EKSPERIMENTASI PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN PROBLEM SOLVING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS V SD NEGERI SEKECAMATAN KUNDURAN BLORA TAHUN AJARAN 2010/2011

Indriani, Ari (2011) EKSPERIMENTASI PENDEKATAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN PROBLEM SOLVING PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS V SD NEGERI SEKECAMATAN KUNDURAN BLORA TAHUN AJARAN 2010/2011. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (460Kb)

    Abstract

    Sekolah Dasar merupakan titik awal dari pendidikan formal di Indonesia. Diharapkan dari tempat ini nantinya akan dihasilkan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai generasi penerus untuk mewujudkan tujuan luhur bangsa yaitu meningkatkan kualitas kehidupan manusia Indonesia sehingga terwujud masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Mengingat begitu pentingnya keberadaan Sekolah Dasar, maka pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Menengah (Dirjen Dikdasmen) terus-menerus menekankan peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah Dasar. Mengenai pelaksanaan pendidikan Sekolah Dasar, Dirjen Dikdasmen melalui surat edaran No. 2931/C/1/1993 menyerukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran tiga kemampuan dasar yaitu membaca, menulis dan berhitung di mana semua itu telah termuat pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Matematika merupakan ilmu dasar yang mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi. Hampir semua bidang studi menggunakan materi pelajaran matematika, contohnya persamaan phytagoras dan trigonemetri digunakan untuk mengukur tinggi sebuah benda yang tidak bisa diukur secara langsung seperti gunung, pohon dan lain-lain, matriks, digunakan pada teknik sipil yakni untuk mengkontruksi jembatan, barisan dan deret digunakan pada pelajaran manajemen perbankan yakni untuk menghitung bunga tunggal dan majemuk, serta masih banyak lagi peranan matematika yang sangat bermanfaat dibidang lain. Pada mata pelajaran matematika, sepatasnya kita perlu prihatin. Matematika yang posisinya sebagai “ratu” sekaligus “pelayan” dari ilmu pengetahuan dan teknologi justru menjadi mata pelajaran yang dianggap paling sulit bahkan menjadi momok dalam setiap kegiatan belajar mengajar. Akhirnya apa yang diharapkan dari prestasi belajar matematika, ternyata masih jauh dari harapan. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata nilai ujian akhir sekolah bidang studi matematika siswa SD se-Kecamatan Kunduran Blora adalah sebagai berikut: Tabel 1.1 Rata-rata UAS Matematika Siswa SD Kecamatan Kunduran Blora Mata Pelajaran 2007/2008 2008/2009 2009/2010 Matematika 4,23 5,91 4,68 Selain itu, prestasi belajar siswa SD pada pokok bahasan operasi bilangan bulat juga masih rendah. Mungkin dikarenakan siswa SD kurang paham atas penjelasan guru tentang cara mempelajari operasi bilangan bulat di mana guru masih menggunakan metode ceramah, kurangnya guru menggunakan alat peraga yang ada di lingkungan sekitar dalam menjelaskan operasi bilangan bulat, misalnya manik-manik, guru kurang mengaitkan pembelajaran operasi bilangan bulat ini dengan kehidupan sehari-hari dan lain sebagainya. Sebagai contohnya: 5 – (-4) = 9 akan tetapi siswa banyak yang menjawab 5 – (-4) = 1, sedangkan untuk -3 – (-6) = -3, banyak siswa yang menjawab -3 – (-6) = -9. Siswa juga kurang paham dalam mengerjakan soal cerita. Contohnya: suhu udara di kutub utara

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister > Pendidikan Matematika - S2
    Depositing User: Users 832 not found.
    Date Deposited: 16 Jul 2013 19:05
    Last Modified: 16 Jul 2013 19:05
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/5408

    Actions (login required)

    View Item