STUDI LONJAK PERTUMBUHAN DAN PENUAAN PADA PRIMATA TINGKAT TINGGI

Widiyani, Tetri (2012) STUDI LONJAK PERTUMBUHAN DAN PENUAAN PADA PRIMATA TINGKAT TINGGI. Other thesis, Institut Pertanian Bogor.

[img] PDF
Download (87Kb)

    Abstract

    Pertumbuhan merupakan indikator terbaik untuk menggambarkan status kesehatan dan gizi anak-anak serta kualitas hidup dalam suatu populasi penduduk. Pola pertumbuhan manusia, mencerminkan evolusi biokultural spesies manusia yang nampaknya berbeda dari spesies primata lainnya. Simpanse (Pan troglodytes) digunakan dalam penelitian ini karena merupakan spesies terdekat dengan manusia yang belum punah. Penelitian ini terdiri dari 3 bagian yang mengkaji pertumbuhan dan perkembangan manusia dan simpanse. Bagian pertama merupakan studi cross-sectional untuk pertumbuhan ukuran dimensi tubuh (bobot badan dan tinggi badan) serta somatotipe dari 363 anak perempuan dan 299 anak laki-laki Jawa usia 4 sampai 20 tahun, di Kabupaten Magelang, Indonesia. Bagian kedua adalah studi cross-sectional dan longitudinal untuk pertumbuhan dimensi linear tulang metakarpal kedua (panjang, lebar dan tebal korteks) pada simpanse. Bagian ketiga merupakan studi cross- sectional dan longitudinal untuk pertumbuhan dimensi badan (massa tubuh dan panjang badan anterior) serta kandungan mineral korteks tulang metakarpal kedua pada simpanse. Pengukuran dimensi tulang dan kandungan mineral korteks metakarpal kedua dilakukan secara radiografi pada 568 foto radiograf tangan kiri dari 68 simpanse betina dan 49 simpanse jantan usia 0 sampai 43,6 tahun. Pengukuran tersebut dilakukan menggunakan software pengolah gambar Scion Image Release Alpha 4.0.3.2. Rangkaian penelitian ini memungkinkan untuk membandingkan fenomena lonjak pertumbuhan (growth spurt) pada tahap remaja dan pengeroposan tulang (bone loss) pada wanita dan simpanse betina di masa tua. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai kurva pertumbuhan yang kompleks untuk ukuran bobot badan dan tinggi badan. Lonjak pertumbuhan yang jelas (dibuktikan dengan analisis cross-sectional) terjadi pada usia sekitar 11,5 tahun untuk anak perempuan dan sekitar 12,5 tahun untuk anak laki-laki. Pada simpanse, lonjak pertumbuhan tidak dapat dilihat dengan studi cross-sectional, tetapi hanya dapat dilihat dengan menggunakan studi longitudinal. Lonjak pertumbuhan ini terlihat pada semua parameter yang diukur pada simpanse jantan dan betina usia 4,5 sampai 8,5 tahun. Beberapa simpanse betina mengalami bone loss, sejak usia 20 tahun. Berbeda dengan manusia, simpanse tidak mengalami menopause yang merupakan penanda penuaan. Simpanse jantan tidak menunjukkan fenomena tersebut, kandungan mineral tulang tetap dipertahankan. Kata kunci: pertumbuhan, anak-anak Jawa, lonjak pertumbuhan, simpanse, tulang metacarpal kedua, bone loss

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: Q Science > Q Science (General)
    Divisions: UNSPECIFIED
    Depositing User: mr azis r
    Date Deposited: 08 May 2013 17:11
    Last Modified: 08 May 2013 17:11
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/622

    Actions (login required)

    View Item