FASHION PUNK DAN IDENTITAS REMAJA (Analisis Semiologi Terhadap Simbol-Simbol Visual dalam Fashion Komunitas Punk Modis Solo Grand Mall (SGM) di Surakarta)

SUTRISNI PUTRI, ARUM (2010) FASHION PUNK DAN IDENTITAS REMAJA (Analisis Semiologi Terhadap Simbol-Simbol Visual dalam Fashion Komunitas Punk Modis Solo Grand Mall (SGM) di Surakarta). Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (3108Kb)

    Abstract

    Skripsi perpustakaan.uns.ac.id hasil penelitian daridigilib.uns.ac.id semiologi terhadap fashion subkultur remaja komunitas punk modis di kawasan Solo Grand Mall (SGM) Surakarta. Fashion komunitas Punk Modis SGM menunjukkan bahwa ada pesan yang ingin disampaikan oleh mereka. Dengan pengamatan terhadap atribut yang disandang mereka, penelitian ini ingin memaknai bagaimana perlawanan dan pemberontakan subkultur remaja direpresentasikan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan kajian semiologi komunikasi dan memberikan pengetahuan bahwa komunitas punk modis mempunyai sisi yang unik dan tidak selalu identik dengan kelakuan yang buruk. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengungkapkan adanya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, studi pustaka, dan wawancara. Analisa data dilakukan dengan metode semiologi melalui tahap penandaan Roland Barthes untuk mengetahui apa saja makna yang terkandung dalam fashion komunitas punk modis SGM di Surakarta terkait dengan makna pemberontakan subkultur remaja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam fashion komunitas punk modis SGM di Surakarta terdapat makna dan pesan pemberontakan atau perlawanan subkultur remaja terhadap budaya orangtua dan masyarakat dominan atau mainstream. Walaupun pemberontakan tersebut hanya terdapat pada level simbolik saja. Fashion punk modis bermakna: (1)Gaya Rambut: Hitam bermakna kekuatan sedangkan warna menyala bermakna menarik perhatian. Ciri khas yaitu jambul pendek bermakna protes (2)Gaya Riasan: gelap bermakna kehidupan tanpa masa depan (3)Fashion: (a)Kaos: Warna gelap bermakna tak ada harapan akan masa depan, warna menyala bermakna perasaan beda (b)Celana: jeans robek- commit pensil bermakna bagaimana melepaskan diri dari kesulitan hidup, dipakai melorot bermakna kemerosotan moral (c)Jaket: jeans lusuh dan kotor dengan coretan bermakna agar mengingat kelakuan buruk diri sendiri, sedangkan jumper cut-up bermakna anarki, agresi, dan frustrasi (d)Boxer: sengaja diperlihatkan bermakna pemberontakan, kemerosotan moral, sikap acuh tak acuh akan norma, nilai, dan tata tertib sosial. (4)Sepatu: kanvas atau sneakers melambangkan jiwa muda, sedangkan boots bermakna perlawanan terhadap represi aparat. (5)Asesoris: (a)Ikat pinggang: bermakna terkekang atau terfragmentasi (b)Gelang: gelang rantai bermakna perbudakan, perlawanan dan pemberontakan, juga bermakna ikatan erat dengan teman satu komunitas (c)Kalung : bermakna pengekangan diri (6)Piercings: bermakna penyiksaan diri dan penderitaan This research reports results from a semiology study of Poser-Punk youth community subculture in Solo Grand Mall (SGM) Surakarta. The SGM Poser- Punk community’s fashion styles shows that there is any messages they want to say by their perpustakaan.uns.ac.id By observating their attributes, this research wants to explore the meaning on how the resistance of the young subcultures represented. Hopefully, this research can be useful in semiology communication study and gives a different point of view that poser-punk community has a unique side and not always identified as a bad behaviour. The type of this research is descriptive qualitative in purpose to reveal the relations between one symptom to another symptoms in society. The technique to gathers the files by observation, literary study, and interviews. The files analyze with semiological theory from Roland Barthes through signification process to reveals the meaning of the visual symbols of the SGM Poser-Punk Community’s fashion styles in relation with the essensial of youth subcultural resistance. The results of this research shows that in SGM Poser-Punk Community’s fashion styles in Surakarta, there is a resistance meaning and messages of youth subculture to parents culture and dominant culture. Eventhough the resistance only on symbolic levels. Poser-punk’s fashion styles means: (1)Hairstyles: Black means power, shocking neon color means attractness. The special characteristic is semi Mohawk, or short Mohawk means protest (2) visual style : dark means life without future (3) fashion styles: (a)T-shirt: dark color means no hope of future, shocking color means difference (b)pants: cut-up jeans means protest against society conditions, baggy style or pencils means how to set them free from difficult life, showing their boxer means moral degradation (c)jacket: dirty jeans with graffiti means to remember their bad habit, cut-up jumper means anarchy, agression, and frustration (d)Boxer: show their boxer means rebellion, moral degradation, don’t care about social norm, values, and regulation. (4)shoes: sneakers means youth power, boots tomeans fights against police repression (5)Accesories: (a)belt: means fragmentation (b) bracelet chain : means slave, fights and rebellion, it also means closeness with their community (c)necklace : means self-indulgence (6)Piercings: means self-torture and sorrow.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: H Social Sciences > HE Transportation and Communications
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi
    Depositing User: Fairly Okta'mal
    Date Deposited: 17 Jul 2013 22:15
    Last Modified: 17 Jul 2013 22:15
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/5882

    Actions (login required)

    View Item