JATUHNYA BENTENG UJUNG PANDANG, MAKASSAR PADA BELANDA (VOC)

ROCHAYATI, SITI (2010) JATUHNYA BENTENG UJUNG PANDANG, MAKASSAR PADA BELANDA (VOC). Other thesis, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

[img] PDF - Published Version
Download (3501Kb)

    Abstract

    Tujuan Penelitian ini adalah untuk: (1) Mengetahui bagaimana latar belakang berdirinya benteng Ujung Pandang, (2) Mengkaji kondisi kerajaan Gowa pada masa Sultan Hasanuddin, (3) Mengetahui Proses benteng Ujung Pandang jatuh ke tangan VOC. Sejalan dengan tujuan di atas, maka penelitian ini menggunakan metode historis atau metode sejarah. Metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau, kemudian merekonstruksikan berdasarkan data yang diperoleh sehingga dapat menghasilkan historiografi. Metode sejarah mempunyai beberapa langkah, yaitu: (1) pemilihan topik, (2) heuristik, yakni menghimpun jejak-jejak masa lampau, (3) kritik, yakni menyelidiki jejak-jejak masa lampau baik bentuk maupun isinya, (4) interpretasi, yakni menetapkan makna saling berhubungan dari fakta-fakta yang diperoleh, (5) historiografi, yakni menyampaikan sintesa yang diperoleh dalam bentuk tulisan maupun kisah. Sumber data yang digunakan adalah sumber data sekunder, yaitu melalui buku-buku, majalah, internet dan dokumen yang relevan dengan judul penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka, yaitu memperoleh data dengan cara membaca buku-buku literatur, majalah, surat kabar, dokumen atau arsip yang tersimpan di perpustakaan. Teknik analisa data yang digunakan adalah analisis historis, yaitu analisis yang mengutamakan ketajaman dalam melakukan interpretasi data sejarah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) Benteng Ujung Pandang merupakan benteng peninggalan kerajaan Gowa digunakan sebagai benteng pertahanan yang luput dari kehancuran, karena benteng ini telah diambil alih oleh Belanda. (2) Kerajaan Gowa mengalami kejayaan pada masa Sultan Malikussaid, kerajaan Gowa mulai termashur kemana-mana, dan pada masa Sultan Hasanuddin mengalami kemunduran karena banyak peristiwa-peristiwa terjadi yang mengancam kerajaan baik ancaman dari luar maupun dari dalam. (3) Konflik antara Belanda dengan Kerajaan Gowa yang tak pernah berhenti membawa kerajaan Gowa pada ambang kehancuran dengan adanya perjanjian Bungaya yang sangat merugikan kerajaan Gowa. Konflik yang terjadi membawa korban banyak dipihak kerajaan Gowa akibat politik devide et impera Belanda (VOC). Dari kesimpulan di atas maka muncul implikasi, yaitu: (1) bidang politik, adanya misi menjalankan monopoli perdagangan, Belanda menggunakan berbagai cara untuk mewujudkan cita-citanya. Politik devide et imperanya yang mampu meruntuhkan kesatuan di dalam kerajaan Gowa. Belanda mendekati daerah-daerah pemberontak untuk dijadikan sekutunya agar tidak banyak korban yang jatuh dipihaknya. (2) Bidang budaya, pengambilalihan benteng Ujung Pandang oleh Belanda seperti yang tertera pada perjanjian Bungaya, telah mengubah tradisi masyarakat Makassar melalui pengubahan gaya arsitektur bangunan benteng serta pengubahan nama benteng Ujung Pandang menjadi Fort Rotterdam untuk mengenang tempat kelahiran Speelman di Belanda.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: D History General and Old World > DS Asia
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Sejarah
    Depositing User: Lutvi Satriyo Putro
    Date Deposited: 18 Jul 2013 16:48
    Last Modified: 18 Jul 2013 16:48
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/6289

    Actions (login required)

    View Item