PELAKSANAAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA SMK NEGERI I SRAGEN TAHUN DIKLAT 2008/2009

PRASETYO, SAPTO (2010) PELAKSANAAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA SMK NEGERI I SRAGEN TAHUN DIKLAT 2008/2009. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1625Kb)

    Abstract

    Kualitas sumber daya manusia Indonesia menjadi isu yang serin dibicarakan pada saat ini. Bukan karena adanya peningkatan melainkan diangga tidak mampu bersaing karena kualitasnya yang rendah. Sementara kualitas sumbe daya manusia tentu saja berawal dari bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia. Banyak cara telah dilakukan misalnya pelatihan bagi guru, peningkata kualitas guru, pengadaan buku dan alat – alat penunjang pembelajaran, perbaika sarana dan prasarana, peningkatan kepemimpinan dan manajemen sekolah, tetap ironisnya fluktuasi mutu pendidikan kita tetap jalan di tempat. Reformasi yan telah berlangsung sejak tahun 1998 memberikan kesempatan adanya keterlibata langsung maupun tidak langsung dalam sektor pendidikan. Terlihat bahw sumber-sumber belajar di sekolah lebih banyak mewarnai perilaku peserta didik karena itu pelaku pendidikan perlu melakukan perubahan mendasar baik pad proses maupun output yang siap menghadapi tantangan internal dan eksterna globalisasi. Krisis yang berjalan sampai saat ini yang merupakan bagian dari lahirny reformasi berhasil mempertegas keberadaan tantangan bangsa tentang arti pentin sumber daya manusia yang tangguh, berwawasan luas, terampil dan unggul Sumber daya yang dimaksud hanya dapat dicapai melaui sistem pembangunan pendidikan nasional yang mantap. Visi reformasi pembangunan dalam rangka penyelamatan dan reformasi kehidupan nasional yang tertera dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara tahun 1999 adalah terwujudnya masyarakat Indonesia yang damai, demokratis, berkeadilan, berdayasaing, maju dan sejahtera, dalam wadah NegaraKesatuan Republik Indonesia yang didukung oleh manusia Indonesia yang sehat, mandiri, beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi serta berdisiplin. Menjadi tanggung jawab pendidikan untuk mewujudkan masyarakat berkualitas, terutama dalam mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang makin berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri dan profesional pada bidangnya masing-masing. Hal tersebut diperlukan, terutama untuk mengantisipasi era pasar bebas dilingkungan Asean maupun kawasan Asia Pasifik. Dalam perjalanannya pendidikan nasional terus mengalami dinamika baik menyangkut kurikulum, format materi, sarana dan prasarana, maupun sistem dengan penyempurnaan yang kontinyu. Elastisitas dalam pengembangan pandidikan nasional lebih banyak menggunakan instrumen kurikulum ketimbang komponen lain. Sementara itu menculnya sekolah unggulan, teladan, terpadu, internasional sebagai fenomena baru dalam dunia pendidikan yang mengharuskan adanya pengembangan kurikulum yang disatu sisi memberatkan peserta didik dan disisi lain tidak disertai kontribusi dan kontinuitas pengembang kurikulum, LPTK, dan penyelenggara pendidikan diharuskan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perubahan alam sekitar, perubahan perilaku, politik, ekonomi dan sosial, perkembangan budaya, perkembangan ilmu, dan teknologi serta kehidupan keimanan dan ketaqwaan. Empat permasalahan mendasar yang harus mendapatkan perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan berkaitan dengan menyongsong era pasar bebas dan otonomi daerah, pembangunan kawasan ekonomi, pengedepanan hak asasi manusia, dan civil society adalah: Bagaimana sekolah berperan sebagai motor pendorong penciptaan masyarakat Indonesia baru yang sejahtera, cerdas, hidup dalam knowledge society yang sanggup menjawab tantangan internal dan eksternal? Bagaimana sekolah mampu membangun diri secara kurikuler berpola bottom-up, sekaligus termanajemen secara efisien, efektif, dan produktif?; Bagaimana sekolah dan LPTK mampu membangun diri ketika terjadi proses teknologi dan perubahan perilaku budaya yang cepat? Natsir dalam Muhammad Joko Susilo(2007:3) mengatakan bahwa pembangunan pendidikan di Indonesia sekurang-kurangnya menggunakan empat strategi dasar, yakni : pertama, pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, kedua, relevansi; ketiga, peningkatan kualitas; dan keempat, efisiensi. Secara umum strategi itu dapat dibagi menjadi dua dimensi yakni peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan. Pembangunan peningkatan mutu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan produktifitas pendidikan. Kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan bagi semua usia sekolah adalah hal yang diharapkan pada pemerataan pendidikan. Seiring dengan kemajuan jaman, sekolah sebagai lembaga pendidikan semakin banyak menghadapi tantangan. Salah satunya adalah masalah mutu pendidikan. Persoalan rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah telah membangkitkan banyak pihak untuk melakukan peningkatan kualitas pendidikan, meskipun disadari bahwa upaya peningkatan kualitas pendidikan bukan masalah yang sederhana, tetapi memerlukan penanganan multidimensi dan melibatkan berbagai pihak terkait. Menurut Umaedi yang dikutip oleh Muhammad Joko Susilo (2007: 5) menjelaskan sedikitnya ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan, yaitu : 1. Kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan education production fungtion atau input-output analysis yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. 2. Penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratis- sentralistis. 3. Minimnya peran serta masyarakat, khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan. Berkaitan dengan sekolah sebagai suatu sistem, Mulyasa (2002: 9) menjelaskan bahwa komponen-komponen sekolah sedikitnya terdapat tujuh komponen yang harus dikelola dengan baik, yaitu kurikulum dan program pengajaran, tenaga kependidikan (kepala sekolah, guru, staf), siswa, keuangan, sarana dan prasarana pendidikan, stake holder (komite sekolah), serta pelayanan khusus lembaga pendidikan. Opini yang berkembang dalam dunia pendidikan kita saat ini berkenaan dengan mutu pendidikan baik pada lingkup pendidikan dasar, menengah, maupun perguruan tinggi. Salah satu yang masih hangat adalah dengan diberlakukannya kurikulum tingkat satuan pendidikan yang diharapkan dapat mengantisipasi dan memberikan solusi terhadap rendahnya mutu pendidikan. Kurikulum sekolah adalah instrumen strategis untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia jangka pendek maupun jangka panjang, kurikulum sekolah juga memiliki koherensi yang dekat dengan upaya pencapaian tujuan sekolah dan pendidikan.Oleh karena itu pembaharuan kurikulum harus mengikuti perkembangan, menyesuaikan kebutuhan masyarakat dalam menghadapi masa depan serta menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dasar perlunya perubahan kurikulum menurut Muhadi yang dikutip oleh Muhammad Joko Susilo (2007: 10) : bahwa saat terjadi perkembangan dan perubahan dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara yang perlu segera ditanggapi dan dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum baru pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Di mana peraturan-perundang-undangan yang baru telah membawa implikasi terhadap pengembangan kurikulum seperti pembaruan dan diversifikasi kurikulum. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ditujukan, untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam mengemban identitas budaya dan bangsanya. Kurikulum ini dapat memberikan dasar pengetahuan, keterampilan, pengalaman belajar yang membangun integritas sosial serta membudidayakan dan mewujudkan karakter nasional. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi seperti yang digariskan dalam haluan negara. Hal tersebut diharapkan dapat dijadikan landasan dalam pengembangan pendidikan di Indonesia yang berkualitas dan berkelanjutan. KTSP merupakan suatu konsep yang menawarkan otonomi pada sekolah untuk menentukan kebijakan sekolah dalam rangka meningkatkan mutu, dan efisiensi pendidikan agar dapat memodifikasi keinginan masyarakat setempat serta menjalin kerja sama yang erat antara sekolah, masyarakat, industri, dan pemerintah dalam membentuk pribadi peserta didik. Hal tersebut dilakukan agar sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan serta tanggap terhadap kebutuhan masyarakat setempat. Partisipasi masyarakat dituntut agar lebih memahami pendidikan yang membentuk kecerdasan bangsa, serta mengontrol pengeloaan pendidikan. Dalam konsep ini sekolah dituntut memiliki tanggung jawab yang tinggi, baik kepada orang tua, masyarakat, maupun pemerintah. KTSP adalah memandirikan dan memberdayakan sekolah dalam mengembangkan kompetensi yang akan disampaikan kepada peserta didik, sesuai dengan kondisi lingkungan. Pemberian wewenang (otonomi) kepada sekolah diharapkan dapat mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif. Disamping lulusan yang kompeten, peningkatan mutu dalam KTSP antara lain akan diperoleh melalui reformasi sekolah (school reform), yang ditandai dengan peningkatan partisipasi orang tua, kerja sama dengan dunia industri, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesional guru, adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol, serta hal lain yang dapat menumbuhkembangkan budaya mutu dalam suasana kondusif. SMK Negeri I Sragen di Kabupaten Sragen menyambut baik adanya pemberlakuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sebagai dasar pelaksanaan pembelajaran. Sebelum KTSP diberlakukan lingkungan sekolah merasa bahwa keterlibatan guru dalam meningkatkan prestasi belajar siswa belum maksimal terkendala kurangnya kontribusi guru untuk ikut serta dalam mempersiapkan materi pembelajaran. Melalui kurikulum ini guru mempunyai keleluasaan untuk menentukan materi ajar dengan memadukan kondisi lokal daerah serta adanya perpaduan antara materi pembelajaran disekolah dengan dunia usaha dan industri(DU/DI). Meski demikian belum ada penelitian yang dapat dijadikan sebagai dasar bahwa melalui Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan terdapat adanya peningkatan prestasi belajar siswa, khususnya di SMK Negeri I Sragen. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai Pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa SMK Negeri I Sragen Tahun Diklat 2008/2009.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    Divisions: Pasca Sarjana > Magister
    Pasca Sarjana > Magister > Teknologi Pendidikan
    Depositing User: Budianto Erwin
    Date Deposited: 15 Jul 2013 22:08
    Last Modified: 15 Jul 2013 22:08
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/5082

    Actions (login required)

    View Item