PENGARUH PEMBERIAN STEROID DOSIS RENDAH TERHADAP HITUNG NEUTROFIL PADA SEPSIS TAHAP AWAL

SAPUTRI , DIAH AYU (2010) PENGARUH PEMBERIAN STEROID DOSIS RENDAH TERHADAP HITUNG NEUTROFIL PADA SEPSIS TAHAP AWAL. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1751Kb)

    Abstract

    Sepsis merupakan kondisi medis yang serius, ditandai dengan adanya systemic inflammatory response syndrome (SIRS) ditambah tempat infeksi yang diketahui (ditentukan dengan biakan positif dari tempat tersebut). Akan tetapi, biakan darah tidak harus positif (Guntur, 2007; Levy et al., 2005). Respon inflamasi ini akan berkembang di dalam tubuh sehingga memungkinkan bakteri dapat masuk ke dalam sirkulasi, disebut juga blood poisoning atau bakterimia. Tapi kondisi ini tidak harus ada (Guntur, 2007; Levy et al., 2005). Setiap tahun, kira-kira sepertiga kasus sepsis yang dilaporkan diakibatkan oleh virus, fungi, trauma, luka terbakar, syok, atau infeksi bakteri akut. Ketiganya berpotensi mengakibatkan kematian oleh karena kerusakan sistem organ atau multiple organ failure (MOF) (Wesche, 2005). Penyebab kematian akibat sepsis yang paling sering adalah bakteri gram negatif, sekitar 115.000 kematian per tahun (Chamberlain, 2004). Sepsis menyerang lebih dari 700.000 penduduk dan menyumbang angka kematian di Amerika Serikat sebanyak 210.000 kasus. Insiden masih terus meningkat kira-kira 1,5-8 % per tahun (Chamberlain, 2004). Melalui penelitian yang dilakukan di bagian Perinatal Intensive Care Unit/Neonatal Intensive Care Unit (PICU/NICU) Rumah Sakit Dr.Moewardi selama Desember 2004-Desember 2005 terdapat angka kematian akibat sepsis 33,5% (229 dari 683 kasus), dengan mortalitas sebesar 50,2% (115 kematian dari 229 sepsis) (Pudjiastuti, 2008). Sepsis dibagi menjadi dua fase yaitu sepsis tahap awal dan sepsis tahap akhir. Pembagian tersebut didasarkan atas derajad inflamasi yang berhubungan dengan kemampuan kompensasi tubuh terhadap sepsis. Pada sepsis tahap awal (lima hari pertama), terjadi peningkatan respon imun yang ditandai dengan peningkatan IL-6 di plasma. Peningkatan respon inflamasi ini akan mengakibatkan kerusakan jaringan, organ, bahkan sistem organ. Sedangkan pada sepsis tahap akhir (lebih dari lima hari pertama), tubuh sudah tidak mampu melakukan kompensasi sehingga terjadi proses imunosupresi yang ditandai adanya penurunan level plasma dari IL-6 dan pertumbuhan bakteri yang meningkat. Pembagian tersebut penting sebagai pedoman untuk melakukan penatalaksanaan yang tepat (Xiao et al., 2006). Kondisi patologis pada keadaan sepsis dapat mempengaruhi pada hampir setiap komponen sel sirkulasi mikro, termasuk leukosit polimorfonuklear yaitu neutrofil (De Backer et al., 2002; Spronk et al., 2004; Trzeciak and Rivers, 2005). Fungsi utama neutrofil adalah fagositosis dan pembersihan debris, partikel, dan bakteri, serta pemusnahan organisme mikroba. Akan tetapi pada sepsis neutrofil mengalami penurunan fungsi fagositosis dan kemampuan untuk membersihkan patogen (Remick, 2007). Pada pasien sepsis terjadi penurunan kemampuan apoptosis neutrofil yang berhubungan dengan Maintenance of mitochondrial transmembrane potential dan penurunan aktivitas jalur caspase 9, sehingga masa hidup neutrofil dalam sirkulasi memanjang (Ravi et al., 2004). Steroid banyak digunakan dalam pengobatan radang dan penyakit imunologik (Sutarman dan Roma, 1993). Steroid untuk terapi sepsis dan syok sepsis sudah diteliti sejak lebih dari 50 tahun (Levy et al., 2005). Manfaat steroid sebagai terapi untuk sepsis masih diperdebatkan. Pada beberapa penelitian meta analisis, steroid dikatakan meningkatkan morbiditas, perdarahan pada saluran pencernaan, dan tidak menurunkan mortalitas (Azis, 2006). Akan tetapi suatu studi yang dilakukan oleh Annane et al. (2002), menunjukkan bahwa terapi steroid dapat menurunkan mortalitas pada pasien syok sepsis dengan insufisiensi adrenal. Walaupun setelah diterapi dengan steroid setengah dari populasi pasien syok sepsis meninggal, akan tetapi steroid tetap diperlukan sebagai terapi tambahan untuk menurunkan mortalitas, pada populasi baik untuk pasien dengan atau tanpa insufisiensi adrenal (Levy et al., 2005). Penggunaan steroid secara rasional merupakan role play untuk mendapatkan efek imunosupresan dan anti inflamasi yang optimal. Dalam berbagai penelitian, pemberian steroid dosis tinggi gagal dalam memperbaiki kondisi pasien sepsis. Sedangkan pemberian steroid dosis rendah pada sepsis menimbulkan perbaikan yang cukup memuaskan. Penelitian kali ini merupakan lanjutan dari penelitian-penelitian sebelumnya, yang ditekankan untuk mencari pengaruh steroid dosis rendah terhadap sepsis tahap awal. Indikator yang digunakan adalah penurunan hitung neutrofil pada mencit Balb/C model sepsis induksi cecal inoculum (CI).

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Fakultas Kedokteran
    Depositing User: Budianto Erwin
    Date Deposited: 18 Jul 2013 16:01
    Last Modified: 18 Jul 2013 16:01
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/6171

    Actions (login required)

    View Item