhadap matematika. Murat Peker (2008) mengatakan bahwa: “Students’ low success level in mathematics has been a worry for a long time in many countries. There are a lot of factors affecting success in mathematics. One of these factors is students’ mathematical anxiety, in other words, their mathematical fear” . Sudah sejak dulu rendahnya prestasi belajar matematika siswa menjadi salah satu kekhawatiran di banyak negara. Banyak faktor yang mempengaruhi kesuksesan belajar matematika. Salah satu dari faktor tersebut adalah ketakutan pada matematika. Guru juga merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam prestasi belajar siswa. Kualifikasi pendidikan guru, kemampuan guru dalam mengajar sangatlah penting. Pemilihan pendekatan pembelajaran dalam pembelajaran matematika oleh guru juga sangat menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Pada dasarnya pendekatan pembelajaran yang tepat akan menjadikan siswa mengerti dan memahami secara optimal dalam suatu pembelajaran. Banyak guru matematika yang menggunakan waktu pelajaran dengan kegiatan membahas tugas-tugas yang lalu, memberikan pelajaran baru, dan memberikan tugas lagi kepada siswa. Pembelajaran tersebut dapat dikategorikan sebagai hal yang membosankan, membahayakan dan merusak minat siswa. Pengelolaan proses pembelajaran yang efektif akan menjadi titik awal keberhasilan pembelajaran yang muaranya akan meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya matematika. Di era baru terdapat berbagai pendekatan pembelajaran di mana akan menempatkan kegiatan pembelajaran sebagai sesuatu yang identik dengan aktivitas siswa secara optimal, tidak cukup dengan mendengar dan melihat, tetapi harus dengan hands-on, mindson, konstruktivistik, dan daily life (kontekstual). Dari banyak pendekatan pembelajaran yang berkembang saat ini diantaranya adalah dengan CTL (Contextual Teaching and Learning) dan Problem Posing. CTL adalah pendekatan pembelajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang 'real' bagi siswa, menekankan keterampilan 'process of doing mathematics', berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri ('student inventing' sebagai kebalikan dari 'teacher telling') dan pada akhirnya menggunakan matematika itu untuk menyelesaikan masalah baik secara individu maupun kelompok. Sedangkan Problem Posing adalah suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika dimana siswa diminta untuk merumuskan, membentuk dan mengajukan pertanyaan atau soal dari situsi yang disediakan. Situasi dapat berupa gambar, cerita, atau informasi lain yang berkaitan dengan materi pelajaran. Poincare (1948) dalam Silver (1997) mengemukakan, Mathematicians may solve problems that have been posed for them by others or may work on problems that have been identified as important problem in the literature, but it is more common for them to formulate their own problems, based on their personal experience and interest. Dalam matematika, siswa biasanya memecahkan soal-soal yang diberikan oleh guru atau yang sudah terdapat di dalam buku. Akan tetapi siswa akan lebih memahami suatu materi apabila mereka memformulasikan soal sendiri berdasarkan pengalaman mereka. Selain dengan pendekatan pembelajaran yang tepat, keaktifan siswa selama proses pembelajaran juga perlu mendapat sorotan. Sistem kurikulum sekarang ini menuntut siswa aktif baik rohani maupun jasmani. Jadi dalam belajar matematika agar bermakna tidak cukup hanya dengan mendengar dan melihat tetapi harus melakukan aktivitas (membaca, bertanya, menjawab, berkomentar, mengerjakan, mengkomunikasikan, presentasi, diskusi). Dengan pembelajaran yang menuntut keaktifan siswa diharapkan dapat mempengaruhi cara berfikir siswa sehingga berujung pada peningkatan prestasi belajarnya. Salah satu pokok bahasan dalam mata pelajaran matematika yang dipelajari siswa SD kelas V adalah operasi hitung bilangan bulat. Pada pokok bahasan ini siswa akan belajar tentang membaca dan menulis bilangan bulat, menjumlah dan mengurang, mengali dan membagi dan pengerjaan hitung campuran. Kesulitan yang dialami siswa dalam pokok bahasan ini biasanya adalah mereka sukar mengerjakan operasi bilangan yang menyertakan bilangan negatif, baik pada penjumlahan, pengurangan, perkalian maupun pembagian karena biasanya guru mengajarkan materi ini dengan memberikan rumus-rumus sebagai patokan dalam mengerjakan operasi-operasi bilangan sementara siswa tidak memahami maknanya. Kesulitan lain yang dialami siswa adalah mereka cenderung menghafal rumus dan contoh soal, sehingga apabila diberi soal yang berbeda dengan contoh soal, mereka akan merasa kesulitan. Maka diperlukan pendekatan yang tepat agar siswa lebih mudah mempelajari pokok bahasan ini.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: Q Science > Q Science (General)
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister > Pendidikan Matematika - S2
    Depositing User: Users 832 not found.
    Date Deposited: 18 Jul 2013 17:52
    Last Modified: 18 Jul 2013 17:52
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/6568

    Actions (login required)

    View Item