HUBUNGAN PENURUNAN PENDENGARAN SENSORINEURAL DENGAN PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 TERKENDALI BAIK DAN TIDAK TERKENDALI BAIK

Fadlan, Ismelia (2010) HUBUNGAN PENURUNAN PENDENGARAN SENSORINEURAL DENGAN PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 TERKENDALI BAIK DAN TIDAK TERKENDALI BAIK. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1441Kb)

    Abstract

    Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit yang sering dijumpai. DM terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Berdasarkan obat yang diperlukan, penyakit ini dibagi menjadi DM Tergantung Insulin (DMTI) atau DM Tipe 1 dan DM Tidak Tergantung Insulin (DMTTI) atau DM Tipe 2. DM Tipe 1 adalah DM yang pengobatannya mutlak memerlukan insulin. Sementara DM Tipe 2 pengobatannya tidak harus dengan insulin, tetapi dengan antidiabetik oral dan diet (Perkeni, 2006; Darmono, 2007). Laporan WHO mengenai studi populasi DM di berbagai negara, memberikan informasi, bahwa jumlah penderita DM di Indonesia pada tahun 2000 adalah 8,4 juta orang (12,8%). Diperkirakan prevalensi tersebut meningkat pada tahun 2030 menjadi 21,3 juta. Dengan mengetahui peningkatan prevalensi DM dapat dibuat rencana program penanggulangan awal yang efektif (Darmono, 2007; Kusumadewi, 2009). Konsensus pengelolaan DM Tipe 2 oleh para ahli endokrinologi Indonesia menyatakan bahwa pelayanan penderita DM Tipe 2 harus ditangani secara holistik dan terintegrasi antar disiplin terkait. Baik dengan para ahli sesama disiplin ilmu sendiri seperti spesialis jantung dan ginjal maupun dengan disiplin ilmu lain, seperti mata, ginjal syaraf, bedah ortopedi, rehabilitasi medis, gizi dan lain-lain. Pembahasan tentang komplikasi DM Tipe 2 pada mata, ginjal, syaraf dan jantung telah banyak diuraikan oleh para ahli. Dengan adanya penelitian bahwa telinga bagian dalam juga dapat terjadi mikroangiopati yang dapat mengakibatkan penurunan pendengaran maka peran ahli THT secara lebih awal dapat ikut serta dalam pelayanan terpadu tersebut (Chartrand, 2003; Perkeni, 2006). Penurunan pendengaran pada penderita DM Tipe 2 biasanya bilateral, berlangsung bertahap, bersifat sensorineural terutama pada frekuensi tinggi, sehingga tidak diperhatikan penderita maupun dokter pengelolanya sampai akhirnya terjadi gangguan dalam berkomunikasi verbal. Pada tahap ini oleh karena kelainan yang terjadi pada telinga dalam (auris interna) sudah dalam stadium irreversible atau tidak dapat pulih kembali sehingga satu satunya rehabilitasi pendengaran yang dapat dilakukan adalah pemberian Alat Bantu Dengar (ABD), yaitu diharapkan dapat memperbaiki gangguan komunikasi verbal dan mengurangi beban psikologis penderita karena komunikasi dengan orang lain akan menjadi lebih baik (Chartrand, 2003). Hubungan antara DM dan penurunan pendengaran sampai saat ini masih menjadi perdebatan, masih belum didapatkan konsensus yang adekuat. Beberapa peneliti melaporkan adanya hubungan yang kuat antara DM dan penurunan pendengaran, beberapa lagi melaporkan tidak ada hubungan yang kuat antara DM dan penurunan pendengaran (Lee, dkk, 2008). Bainbridge dkk pada penelitiannya terhadap penderita DM Tipe 2 dengan komplikasi mikrovaskular dengan menggunakan alat ukur audiometri nada murni didapatkan hubungan yang kuat antara penurunan pendengaran dan DM Tipe 2. Setelah dikendalikan faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan penurunan pendengaran seperti usia, pajanan bising, penggunaan obat ototoksik, merokok, dan lain-lain, didapatkan penurunan pendengaran pada penderita DM Tipe 2 pada frekuensi sedang dan tinggi sebesar 54,1% dibanding yang tidak menderita DM 32%, dengan hasil yang bermakna (P<0,001) (Bainbridge, dkk,2008). Fukushima dkk pada penelitiannya tentang efek DM Tipe 2 pada struktur koklea berhasil membuktikan secara bermakna, terjadi penebalan membrana basilaris dan stria vaskularis yang dilihat dengan mikroskop elektron dengan nilai p<0,05 (Fukushima, dkk, 2006). Dalton dkk dalam penelitian hubungan DM Tipe 2 dan penurunan pendengaran didapatkan hasil terjadi penurunan pendengaran yang diukur dengan audiometri nada murni, penderita DM Tipe 2 sebesar 59% dibandingkan yang tidak DM sebesar 44%. Data ini menunjukkan hubungan yang lemah antara DM Tipe 2 dan penurunan pendengaran (Dalton, dkk, 1998). Utomo dalam penelitian Penurunan Pendengaran Pada Penderita Diabetes Melitus tidak Tergantung Insulin dengan menggunakan alat ukur audiometri nada murni dan audiometri tutur didapatkan hasil ada hubungan bermakna terjadinya penurunan pendengaran dengan rasio prevalensi sebesar 2,89% (IK95% 1,33 ; 4,45). (Utomo, 1999). Prihantara dalam penelitian membandingkan DM dengan hipertensi dan DM dengan normotensi, dengan menggunakan alat ukur audiometri nada murni dan audiometri tutur, didapatkan hasil p>0,05 atau tidak bermakna (Prihantara, 2002). Salvinelli, melakukan penelitian dengan melihat ambang dengar penderita DM dan yang tidak DM. Dengan menggunakan alat ukur audiometri nada murni, didapatkan hasil ambang dengar penderita DM 10 – 30 dB, yang tidak DM 10 – 20 dB, hasil ini tidak bermakna (Salvinelli, dkk, 2004).

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister
    Pasca Sarjana > Magister > Magister Kedokteran Keluarga
    Depositing User: Budianto Erwin
    Date Deposited: 15 Jul 2013 23:09
    Last Modified: 15 Jul 2013 23:09
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/5168

    Actions (login required)

    View Item