PENGARUH PARTISIPASI DI TIM KERJA TERHADAP KOMITMEN ORGANISASI DENGAN PEMBERDAYAAN SEBAGAI PEMEDIASI ( Studi Pada Guru SMK Swasta di Wilayah Kota Boyolali )

Risfandy, Tastaftiyan (2009) PENGARUH PARTISIPASI DI TIM KERJA TERHADAP KOMITMEN ORGANISASI DENGAN PEMBERDAYAAN SEBAGAI PEMEDIASI ( Studi Pada Guru SMK Swasta di Wilayah Kota Boyolali ). Other thesis, Universtas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (741Kb)

    Abstract

    Penggunaan istilah birokrasi akhir-akhir ini dipandang kurang baik. Hoy (2002) mengatakan bahwa hal ini bukan tanpa alasan karena pada faktanya sebuah birokrasi memproduksi kekakuan dan kesesuaian yang belebihan, menghalang-halangi dan mengubah bentuk komunikasi, mengasingkan dan mengekspoitasi pekerja, melumpuhkan dan mengeliminasi inovasi, dan pasif serta acuh terhadap publik. Para feminis menganggap birokrasi sebagai sebuah ciptaan laki-laki yang menguntungkan laki-laki saja sebagai kompetisi dan kekuatan dan mengelakkan nilai kewanitaan seperti kolaborasi dan kesamaan (Martin dan Knopoff dalam Hoy, 2002). Lebih lanjut Hoy (2002) menjelaskan bahwa kepala sekolah, guru, dan eksekutif sekolah menyalahkan bentuk birokrasi sebagai penghalang yang dibuat-buat, yang menghalangi pengembangan program pendidikan untuk memenuhi kebutuhan komunitas sekolah. Berbagai macam alasan itu berasal dari kritik tentang frustasi manusia tentang struktur yang tidak responsif, peraturan yang kaku, dan kebijakan yang tanpa pertimbangan. Kendati demikian, sebagian besar sekolah menggunakan dan menerapkan birokrasi di dalam manajemen sekolahnya, karena setiap sekolah memiliki hierarki kewenangan, divisi karyawan/ tenaga kerja, tokoh, standar tujuan, kompetensi teknis, dan peraturan serta tata tertib, yang semuanya itu terangkum dalam karakteristik sebuah birokrasi klasik. Birokrasi seperti ini sangat dimungkinkan untuk mencapai tingkatan tertinggi efisiensi administratif (Hoy, 2002). Administratif di dalam konteks sekolah memiliki maksud dan pengertian yang sama dengan administrasi pendidikan, manajemen sekolah, atau manajemen pendidikan (Sudrajat, 2008). Manajemen ataupun birokrasi di dalam sebuah sekolah diperlukan karena hal tersebut digunakan untuk mendesain prosedur formal dan hierarki struktur untuk menanggulangi kekacau-balauan serta untuk peningkatan efeisiensi kualitas sekolah tersebut beserta komponen organisasi yang ada di dalamnya menjadi lebih baik lagi (Hoy, 2002). Komponen Manajemen yang ada di sekolah dapat terdiri dari dewan pengurus, pengawas, asisten pengawas, ketua kurikulum, kepala sekolah, wakil kepala sekolah, ketua bidang, guru, dan juga siswa itu sendiri (Hoy, 2002). Guru merupakan profesi yang kompleks dan menantang (Johnson, et. al., 2002). Agar kinerja yang dihasilkannya dapat maksimal, seorang guru harus diberdayakan. Pemberdayaan dapat memudahkan kepemimpinan guru, meningkatkan professionalisme, meningkatkan kualitas kehidupan kerja, dan menyediakan pendirian yang tinggi dalam hal efektifitas pribadi (Katzenmayer and Moller dalam Dee et al., 2002). McBride and Skau dalam Moye, et al. (2004) menjelaskan bahwa seorang guru yang diberdayakan akan lebih termotivasi untuk meningkatkan proses pengajaran di kelasnya. Mereka akan lebih bersemangat untuk berdiskusi dengan pengawas, bahkan lebih lanjut mengundang pengawas tersebut untuk mengunjungi ruang kelasnya. Guru yang diberdayakan membuat lingkungan pembelajaran tidak hanya menjadi milik guru saja, namun murid akan menjadi pasangan/partner bagi guru di dalam proses pembelajaran tersebut. Aktivitas-aktivitas organisasi seperti partisipasi, pengembangan organisasi, dan pemberdayaan merupakan aktivitas-aktivitas yang ada di dalam birokrasi sekolah yang sama dengan organisasi yang lainnya (Hoy, 2002). Moye et al. (2004) menyatakan bahwa memberdayakan bawahan adalah faktor kunci dalam manajerial dan efektifitas organisasi. Pemberdayaan merupakan salah satu cara mendorong dan meningkatkan pengamblan keputusan pada level rendah organisasi (Liden, et al. dalam Moye, 2004). Lebih dari 15 tahun terakhir, organisasi yang ada di Amerika Serikat, maupun yang ada di luar negeri telah mengadakan percobaan dalam tim kerja yang dimanajemen sendiri di dalam organisasinya (Elloy, 2008). Osterman (2000) menyatakan bahwa organisasi di Amerika yang telah menerapkan tim kerja yang dimanajemen sendiri mencapai 30 sampai 55 persen. Organisasi birokrasi tradisional sedang digantikan oleh tim kerja yang dimanajemen sendiri. Fakta ini berarti satu dari perubahan yang ada di organisasi yang sedang terjadi sekarang ini adalah implementasi tim kerja (Mohrman et al.; Hackman; Manz; Manz and Sims dalam Elloy, 2008). Perspektif tim kerja yang ada di dalam birokrasi sekolah menjadi perhatian yang sangat menarik. Sebagai contoh, tim dalam sekolah yang dimanajemen sendiri telah dipuji sebagai tempat kejadian yang penting dimana guru dapat menghubungkan dan mengembangkan rasa potensi mereka (Kirkman and Rosen, 1999). Tim sekolah telah disebutkan dan dipuji sebagai tempat dimana guru dapat bekerjasama untuk menyelesaikan masalah yang sulit, membagi tanggungjawab, dan mempelajari keterampilan yang baru (Dee and Henkin dalam Dee et al., 2002). Fakta-fakta yang terdapat di dalam perkembangan literatur-literatur tim kerja menganjurkan perlunya diteliti lagi kedepan, hubungan potensial antara struktur tim sekolah dan persepsi pemberdayaan guru. Tim Guru yang terdiri dari orang-orang yang saling berhubungan, terdapat rasa kepercayaan, dan komitmen guru yang berkaitan dalam desain kooperatif pembuatan keputusan dapat membuat perubahan yang meningkatkan professionalitas dan hasil pada siswa, dan secara bersamaan menyediakan dukungan sosial dan penghargaan intrinsik organisasi yang meningkatkan budaya collectivistic serta memperkuat keinginan untuk berusaha, dan melanjutkan keanggotaan di dalam organisasi (Dee and Henkin; Harris and Sherblom; Ko; Murphy; Neher; Pounder, dalam Park et al., 2005). Tim yang terdiri dari guru dapat berfungsi untuk menguatkan kembali sekolah. Tim tersebut dapat menjalankan efek struktur institusi konvensional dan pemikiran manajemen birokrasi yang menjamin stabilitas dan prediktabilitas operasional yang dapat meningkatkan kinerja (Park, et al., 2005) Komitmen organisasi bersifat kritis dalam menahan dan menarik personel dengan kualifikasi baik di dalam organisasinya masing-masing. Dalam beberapa tahun terakhir, komitmen organisasi di dalam sekolah telah menjadi sebuah perhatian tersendiri di sebagian besar negara (Joolideh & kerja merupakan studi yang bagus yang mencoba meneliti komitmen organisasi secara lintas budaya, pekerjaan, dan tipe organisasi. Sehingga, dari uraian di atas maka judul penelitian ini adalah “Pengaruh Partisipasi di Tim Kerja pada Komitmen Organisasi dengan Pemberdayaan sebagai Pemediasi”

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    Divisions: Fakultas Ekonomi
    Fakultas Ekonomi > Manajemen
    Depositing User: BP Mahardika
    Date Deposited: 15 Jul 2013 20:31
    Last Modified: 15 Jul 2013 20:31
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/4996

    Actions (login required)

    View Item