PELAKSANAAN HUKUM MEREK DAN DESAIN INDUSTRI OLEH PENGUSAHA ROKOK MENENGAH KECIL DI KABUPATEN KUDUS

IQBAL , MUHAMAD ZAKI (2010) PELAKSANAAN HUKUM MEREK DAN DESAIN INDUSTRI OLEH PENGUSAHA ROKOK MENENGAH KECIL DI KABUPATEN KUDUS. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (2312Kb)

    Abstract

    Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi membuat kehidupan menjadi lebih mudah, lebih cepat dan serba instan. Dengan kemajuan pesat di bidang telekomunikasi menjadikan dunia menjadi semakin sempit. Batas-batas negara seakan tidak ada artinya lagi. Keadaan seperti ini berimbas pula dalam bidang perdagangan. Dunia dikuasai oleh sistem perdagangan bebas dimana persaingan akan semakin kompleks dan tajam. Masyarakat di seluruh penjuru dunia bertarung untuk saling menguasai pasar. Salah satu asumsi yang perlu dicermati pada era liberalisasi perdagangan internasional adalah bahwa produk perdagangan dan bisnis internasional akan ditandai dengan penerapan prinsip General Agreement on Trade and Tariff / World Trade Organization (GATT/WTO) yang meliputi liberalisasi perdagangan, bebas dari bea cukai dan kuota serta bebas dari hambatan administratif (Mohtar Masoed,1996:5). Dan ini otomatis mengharuskan negara Indonesia untuk tunduk pada aturan-aturan internasional tersebut walaupun belum sepenuhnya siap. Era World Trade Organization (WTO) menghasilkan isu penting, salah satunya adalah, hasil dari Konferensi Marakesh bulan April 1994 yang ratifikasinya dalam sistem perundang-undangan Indonesia dilakukan paling lambat pada bulan Januari 1995 (Indonesia telah menyelesaikan ratifikasi pada bulan Oktober 1994) adalah dibentuknya dalam satu lembaga tersebut satu dewan yang khusus membawahi urusan Hak Kekayaan Intelektual (Intellectual Property Rights) yang dinamakan dewan Agreement on Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights (TRIPs) yang berada di bawah Dewan Umum (General Council). Hak Kekayaan Intelektual (HKI) adalah hak kebendaan , hak atas sesuatu yang bersumber dari hasil kerja otak, nalar manusia dimana otak ini diterjemahkan sebagai intelektualitas. HKI dideskripsikan sebagai hak atas kekayaan yang timbul atas kemampuan intelektual manusia. Dikategorikan sebagai Hak Kekayaan karena HKI dapat menghasilkan karya-karya intelektual berupa : lagu, desain, penemuan-penemuan baru di bidang teknologi, seni dan sastra yang dalam mewujudkannya membutuhkan pengorbanan pikiran, tenaga, waktu, serta biaya. Pengorbanan-pengorbanan tersebut membuat HKI memiliki nilai. Menurut Rahmadi Usman HKI dapat diartikan sebagai : Hak atas kepemilikan terhadap karya-karya yang timbul atau lahir karena adanya kemampuan intelektualitas manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Karya-karya tersebut merupakan kebendaan tidak berwujud yang merupakan hasil kemampuan intelektualitas seseorang dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi melalui daya, cipta, rasa, karsa dan karyanya yang memiliki nilai-nilai moral, praktis dan ekonomis. Pada dasarnya yang termasuk dalam bidang HKI adalah segala karya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan melalui daya pikir seseorang. (Rahmadi Usman : 2003, 2). Berdasarkan pembagian HKI di atas jika dihubungkan dengan persaingan pasar bebas, salah satu yang paling penting adalah masalah merek dan desain industri. Khusus mengenai merek diatur dalam Undang-Undang No.15 Tahun 2001 tentang Merek sedangkan mengenai Desain Industri diatur dalam Undang- Undang No. 31 tahun 2000 tentang Desain Industri. Undang-Undang ini merupakan undang-undang desain pertama yang dimiliki oleh Indonesia. Merek sangat penting dalam dunia usaha, karena merek dapat mewakili image serta kualitas barang yang diproduksi oleh pengusaha. Menurut Tim Lindsey (Tim Lindsey, 2002 : 131) merek adalah suatu gambar atau nama yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu produk atau perusahaan di pasaran. Pengusaha biasanya mencegah orang lain menggunakan merek mereka karena dengan menggunakan merek para pedagang memperoleh reputasi baik dan kepercayaan dari para konsumen serta dapat membangun hubungan antara reputasi tersebut dengan merek yang telah digunakan perusahaan secara regular. Pengusaha akan berusaha melindungi merek mereka dengan cara mendapatkan hak atas merek dimana merupakan hak khusus yang diberikan pemerintah kepada pemilik merek untuk menggunakan merek tersebut atau memberikan ijin untuk menggunakannya kepada orang lain. Desain Industri bermanfaat untuk melindungi penampakan luar suatu produk. Definisi normatif desain industri dirumuskan sebagai berikut : “Desain Industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan daripadanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estetis dan dapat diwujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk,barang,komoditas industri,atau kerajinan tangan”. (OK. Saidin. 2004 : 468). Pengusaha akan berusaha melindungi desain industri miliknya. Desain Industri merupakan hasil dari kreasi, cipta , rasa dan karsa yang diwujudkan dalam wujud barang komoditas sehingga dengan desain tersebut, barang yang diproduksi menarik dan laku di pasaran. Pemilik hak desain industri memiliki hak eksklusif untuk melaksanakan hak desain industri yang dimilikinya dan untuk melarang orang lain yang tanpa persetujuannya membuat, menjual, memakai, mengimpor, mengekspor, dan/ atau mengedarkan barang yang diberi hak desain industri. Industri rokok merupakan salah satu industri yang erat sekali kaitannya dengan merek dan desain industri. Dapat dikatakan bahwa merek memiliki nilai strategis dan penting baik bagi produsen maupun konsumen rokok. Bagi produsen, merek selain untuk membedakan produknya dengan produk perusahaan lain yang sejenis, juga dimaksudkan untuk membangun citra perusahaan yang melekat di dalamnya khususnya dalam pemasaran. Bagi konsumen merek rokok, merek selain mempermudah pengidentifikasian juga menjadi simbol harga diri. Masyarakat yang sudah terbiasa dengan pilihan rokok dari merek tertentu, cenderung untuk menggunakan rokok dengan merek tersebut seterusnya dengan berbagai alasan seperti karena sudah mengenal lama, terpercaya kualitas produknya, menunjukkan citra diri dan lain-lain. Sehingga fungsi merek sebagai jaminan kualitas semakin nyata, khususnya terkait dengan produk-produk rokok bereputasi. Demikian juga dengan desain industri produk rokok dimana bentuk batang dari rokok, bentuk kemasan, warna serta kesan estetik yang ditimbulkannya menimbulkan kesan yang berbeda- beda. Sebagai contoh desain dari rokok LA Lights yang ramping serta berwarna putih, menimbulkan kesan rokok yang ringan serta sesuai dengan jiwa muda. Berbeda dengan bentuk dari rokok Gudang Garam International yang menimbulkan kesan pria jantan dan pemberani. Industri rokok di Indonesia didominasi oleh rokok jenis kretek yang merupakan campuran dari tembakau, cengkeh dan saus-saus tertentu. Sejarah awal perusahaan rokok nasional bermula dari Kudus, dirintis oleh Nitisemito dengan Produk Rokok Bal Tiga pada tahun 1914 dan mencapai puncak kejayaan pada Tahun 1938 dimana perusahaannya mempunyai 10.000 pekerja dan bahkan mempekerjakan tenaga pembukuan dari Belanda. Perusahaan ini ambruk pada tahun 1955. Setelah itu muncul perusahaan-perusahaan rokok lainnya baik di daerah Kudus maupun daerah lainnya seperti Perusahaan Rokok (PR) Kawung (Jawa Barat) PT Bentoel (Malang), PT Gudang Garam (Kediri), HM Sampoerna (Surabaya), Jambu Bol (Kudus), Perusahaan Rokok (PR) Sukun (Kudus), PT Djarum (Kudus). Perusahaan-perusahaan tersebut sebagian ada yang masih survive sampai saat ini, bahkan menjadi market leader dalam produk rokok. Kabupaten Kudus sebagai kota penghasil rokok terbesar di Indonesia dapat dijadikan obyek studi dalam mempelajari tentang merek dan desain industri rokok. Kudus sebagai kota kretek bukan sekadar slogan tetapi memiliki arti yang mendalam. Bagi warga Kudus, menjadi pengusaha rokok adalah sebuah kebanggaan. Menjadi pengusaha rokok adalah usaha turun-temurun yang diwariskan nenek moyang warga Kudus. Walaupun beromzet kecil, menjadi penghasil rokok adalah sebuah keunggulan dalam tataran sosial masyarakat Kudus (http://bisniskeuangan.kompas.com.read/2009/12/09/09152614/Industri.Rokok.K udus.Separuh.Kebanggaan.Itu.Hilang). Pada saat ini setidaknya terdapat empat perusahaan rokok berskala besar di Kabupaten Kudus diantaranya adalah PT Djarum dengan produknya antara lain LA Light, Djarum Super, Djarum Black. PT Nojorono dengan produk rokoknya antara lain Minak Djinggo, Class Mild. Perusahaan Rokok (PR) Sukun dengan produknya antara lain Sukun Merah, Sukun Executive. Perusahaan Rokok (PR) Djambu Bol dengan produknya Filtra. Selain keempat perusahaan rokok besar tersebut masih terdapat ratusan perusahaan rokok berskala menengah dan kecil. Pelaksanaan hukum merek dan desain industri pada perusahaan besar relatif berjalan dengan baik. Masalah yang menjadi perhatian adalah pelaksanaan hukum merek dan desain industri pada perusahaan rokok menengah dan kecil. Produk mereka rentan mengalami pelanggaran terhadap merek dan desain industri yang dimiliki baik itu berupa pemalsuan maupun tindakan passing off (pemboncengan ketenaran) dari pihak lain. Hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya pengetahuan perusahaan tentang merek dan desain industri. Suatu tantangan yang harus dihadapi oleh perusahaan rokok adalah bagaimana dapat melindungi merek dan desain industri produknya dari upaya- upaya pemalsuan dan passing off dari pihak lain. Bagaimanapun juga merek yang dimiliki suatu perusahaan merupakan gambaran dari kualitas dan image dari perusahaan tersebut.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: K Law > K Law (General)
    Divisions: Fakultas Hukum
    Fakultas Hukum > Ilmu Hukum
    Depositing User: Budianto Erwin
    Date Deposited: 18 Jul 2013 15:47
    Last Modified: 18 Jul 2013 15:47
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/6152

    Actions (login required)

    View Item