KOMUNIKASI MASYARAKAT DAYAK NGAJU DALAM UPACARA PERKAWINAN Studi Kasus Proses Komunikasi Budaya dalam Upacara Perkawinan Adat Dayak Ngaju di Kotamadya Palangkaraya Provinsi Kalimantan Tengah

WIWI, NOVIANA (2008) KOMUNIKASI MASYARAKAT DAYAK NGAJU DALAM UPACARA PERKAWINAN Studi Kasus Proses Komunikasi Budaya dalam Upacara Perkawinan Adat Dayak Ngaju di Kotamadya Palangkaraya Provinsi Kalimantan Tengah. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (3495Kb)

    Abstract

    Proses komunikasi masyarakat Dayak Ngaju dalam upacara perkawinan masih berlangsung sampai dengan saat ini. Dalam perkembangannya terjadi perubahan khususnya dalam simbol-simbol non-verbal sebagai akibat dari perkembangan jaman dan interaksi antar masyarakat maupun kelompok dan secara keseluruhan perubahanperubahan yang terjadi dalam upacara perkawinan Dayak Ngaju bisa diterima oleh masyarakat baik itu masyarakat Dayak maupun masyarakat non-Dayak. Proses komunikasi dalam upacara perkawianan Dayak Ngaju bersifat pimer yaitu proses pernyataan pikiran dan perasaan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan dengan menggunakan lambang atau simbol-simbol sebagai media dan kemudian respon yang terjadi bersifat langsung dan seketika. Hal ini relevan dengan saluran yang digunakan yaitu saluran interpersonal. Karena sasarannya adalah kedua keluarga pengantin yang jumlahnya tidak terlalu banyak maka bentuk komunikasi kelompok kecil yang diterapkan dalam proses komunikasi tersebut sangat tepat dengan intensitas yang baik karena komunikator dalam proses ini berperan sebagai perantara antara kedua pihak keluarga sehingga memungkinkan terjadinya komunkasi dua arah antara pihak laki-laki dan perempuan. Dalam setiap aktivitas perkawinan Dayak Ngaju, pesan-pesan berbentuk simbolsimbol verbal maupun non-verbal yang dikomunikasikan oleh luang sebagai komunikator telah sesuai dengan isi dan maksudnya yaitu bentuk ungkapan perasaan pihak laki-laki kepada perempuan. Pesan-pesan disampaikan dengan simbol verbal yaitu bahasa Dayak yang relevan dengan bahasa sehari-hari masyarakat Dayak Ngaju. Simbol non-verbal disampaikan menggunakan benda-benda, tempat maupun peristiwa. Secara keseluruhan simbol-simbol tersebut mempunyai makna sebagai pengatur hidup dalam masyarakat, sebagai upaya untuk mengantisipasi tindakan pergaulan bebas antara pria dan wanita yang dapat melanggar nilai-nilai agama (religi) dan tradisi masyarakat Dayak Ngaju. Seiring dengan arus perkembangan teknologi modernisasi dan globalisasi pada saat ini secara berurutan prosesi upacara perkawinan Dayak Ngaju dari awal sampai akhir tidak mengalami perubahan melainkan tetap dari dahulu sampai sekarang, yang mengalami pergeseran dan perubahan adalah simbol-simbol komunikasi yang digunakan dalam upacara perkawinan Dayak Ngaju. Perubahan simbol-simbol sebagai media komunikasi dalam upacara perkawinan Dayak Ngaju adalah digantinya barang-barang atau alat-alat dari tradisional ke alat-alat yang lebih modern (misal : dahulu mas kawin adalah guci sekarang bisa diganti dengan sesuatu yang lebih praktis didapatkan dengan mudah seperti uang. Perubahan ini dikarenakan masyarakat cenderung memilih sesuatu yang lebih efektif, efesien dan praktis. Sisi ekonomi, masuknya ajaran-ajaran baru, warga Dayak sendiri yang keluar dan menetap di daerah lain maupun media seperti cetak dan elektronik cukup berpengaruh dalam proses perubahan budaya perkawinan Dayak Ngaju. Dalam perkembangannya simbol-simbol komunikasi tersebut memang mengalami perubahan akan tetapi tidak mengubah nilai dan makna di dalamnya. Persepsi warga Dayak Ngaju terhadap perubahan simbol-simbol yang terjadi pada upacara perkawinan adalah bersifat taken for granted, yaitu penerimaan terhadap perubahan itu tanpa mempersoalkannya lagi. Dengan kata lain, perubahan budaya itu dipersepsi sebagai solusi pengganti kebudayaan lama yang masih tradisional ke arah modern tanpa menghilangkan makna-makna yang terkandung di dalamnya hal ini disebabkan adanya ketaatan yang tinggi terhadap adat-istiadatnya. Peran dari unsur agama masyarakat cukup berpengaruh dalam perubahan budaya perkawinan masyarakat Dayak Ngaju. Persepsi masyarakat non-Dayak terhadap perubahan budaya yang terjadi dalam upacara perkawinan Dayak Ngaju, mereka menerima perubahan-perubahan yang terjadi dengan syarat disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Faktor yang menyebabkan mereka mau menerima perubahan tersebut adalah karena kebanyakan dari mereka adalah pendatang yang memang harus menyesuaikan diri dengan budaya dan adat istiadat setempat.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform
    Divisions: Pasca Sarjana
    Depositing User: Users 837 not found.
    Date Deposited: 15 Jul 2013 22:40
    Last Modified: 15 Jul 2013 22:40
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/5138

    Actions (login required)

    View Item