PENGARUH PENAMBAHAN MOLASE DALAM BERBAGAI MEDIA PADA JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus)

Steviani, Susi (2011) PENGARUH PENAMBAHAN MOLASE DALAM BERBAGAI MEDIA PADA JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus). Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (593Kb)

    Abstract

    Jamur merupakan tumbuhan yang tidak berklorofil yang banyak dijumpai di alam. Jamur dapat hidup di tanah maupun pada kayu yang telah lapuk dan biasanya banyak ditemukan pada musim penghujan. Pada saat ini jamur semakin digemari banyak orang sebagai bahan makanan serta obat-obatan. Di antara beberapa jamur yang terdapat di alam yang cukup populer adalah jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus). Disebut jamur tiram atau oyster mushroom karena bentuk tudungnya agak membulat, lonjong dan melengkung seperti cangkang tiram. Batang atau tangkai jamur ini tidak tepat berada di tengah tetapi letaknya agak lateral (di bagian tepi)(Cahyana et al., 1999). Jamur tiram adalah jenis jamur kayu yang memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur kayu lainnya. Jamur tiram mengandung protein, lemak, fosfor, besi, thiamin, dan riboflavin lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur lain. Jamur tiram mengandung 18 macam asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh manusia dan tidak mengandung kolesterol (Djarijah dan Djarijah, 2001). Selain itu jamur tiram juga mempunyai kemampuan sebagai tanaman obat, di antaranya mengandung retene, yaitu substrat yang dapat menghambat pertumbuhan tumor (Buswell dan Chang, 1993). Ekstrak jamur tiram putih mempunyai kemampuan membentuk interferon yang berfungsi sebagai antivirus atau mekanisme pertahanan terhadap virus dan penyakit serta memiliki kemampuan untuk menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh (Bano dan Rajaratnam, 1989). Adanya berbagai manfaat dari jamur tiram, maka dewasa ini jamur tiram mulai dilirik untuk dibudidayakan secara besar-besaran dengan tidak mengandalkan media tanam berupa batang pohon yang dinilai tidak efisien melainkan dengan memanfaatkan limbah yang berada di masyarakat seperti serbuk kayu, jerami padi, alang-alang,toampas tebu, kulit kacang, sabut kelapa, dan sisa kertas. Namun sejauh ini, para pengusaha dan petani jamur lebih suka menggunakan media tanam dari serbuk kayu (gergajian) karena bahan baku tersebut mudah didapatkan dan harganya relatif murah (Soenanto, 2000). Serbuk kayu digunakan sebagai tempat tumbuh jamur karena mengandung serat organik (selulosa, serat dan lignin). Kandungan tersebut dapat mempercepat pertumbuhan jamur. Kayu yang sering digunakan adalah kayu sengon (Albasia falcata) namun, kayu akasia (Acacia confusa) dan kayu glugu (Cocos nucifera) juga baik untuk dijadikan bahan media tumbuh jamur tiram. Menurut Suriawiria (2000) pemilihan kayu sengon dikarenakan kayu tersebut mempunyai serat yang kasar, mudah lapuk, dan mempunyai kandungan nutrisi yang tinggi sehingga baik untuk digunakan sebagai media tanam jamur tiram. Adapun kayu akasia dan glugu dipakai sebagai media tanam jamur tiram karena kayu tersebut termasuk jenis kayu yang berumur lebih dari 10 tahun dan bukan jenis kayu yang mengandung minyak, sehingga juga berpotensi untuk dijadikan bahan media jamur tiram (Djarijah dan Djarijah, 2001). Pertumbuhan jamur juga dipengaruhi oleh macam nutrisi yang diberikan, di antaranya adalah penambahan vitamin B-kompleks dalam bentuk bekatul, mikroelemen (misalnya Fe dan Mg) dalam bentuk molase (Suriawiria, 2000) yang dicampur dengan bahan baku media tanam yang lain. Molase (black strap) merupakan limbah cair yang berasal dari sisa-sisa pengolahan tebu menjadi gula. Molase ternyata memiliki kandungan zat yang berguna. Zat-zat tersebut antara lain kalsium, magnesium, potasium, dan besi. Molase memiliki kandungan kalori yang cukup tinggi, karena terdiri dari glukosa dan fruktosa. Berbagai vitamin pun banyak terkandung di dalamnya (Pramana, 2006). Alasan penggunaan molase sebagai bahan campuran pada berbagai serbuk gergaji dalam pembuatan media jamur adalah untuk memanfaatkan limbah yang sangat banyak khususnya di Surakarta, Jawa Tengah yang mempunyai beberapa pabrik gula. Meskipun hanya mengandung gula dalam jumlah sedikit, molase dapat meningkatkan berat segar jamur dan masa periode panen (Pamungkas, 2000). Adanya senyawa gula yang terkandung dalam molase, maka diharapkan molase dapat menyediakan energi yang dibutuhkan untuk metabolisme di dalam sel. Hal ini sesuai dengan penelitian Sumiati dan Herbagiandono cit. Putranti (2003) yang menambahkan gula pasir 5% yang ternyata sangat nyata dalam meningkatkan bobot segar jamur. Selain itu menurut penelitian Dewi (2009) pemberian blotong 0,04 kg yang sama-sama merupakan limbah pabrik gula seperti halnya molase dapat meningkatkan produktivitas jamur tiram putih. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Putranti (2003), pemberian molase dan dedak berpengaruh terhadap saat munculnya miselium, panjang penyebaran miselium, saat munculnya badan buah dan jumlah badan buah. Penambahan molase 68 cc/l dan 136 cc/l mempunyai pengaruh yang lebih baik dari pada penambahan molase 204 cc/l pada keseluruhan media. Selain itu, hasil komunikasi pribadi pada beberapa petani jamur yang telah menggunakan molase, mereka memperlakukan pada setiap 100 kg media ditambahkan molase sebanyak satu liter.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
    Divisions: Fakultas Pertanian
    Depositing User: Nur Anisah
    Date Deposited: 18 Jul 2013 16:58
    Last Modified: 18 Jul 2013 16:58
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/6319

    Actions (login required)

    View Item