HUBUNGAN ANTARA LOCUS OF CONTROL INTERNAL DAN SELF EFFICACY DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN DEPARTEMEN SPINNING PT. DAYA MANUNGGAL

Wibowo, Nurhida Rahmalia (2010) HUBUNGAN ANTARA LOCUS OF CONTROL INTERNAL DAN SELF EFFICACY DENGAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN DEPARTEMEN SPINNING PT. DAYA MANUNGGAL. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (474Kb)

    Abstract

    Karyawan merupakan sumber daya yang penting bagi suatu perusahaan. Karyawan merancang dan menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa, mengendalikan mutu, memasarkan produk, dan mengolah sumber-sumber daya yang lainnya. Sebagus apapun manajemen dari sebuah perusahaan tetapi kalau tidak ditunjang dengan sumber daya manusia yang baik dalam hal ini karyawan yang ahli dan handal dalam bidangnya, maka perusahaan tidak akan mampu mencapai tujuan yang diharapkan. Menurut Gomes (2000) tugas manajemen sumber daya manusia berkisar pada upaya mengelola karyawan sebagai unsur manusia dengan potensi yang dimiliki sehingga dapat diperoleh sumberdaya yang puas (satisfied) dan satisfactory bagi organisasi. Bagi banyak orang terutama yang berpendidikan dan berkemampuan baik, salah satu tujuan bekerja adalah memperoleh kepuasan kerja. Kondisi kepuasan kerja akan tercapai bila dalam pekerjaan dapat menggerakkan motivasi yang kuat untuk mencapai kinerja yang lebih baik. Kepuasan kerja merupakan elemen penting dalam suatu perusahaan. Kepuasan kerja masing-masing karyawan berlainan, karena pada dasarnya kepuasan kerja bersifat individual dimana masing-masing karyawan memiliki tingkat kepuasan kerja yang berlainan sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada masing-masing karyawan (Utomo, 2002). Semakin banyak aspek-aspek dalam pekerjaan yang sesuai dengan keinginan karyawan, maka semakin tinggi tingkat kepuasan kerja yang dirasakan (As’ad, 1999). Jika seorang karyawan memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi didalam bekerja maka akan menimbulkan motivasi diri untuk bekerja lebih maju, karena kepuasan itu mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu yang dilakukan dan berhasil dan sebaliknya, jika tingkat kepuasan kerja karyawan rendah, maka dapat mengakibatkan ketidaklancaran perusahaan dan proses produksi yang dikarenakan tingginya tingkat keterlambatan dan kemangkiran serta tingkat keluar masuknya karyawan (Tuhumena, 2004). Banyak pekerja yang merasa tidak puas karena apa yang dikerjakannya tidak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan. Kondisi keuangan PT Daya Manunggal yang sedang mengalami krisis telah memaksa perusahaan untuk melakukan penghematan. Hal ini telah dilakukan perusahaan, misalnya dengan mengistiratkan karyawan bagian spinning sebanyak 239 orang yang terdiri dari 139 pria dan 100 karyawan wanita. Pengistirahatan karyawan ini menghantui karyawan, sehingga mereka bekerja tidak dengan rasa aman, nyaman dan menyenangkan. Sebelum memutuskan mengistirahatkan karyawan, pihak manajemen perusahaan itu juga telah memutus 144 orang karyawan tenaga kontrak. (www.suaramerdeka.com). Kondisi yang demikian akan menyebabkan kepuasan kerja karyawan sulit terwujud. Perlu diketahui bahwa aspek dari kepuasan kerja adalah pekerjaan itu sendiri, promosi, imbalan, supervisi, rekan kerja. Melihat kasus diatas, tampak jelas bahwa begitu pentingnya kepuasan kerja bagi karyawan. Ketidakpuasan karyawan menyebabkan tingkat kedisiplinan karyawan menjadi berkurang, dimana hampir tiap hari ada karyawan yang terlambat selain itu juga meninggalkan tempat kerja lebih awal ataupun mangkir. Hal ini bisa menyebabkan kerugian bagi perusahaan tersebut karena dengan adanya kemangkiran maka proses produksi menjadi terhambat. Kepuasan atau ketidakpuasan seseorang dengan pekerjaan merupakan keadaan yang sifatnya subjektif, yang merupakan hasil kesimpulan yang didasarkan pada suatu perbandingan mengenai apa yang secara nyata diterima oleh pegawai dari pekerjaannya sebagai hal yang pantas, atau berhak baginya. Sementara setiap pegawai secara subjektif menentukan bagaimana pekerjaan memuaskan (Gomes, 2000). Kepuasan kerja yang tinggi merupakan tanda organisasi yang dikelola dengan baik dan pada dasarnya merupakan hasil manajemen perilaku yang efektif ( David dan Newstrom, 1990). Peningkatan kepuasan kerja karyawan pada suatu perusahaan hanya mungkin terlaksana secara bermakna apabila faktor-faktor yang mempengaruhi dapat diidentifikasi secara ilmiah, baik secara kualitatif maupun kuantitatif (besarnya hubungan) dengan memberi penekanan intervensi pada faktor-faktor yang lebih besar bobot hubungannya. Core self evaluation merupakan penilaian dasar individu terhadap dirinya sendiri dan seberapa besar ia menghargai dirinya. Individu dengan core self evaluation positif cenderung mengekspresikan kepuasan kerja yang lebih tinggi dibanding mereka yang memiliki core self evaluation negatif. Core self evaluation melibatkan empat faktor dasar yaitu self esteem, self efficacy, locus of control dan kestabilan emosi (Baron dan Byrne, 2005). Secara teoritis, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja sangat banyak jumlahnya, seperti gaya kepemimpinan, produktivitas kerja, perilaku, locus of control, pemenuhan harapan penggajian dan efektivitas kerja. Locus of control merupakan persepsi seseorang tentang sebab-sebab keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan pekerjaannya. Melalui locus of control yang dimiliki, perilaku pekerja dapat dijelaskan ketika seorang karyawan merasakan hasil pekerjaan yang mereka lakukan merupakan hasil kontrol internal atau eksternal (Johan, 2002). Seseorang yang memiliki orientasi kontrol internal dalam diri meyakini bahwa kesuksesan dan kegagalan dalam hidupnya dipengaruhi oleh tindakan dan kemampuan mereka (personal factors) sedangkan seseorang yang memiliki orientasi letak kontrol diluar dirinya (eksternal) meyakini bahwa kesuksesan dan kegagalan dalam hidupnya dikontrol oleh faktor-faktor eksternal (Purboningsih, 2004). Seorang karyawan akan memiliki kepuasan kerja, apabila mereka dapat menampilkan perilaku yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukannya sebagai hasil pengaruh dalam dirinya (internal) maupun lingkungan diluar dirinya (eksternal). Melalui locus of control yang dimiliki, perilaku pekerja dapat dijelaskan ketika seorang karyawan merasakan hasil pekerjaan yang mereka lakukan merupakan hasil kontrol internal atau eksternal (Johan, 2002). Pada dasarnya, setiap karyawan memiliki kepuasan kerja yang berbedabeda antara satu dengan yang lain karena karyawan memiliki tingkat kendali atau cara pandang yang berbeda. Tingkat kendali atau cara pandang yang dimiliki tiap karyawan sangat berperan dalam kepuasan kerja (Robbin, 1996). Seorang karyawan dengan internal locus of control akan merasa lebih puas dalam bekerja dibandingkan dengan seorang karyawan yang memiliki external locus of control karena apa yang dia lakukan dia percayai sebagai hasil dari apa yang dia lakukan sendiri. Karyawan dengan internal locus of control biasanya bersedia untuk lebih memperhatikan dan siap untuk belajar tentang lingkungan sekitarnya karena mereka berpandangan bahwa peristiwa yang terjadi diakibatkan keputusan atau perbuatan yang dilakukannya. Sedangkan external locus of control mempercayai ketidakberdayaannya dan cenderung tidak bersedia untuk belajar karena keberhasilan ataupun segala sesuatu yang mereka lakukan disebabkan oleh faktor nasib, keberuntungan dan orang lain. Menurut Spector dan O’Connel (dalam Siciro dan Suyono, 2005), orang dengan internal locus of control biasanya menggunakan pengalaman selama bekerja untuk menyelesaikan tugas dan meningkatkan hasil dengan memanfaatkan informasi yang diperoleh secara efektif. Chiu dkk (dalam Rahim, 2008) menemukan bahwa hubungan negatif antara kepuasan kerja dan turnover lebih kuat untuk internal locus of control daripada external locus of control. Menurut peneliti turnover yang terjadi pada karyawan disebabkan ketidakpuasan kerja para karyawan. Kondisi kerja yang tidak menyenangkan menyebabkan ketidakpuasan pada karyawan sehingga akan timbul keinginan karyawan untuk mencari pekerjaan lain. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Spector (dalam Siciro dan Suyono, 2005) sendiri menyatakan bahwa terdapat perbedaan kepuasan kerja yang berbeda antara karyawan yang memiliki internal locus of control dan karyawan yang memiliki external locus of control dalam suatu organisasi (Siciro dan Suyono, 2005). Seseorang dengan internal locus of control cenderung melihat tantangan sebagai kesempatan untuk belajar. Sebaliknya, seseorang dengan external locus of control akan mengabaikan tantangan karena mereka merasa bahwa belajar tidak akan berdampak pada diri mereka. Selain locus of control, self efficacy juga mempengaruhi kepuasan kerja karyawan Self Efficacy merupakan evaluasi seseorang terhadap kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan sebuah tugas, mencapai tujuan, atau mengatasi hambatan. Self efficacy berperan dalam ketangguhan seseorang untuk bertahan menghadapi tantangan saat berjuang untuk meraih tujuannya. Self efficacy berpengaruh terhadap perasaan, pikiran, dan perilaku yang dilakukan seseorang (Wulandari dan Tjundjing, 2007). Jika seseorang memiliki keyakinan yang kuat akan kemampuan dirinya maka hal ini akan menyebabkan seseorang tersebut berusaha keras sampai tujuannya tercapai yang pada akhirnya akan membentuk perilaku positif yang nantinya membuat individu merasakan kepuasan terhadap apa yang telah dilakukannya. Namun apabila keyakinan yang dimiliki oleh seseorang cenderung tidak kuat maka akan mengurangi usahanya bila menemui masalah, kemungkinan akan mudah putus selanjutnya menyerah terhadap pekerjaan. Orang seperti ini tidak akan mengalami kepuasan karena dia tidak yakin atas apa yang dikerjakannya. Begitu juga dengan karyawan, karyawan yang memilki self efficacy yang kuat tentang kemampuan dirinya dapat membantu proses kinerja sehingga karyawan mampu menyelesaikan tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada perusahaan secara tuntas dan tepat waktu. Kinerja yang baik dari seorang karyawan dengan self efficacy yang tinggi menunjukkan tingkat kepuasan kerja yang dialami karyawan tersebut juga tinggi. Hasil penelitian Bandura (dalam Siciro dan Suyono, 2005) menunjukkan bahwa individu yang memiliki self efficacy yang tinggi akan merespon dengan meningkatkan usaha dan motivasi sedangkan individu dengan self efficacy yang rendah akan cenderung rendah diri dan menyebabkan menurunnya kinerja individu tersebut. Maka dari itu dapat dilihat bahwa individu yang memiliki self efficacy yang tinggi akan mengalami tingkat kepuasan kerja yang tinggi sedangkan individu yang memiliki self efficacy yang rendah akan mengalami tingkat kepuasan kerja yang rendah pula. Persoalan di PT Daya Manunggal timbul karena tidak semua karyawan dengan locus of control internal dan self efficacy yang tinggi mampu memperoleh kepuasan kerja. Berdasarkan pra survei yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa kepuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan PT Daya Manunggal lebih banyak dipengaruhi karena adanya pemenuhan kebutuhan oleh perusahaan seperti memberikan gaji yang layak sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya, antar jemput karyawan, jamsostek (jaminan sosial tenaga kerja), cuti dan dispensasi, rekreasi gratis kepada karyawan maupun staf, adanya fasilitas kegiatan olah raga dan kesenian, beasiswa bagi anak pekerja, askes bagi pekerja dan keluarganya. Penghargaan dan fasilitas ini diharapkan mampu menimbulkan kepuasan kerja pada para karyawan. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan locus of control internal dan self efficacy terhadap kepuasan kerja karyawan PT. Daya Manunggal. PT. Daya Manunggal merupakan perusahaan yang bergerak di bidang tekstil yang mempekerjakan tenaga manusia di bidang produksi yang cukup banyak. Melihat fenomena diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Hubungan antara locus of control internal dan self efficacy dengan kepuasan kerja karyawan PT Daya Manunggal”.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology
    Divisions: Fakultas Kedokteran > Psikologi
    Depositing User: Wibowo Anggita
    Date Deposited: 16 Jul 2013 19:35
    Last Modified: 16 Jul 2013 19:35
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/5431

    Actions (login required)

    View Item