BALE PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI DI DUREN SAWIT DENGAN PENDEKATAN FLEKSIBILITAS RUANG

Sari, Damar Adhika (2010) BALE PENGEMBANGAN ANAK USIA DINI DI DUREN SAWIT DENGAN PENDEKATAN FLEKSIBILITAS RUANG. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (115Kb)

    Abstract

    1. Jakarta Kota Metropolis Sebagai ibukota Negara Indonesia, Jakarta memiliki magnet yang kuat dalam menarik masyarakat dari berbagai macam daerah untuk memadati kota tersebut. Menurut Kusumawijaya (2004), kota itu sebagai metropolis yang menawarkan kesempatan kosmopolitan, banyak kecintaan yang diberikan banyak orang kepada kota ini, namun tidak sedikit pula yang menebar kebencian, penyesalan dan keputus asaan. Metropolis yang memberikan kelengkapan fasilitas, infrastruktur, kemudahan akses baik secara internal (dalam kota) maupun eksternal (luar kota), kemewahan hidup, sentral kekuasaan, sumber informasi yang cepat dan akurat, serta impian lain yang menjadi sebuah pengharapan bagi tiap individu yang menjadikan Jakarta menjadi kota tujuan hidup mereka. Kehidupan kota Jakarta yang bersifat kosmopolitan menjadikan kota tersebut tidak tentu, bahkan menimbulkan kecemburuan di kota-kota lain yang belum berkembang, hingga akhirnya faktor ini pula yang menarik para urban untuk menempa hidup di Jakarta. Ketidak tentuan kota identik dengan kemerosotan sosial, ketidakseimbangan hak yang dimiliki oleh masing-masing individu warga Jakarta. Warga miskin menjadi objek penderita dalam ketidaktentuan kota. Ketidakberdayaan mereka bukan menjadi kesalahan Pemerintah sepenuhnya atas ketidakmampuan mengatasi permasalahan hidup mereka. Dalam Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan: “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”. Implementasi dari UU tersebut perlu dikaji kembali dalam sebuah akar permasalahan. 2. Pendidikan sebagai Tonggak Keberhasilan Suatu Bangsa Pendidikan menjadi faktor terpenting dalam kemajuan suatu bangsa, melalui pendidikan manusia belajar menjadi individu berkualitas, terdidik, kreatif dalam berkarya serta memiliki keluwesan tersendiri dalam beradaptasi dengan lingkungan. Kesempatan masyarakat miskin untuk menyekolahkan anak mereka masih tergolong kecil, sehingga dapat dikatakan pendidikan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang berkehidupan mapan. Bantuan Pemerintah yang diberikan bagi MBR agar pendidikan dapat mereka peroleh belum mencapai sasaran yang tepat. Seperti dalam kasus dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang tidak turun dalam jumlah yang semestinya, buku-buku pelajaran terus diproduksi tiap tahun dengan format yang berbeda namun isi tetap sama, hal ini membingungkan murid untuk mengikuti pelajaran, dengan otomatis hal tersebut menjadi pemaksaan bagi murid untuk membeli buku setiap tahun. Pemerintah mengusulkan program PAUD dalam lingkup pelayanan RW. PAUD tersbut diperuntukkkan bagi balita usia prasekolah. Dalam realita program ini dimandatkan oleh ketua RW yang kemudian dijalankan oleh ibu-ibu PKK, pendanaan yang diberikan Pemerintah sangat minim, sehingga pengelola PAUD harus cerdik dalam menggalang dana. Selama observasi dilakukan, banyak hal yang masih menjadi pertanyaan, apakah mungkin dari program yang Pemerintah buat juga untuk memandirikan masyarakat dengan keterbatasan mereka? Apakah maksud dan tujuan itu tersampaikan dan dipahami bagi mereka yang untuk memikirkan ’perut’ saja masih sulit? Menurut Prasetyo (2009), kepribadian suatu bangsa tergambarkan dari pendidikan, dimana seharusnya pendidikan menjadi hak setiap orang untuk menikmatinya2 . Dengan demikian, sudah seharusnya pendidikan menjadi lentera dikegelapan, setitik air di kegersangan, dan mudah untuk didapatkan oleh siapapun, baik kaya, menengah ataupun miskin. 3. Strategi untuk Anak Usia Dini golongan MBR untuk Tetap Bersekolah Telah banyak sekolah-sekolah usia dini dibangun dan digunakan untuk ajang mendidik anak-anak usia dini. Berbagai macam program pendidikan dan kurikulum dibuat untuk memaksimalkan potensi yang anak miliki. Pemerintah membuat kurikulum tersendiri untuk dapat dijadikan contoh bagi sekolah-sekolah yang berdiri secara informal. Namun terdapat pula sekolah informal yang menciptakan program pendidikan dan kurikulum tidak mengacu pada apa yang dibuat oleh Pemerintah untuk mengembangkan kurikulum baru yang menurut mereka, kurikulum saat ini tidak cocok untuk perkembangan intelektual anak. Fenomena yang terjadi saat ini, anak-anak usia dini (pada taraf umur 4-6 tahun) sudah diajarkan membaca, bahkan standart keberhasilan bagi sekolah usia dini adalah keberhasilan anak dalam membaca dan menulis. Tahap memasuki SD saat ini pun terdapat 2 Eko Prasetyo, Orang Miskin Dilarang Sekolah, 2009 ujian baca-tulis, padahal menurut Dinar (2008), kriteria yang digunakan untuk menentukan tugas-tugas perkembangan anak usia dini bersumber pada tiga hal, yaitu kematangan fisik, tuntutan masyarakat, serta norma pribadi. Adapun tugas-tugas perkembangan anak usia dini (0-6 tahun) adalah sebagai berikut (Gunarsa, 1982): a. berjalan b. belajar memakan makanan keras c. belajar berbicara d. belajar untuk mengatur gerak-gerik tubuh e. belajar mengenal perbedaan jenis kelamin dengan ciri-cirinya f. mencapai stabilitas fisiologis g. membentuk konsep sederhana tentang realitas sosial dan fisik h. belajar melibatkan diri secara emosional dengan orang tua, saudara, maupun orang lain i. belajar membentuk konsep tentang benar-salah sebagai landasan membentuk nurani. Kecenderungan anak mejadi malas sekolah karena tugas-tugas yang mereka dapatkan menjadi beban bagi mereka. Pembaharuan akan kurikulum baru dalam pendidikan prasekolah sangat diperlukan untuk mencetak anak-anak kreatif dan mandiri. Permasalahan yang dihadapi bagi MBR untuk bersekolah adalah biaya. Dengan demikian harus direncanakan strategi agar MBR tetap mampu bersekolah. Rencana strategi yang akan diterapkan adalah subsidi silang dan pemasukan uang lain diluar jalur sekolah. Penerapan subsidi silang membutuhkan kurikulum yang mampu menarik anak didik dari kelompok ekonomi menengah ke atas yang ingin bersekolah di BPAUD. Pemasukan uang yang tidak dari jalur sekolah adalah pengadaan ruang-ruang yang dapat disewa masyarakat, sehingga biaya sewa tersebut dapat menjadi pendanaan anak didik yang tidak mampu. 4. Ruang Publik sebagai Media Informasi mengenai Kondisi Anak Usia Dini di Duren Sawit Dalam periode pertumbuhan anak dimasa golden age, proses pembelajaran anak cenderung menyerap apa yang dia lihat. Tanpa mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Faktor lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan anak usia dini baik makro maupun mikro. Lingkungan mikro berupa keluarga yang menjadi dominan dalam perkembangan psikologi anak, sedangkan lingkungan makro adalah lingkungan masyarakat yang berada disekitar tempat tumbuh-berkembang anak. Sedikit banyak lingkungan makro ini menyumbang karakter dari kepribadian anak. Dalam dunia pendidikan anak usia dini, peran orang tua sangat dilibatkan dalam proses pembelajaran. Hal tersebut bertujuan mensinergikan pola asuh antara orang tua dan institusi pendidikan, sehingga anak senantiasa dapat terpantau di rumah maupun disekolah. Namun bagaimana dengan lingkungan makro yang juga menjadi pengaruh bagi perkembangan anak usia dini? Untuk itulah diperlukan sarana informasi yang mengkomunikasikan kebutuhan dan kondisi anak usia dini khususnya bagi kalangan MBR. Wadah untuk menampung kebutuhan ini berupa ruang publik. 5. Strategi Mewadahi Berbagai Aktivitas dengan Fleksibilitas Ruang Dalam merancang BPAUD dibutuhkan pertimbangan yang menyangkut kompleksitas kegiatan yang berlangsung di BPAUD, kondisi eksisting luasan tapak yang terbatas serta keefisienan penggunaan ruang. Selain itu, prediksi jumlah anak usia dini yang akan bertambah tiap tahunnya, memungkinkan jumlah anak didik dalam BPAUD ini pun menjadi bertambah. Sehingga dibutuhkan penambahan ruang yang mewadahi kegiatan mereka. Jika ruang-ruang tersebut diadakan dari awal perancangan menjadi tidak efisien dan bersifat useless. Dengan demikian dibutuhkan ruang-ruang yang bersifat fleksibel, yang mudah disesuaikan dengan kebutuhan ruang. Fleksibilitas ruang sangat berkaitan dengan kemudahan user dalam mengemas atau merubah suatu ruang yang berfungsi sesuai dengan kegiatannya.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General)
    Divisions: Fakultas Teknik
    Fakultas Teknik > Arsitektur
    Depositing User: Budianto Erwin
    Date Deposited: 18 Jul 2013 17:46
    Last Modified: 18 Jul 2013 17:46
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/6543

    Actions (login required)

    View Item