HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DUKUN BAYI DENGAN TINDAKAN PERAWATAN BAYI BARU LAHIR DI PUSKESMAS TANGEN DAN PUSKESMAS SUKODONO KABUPATEN SRAGEN

Umaningsih, (2009) HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DUKUN BAYI DENGAN TINDAKAN PERAWATAN BAYI BARU LAHIR DI PUSKESMAS TANGEN DAN PUSKESMAS SUKODONO KABUPATEN SRAGEN. Other thesis, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

[img] PDF - Published Version
Download (229Kb)

    Abstract

    Masa pertumbuhan dan perkembangan bayi merupakan masa yang sangat rentan terhadap berbagai jenis penyakit ataupun infeksi. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Individu (SDKI) 2007, di Indonesia angka kematian neonatal 34 per 1000 lahir hidup dan angka kematian neonatal dini (umur 0 – 7 hari) 15 per 1000 lahir hidup. Sedangkan menurut SKRT 2001 gangguan perinatal merupakan urutan pertama penyebab kematian. Untuk itu perlu dilakukan perawatan yang lebih intensif agar bayi memperoleh perlindungan dari berbagai macam kuman yang kemungkinan berasal dari jalan lahir, cara perawatan pertama, lingkungan maupun tempat persalinan (Dep. Kes, WHO, 2004) . Tenaga yang sejak dahulu sampai sekarang dipercaya masyarakat di desa dalam perawatan bayi adalah dukun bayi. Dukun bayi dalam lingkungannya merupakan tenaga terpercaya dalam perihal yang bersangkutan dengan reproduksi, ia diminta pertimbangannya pada masa kehamilan, mendampingi wanita bersalin sampai persalinan selesai dan mengurus ibu serta bayinya dalam masa nifas. Dukun bayi biasanya seorang wanita umumnya berumur 40 tahun lebih dan buta huruf, ia menjadi dukun bayi karena pekerjaan turun menurun dalam keluarga atau oleh karena ia merasa mendapat panggilan untuk menjalankan pekerjaan itu (Sarwono, P, 2007) . Dalam perjalanannya peranan dukun bayi mulai berubah, dukun bayi sekarang tidak melakukan pertolongan persalinan, melainkan hanya sebagai pendampingan, yang dimaksud disini adalah pendamping bidan dalam pelayanan maternal dan neonatal, hal ini terwujud sebagai bentuk hubungan kerjasama (partnership) antara bidan dan dukun bayi (Depkes, WHO, 2004). Walaupun masyarakat sekarang ini sudah percaya, dan sudah menyadari bahwa pertolongan persalinan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan, begitu juga untuk kunjungan neonatal, namun dalam perawatan bayi baru lahir masyarakat masih menggunakan tenaga dukun bayi, yang biasa dilakukan 0 - 7 hari (sampai lepasnya tali pusat) bahkan sampai 40 hari kelahiran, fenomena seperti ini terjadi karena dukun bayi dianggap tidak hanya memberi pertolongan teknis melainkan dengan emotional security kepada ibu dan keluarga lewat doa – doanya dan dirasa sudah menjadi bagian dari lingkungan masyarakat sosial dan budaya. Jika mengingat kembali bahwa profesi sebagai dukun bayi umumnya merupakan sebuah ilmu turun temurun, ilmu itupun berdasarkan pengetahuan dan pengalaman seseorang saja tanpa didasari ilmu praktek yang jelas, pengetahuan tentang fisiologi dan patologi dalam kehamilan, persalinan serta nifas dan perawatan bayi baru lahir sangat terbatas, sehingga apabila timbul komplikasi ia tidak mampu mengatasi dan bahkan tidak menyadari arti dan akibatnya (Sarwono, P, 2007). Permasalahan terjadi apabila dukun yang memiliki ilmu turun temurun ini benar-benar tidak memiliki pengetahuan yang tepat. Seperti contohnya salah satu tindakan merawat tali pusat, hal yang kelihatan kecil seperti itu dapat mengakibatkan infeksi atau hal yang fatal bila keliru dalam pelaksanaannya (Dep. Kes, WHO, 2004). Memberikan perawatan bayi baru lahir tentu tak semudah memberikan perawatan pada orang dewasa, sehingga tentunya diperlukan tenaga yang benar-benar terampil dan mengetahui standarisasi perawatan bayi baru lahir yang benar, ditambah lagi dengan perubahan ilmu pengetahuan yang terus mengalami perkembangan. Oleh karena itu praktek perawatan bayi baru lahir ini tentunya akan lebih memberikan hasil yang memuaskan bila didukung dengan kebenaran ilmu dan penerapan standar perawatan bayi baru lahir serta tidak dilakukan berdasarkan pengalaman semata. Benjamin Bloom (1998) dalam Notoatmodjo (2003) membagi perilaku manusia menjadi kognitif, afektif, dan psikomotor yang dalam perkembangannya dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan yakni pengetahuan, sikap dan praktek atau tindakan. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang Dari data empiris hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Tangen, Puskesmas Sukodono, Kabupaten Sragen ada 30 dukun bayi yang sekarang sudah tidak aktif dalam melaksanakan pertolongan persalinan namun masih aktif dalam perawatan bayi baru lahir di wilayah tersebut, hal ini biasa mereka lakukan sampai 40 hari kelahiran. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti lain sebelumnya yang berjudul ” Kecenderungan dukun bayi dalam melakukan perawatan bayi baru lahir di wilayah kerja Puskesmas Singosari Kabupaten Malang ” oleh Normawati, AMd. Keb. tahun 2003 dengan hasil tidak ada perbedaan standar dukun bayi dalam melakukan perawatan bayi baru lahir. Dari uraian diatas dan dari berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul ”Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Dukun Bayi Dengan Tindakan Perawatan Bayi Baru Lahir Di Puskesmas Tangen dan Puskesmas Sukodono Kabupaten Sragen”.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Fakultas Kedokteran > D4 - Kebidanan
    Depositing User: Ahmad Santoso
    Date Deposited: 15 Jul 2013 20:51
    Last Modified: 15 Jul 2013 20:51
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/5009

    Actions (login required)

    View Item