PENGARUH KONSERVATISME LAPORAN KEUANGAN, DAN SIKLUS HIDUP PERUSAHAAN TERHADAP KOEFISIEN RESPON LABA

Setyaningsih, Tara (2009) PENGARUH KONSERVATISME LAPORAN KEUANGAN, DAN SIKLUS HIDUP PERUSAHAAN TERHADAP KOEFISIEN RESPON LABA. Other thesis, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

[img] PDF - Published Version
Download (352Kb)

    Abstract

    Pasar modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu negara. Hal ini disebabkan oleh terdapatnya dua fungsi penting yang dimiliki oleh pasar modal, yaitu; fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Fungsi ekonomi berjalan ketika pasar modal menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu pihak yang memerlukan (investor) dan pihak yang membutuhkan (issuer). Fungsi keuangan disebut sebagai salah satu fungsi karena pasar modal mampu memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbalan (return) bagi pemilik dana sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilihnya. Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas tersebut (Munawir, 2004). Investor merupakan salah satu pihak yang berkepentingan dengan laporan keuangan perusahaan dimana mereka menanamkan modalnya, yaitu untuk mengetahui prospek keuntungan dan perkembangan perusahaan di masa mendatang, jaminan investasi mereka, juga kondisi jangka pendek perusahaan tersebut. Selain itu, para pelaku pasar ini biasanya mendasarkan keputusan ekonominya berdasar informasi dari laporan keuangan. 1 Keputusan ekonomi yang dibuat oleh pelaku pasar berdasar informasi yang diperoleh dari laporan keuangan umumnya tercermin dalam tindakan pelaku pasar yang disebut reaksi pasar. Reaksi pasar dipicu oleh berbagai hal yang salah satunya adalah pengumuman laba. Sejumlah pengumuman laba yang menyebabkan timbulnya reaksi pasar mencakup pengumuman laporan tahunan awal, laporan tahunan rinci, laporan perubahan metode akuntansi, laporan auditor. Informasi mengenai laba dan komponennya menjadi sangat penting bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan, begitu pula dengan investor yang melakukan penilaian perusahaan sebelum melakukan investasinya, karena laba merupakan salah satu parameter kinerja perusahaan. Penggunaan laba akuntansi untuk menilai perusahaan dapat diperhatikan dari hubungan laba akuntansi dan return. Apabila laba dan return memiliki hubungan, maka laba dikatakan memiliki kandungan informasi (Suaryana, 2005). Penelitian mengenai penilaian hubungan antara laba dan harga saham seringkali fokus pada koefisien respon laba, sejak koefisien ini dianggap sebagai pengukur sensitifitas dari return ekuitas terhadap laba kejutan (Park dan Pincus, 2001). Penelitian mengenai hubungan ini sudah dimulai sejak awal 1980. Secara teoritis, koefisien respon laba merupakan suatu koefisien yang berhubungan dengan informasi yang terdapat pada laba akuntansi. Koefisien ini mengukur respon pasar terhadap harga saham atau nilai pasar ekuitas. Berbagai faktor determinansi dari koefisien respon laba banyak diidentifikasi oleh sejumlah penelitian akuntansi, seperti; persistensi laba, pertumbuhan, risiko dari laba, kualitas auditor, dan ukuran perusahaan (Kormendi dan Lipe, 1987; Collins dan Kothari, 1989; Easton dan Zmijewski, 1989; Teoh dan Wong, 1993 dalam Park dan Pincus, 2000). Collins dan Khotari (1989) dalam Setiati dan Kusuma (2004) menyatakan bahwa respon pasar terhadap laba masing-masing perusahaan dapat bervariasi, baik antar perusahaan maupun antar waktu. Oleh sebab itulah koefisien respon laba sering djadikan objek penelitian, terutama mengenai faktor-faktor yang mempengaruhinya. Sejumlah penelitian yang melakukan analisis terhadap koefisien respon laba; Collins dan Kothari (1989) dalam Kim (1998) memasukkan variabel beta, persistensi laba, pertumbuhan dan size dalam pengukurannya terhadap koefisien respon laba. Mereka menemukan bahwa variabel determinan tersebut memiliki dampak penting terhadap koefisien respon laba, namun beta saham ternyata tidak berbeda secara signifikan dari nol. Future earnings juga terlihat terpengaruh oleh kesempatan bertumbuh yang merepresentasikan niai dari kesempatan investasi yang dihadapi perusahaan (Collins dan Kothari, 1989, p.166). Park dan Pincus (2000) yang melakukan studi atas pengaruh internal and external equity funding terhadap koefisien respon laba. Pada studinya menemukan bahwa perusahaan dengan rasio internal dan external equity yang tinggi memiliki beta saham dan costs of equity capital yang lebih rendah. Penelitian mereka konsisten dengan penelitian sebelumnya setelah mereka memasukkan sejumlah variabel kontrol misalnya; persistensi laba, kesempatan bertumbuh, risiko laba, kualitas auditor, dan ukuran perusahaan (Kormendi dan Lipe, 1987; Collins dan Kothari, 1989; Easton dan Zmijewski, 1989; Lipe, 1990; Dhaliwal et al., 1991; Teoh dan Wong, 1993). Sejumlah penelitian mengenai koefisien respon laba yang telah dilakukan selama ini, berfokus pada determinan koefisien respon laba dengan mengkorelasikan laba kejutan dengan return abnormal saham (Mayangsari, 2004). Berdasar sejumlah penelitian, dan faktor yang mempengaruhi koefisien respon laba, penulis tertarik untuk melakukan studi atas faktor - faktor yang mempengaruhi koefisien respon laba di Indonesia. Dewi (2004) dengan penelitiannya mengenai pengaruh konservatisme laporan keuangan terhadap koefisien respon laba, menunjukkan bahwa; pengujian ERC terhadap laporan optimis dan konservatif tidak ada perbedaan diantara keduanya. Assegaf (2008) kembali menguji pengaruh konservatisme laporan keuangan dengan ERC dengan menambah sejumlah variabel kontrol dan menggunakan pengujian yang berbeda. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa konservatisme berhubungan positif tidak signifikan terhadap earnings response coefficient. Naimah (2005) melakukan studi mengenai pengaruh karakteristik perusahaan terhadap koefisien respon laba dan koefisien respon nilai buku ekuitas. Studi yang dilakukan pada perusahaan manufaktur di BEJ tersebut menunjukkan; (1) koefisien respon laba pada perusahaan besar lebih meningkat dibanding pada perusahaan kecil, (2) namun, ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai buku ekuitas, (3) pada perusahaan yang mengalami pertumbuhan tinggi, pengaruh laba akuntansi terhadap harga saham akan lebih besar dibanding dengan perusahaan yang mengalami pertumbuhan rendah, (4) pengaruh nilai buku ekuitas terhadap harga saham antara perusahaan yang mengalami pertumbuhan tinggi dengan perusahaan yang mengalami pertumbuhan rendah, tidak signifikan, (5) pada perusahaan dengan profitabilitas tinggi, pengaruh laba akuntansi terhadap harga saham akan lebih besar dibanding dengan perusahaan yang mengalami pertumbuhan rendah, (6) pengaruh nilai buku ekuitas terhadap harga saham antara perusahaan yang mengalami pertumbuhan tinggi dan pertumbuhan rendah tidak signifikan. Uyara dan Tuassikal (2003) melakukan moderasi aliran kas bebas dalam hubungan rasio pembayaran dividen dan pengeluaran modal terhadap koefisien respon laba. Penelitian itu berhasil menunjukkan bahwa rasio pembayaran dividen dan koefisien respon laba berbanding lurus sebelum diregresi tanpa memasukan variabel moderasi menunjukkan tidak signifikan secara statistik. Namun setelah dilakukan pengujian dengan variabel moderasi, ditemukan bahwa aliran kas bebas mampu mempengaruhi hubungan antara rasio pembayaran dividen dengan koefisien respon laba. Sedangkan untuk variabel pengeluran modal secara mandiri ternyata tidak dapat dapat menjelaskan variasi earnings response coefficient.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > HB Economic Theory
    Divisions: Fakultas Ekonomi > Akuntansi
    Depositing User: Ahmad Santoso
    Date Deposited: 15 Jul 2013 21:34
    Last Modified: 15 Jul 2013 21:34
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/5045

    Actions (login required)

    View Item