PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI BELAJAR MATA PELAJARAN AKUNTANSI KEUANGAN PADA SISWA KELAS XI SMK NEGERI 3 SURAKARTA TAHUN DIKLAT 2007/2008.

Evawati, Tri Asmoro (2010) PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI BELAJAR MATA PELAJARAN AKUNTANSI KEUANGAN PADA SISWA KELAS XI SMK NEGERI 3 SURAKARTA TAHUN DIKLAT 2007/2008. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (603Kb)

    Abstract

    Pendidikan merupakan suatu peristiwa yang kompleks. Peristiwa tersebut merupakan serangkaian kegiatan komunikasi antar manusia sehingga manusia dapat tumbuh sebagai pribadi yang utuh. Suatu pendidikan tidak hanya menyampaikan pengetahuan untuk keperluan sehari-hari, tetapi lebih dari itu yaitu untuk mengembangkan potensi secara optimal, sehingga dengan pendidikan diharapkan siswa dapat menggunakan keadaan sekarang untuk mengantisipasi dan memprediksi kemungkinan di waktu yang akan datang. Pendidikan bagi Bangsa Indonesia merupakan modal dasar dalam pembangunan nasional, karena hal itu menyangkut sumber daya manusia yang dapat mendukung keberhasilan dalam pembangunan. Pembangunan nasional berkaitan dengan keberhasilan pembangunan yang tidak hanya dilihat dari segi ekonomi saja, melainkan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Oleh karena itu pendidikan yang dilaksanakan harus diarahkan untuk meningkatkan kemampuan, memanfaatkan, mengembangkan, dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut Undang-undang No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan di Indonesia dilaksanakan melalui tiga jalur yaitu jalur pendidikan formal, non formal dan informal. Pendidikan formal merupakan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang sudah jelas mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan kejuruan, sampai pendidikan tinggi. Pada pendidikan non formal merupakan pendidikan yang dilaksanakan diluar sekolah dan tidak mengikuti peraturan yang ketat. Sedangkan pendidikan informal merupakan suatu jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Pendidikan di sekolah merupakan pendidikan formal yang berjenjang. Pendidikan berjenjang adalah tahap pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Pendidikan di Indonesia mengenal tiga jenjang pendidikan yaitu pendiidikan dasar (SD/MI/Paket A dan SLTP/MTs/Paket B), pendidikan menengah (SMU, SMK), pendidikan tinggi. Pendidikan Dasar merupakan pendidikan awal selama 9 tahun pertama masa sekolah anak-anak, yaitu di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar terdiri dari pendidikan menengah umum (SMU) dan pendidikan menengah kejuruan (SMK). Pendidikan menengah kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terdapat dua jurusan atau kelompok yaitu Bisnis dan Manajemen, serta Pariwisata. Untuk kelompok Bisnis dan Manajemen terdapat tiga bidang keahlian yaitu Keuangan, Perkantoran, dan Pemasaran. Pada bidang keahlian Keuangan yang didalamnya terdapat program studi Akuntansi yang mempunyai tujuan untuk mempersiapkan tenaga Akuntansi menengah yang mampu mengisi kebutuhan tenaga kerja pada dunia usaha. Untuk menghasilkan output yang berkualitas, oleh karena itu dalam bidang pendidikan diperlukan adanya sarana prasarana dan fasilitas belajar yang memadai. Untuk mengetahui keberhasilan proses belajar mengajar dapat diketahui dari prestasi yang dicapai siswa. Belajar adalah suatu proses yang menimbulkan suatu perubahan atau pembaharuan dalam tingkah laku dan atau kecakapan. Berhasil baik atau tidaknya belajar itu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut dapat digolongkan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri seseorang itu sendiri seperti bakat, minat, kecerdasan, cara belajar, kematangan, dan sebagainnya. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar individu seperti faktor lingkungan alam, lingkungan sosial, dan faktor instrumental yang meliputi bahan pelajaran, sarana dan fasilitas, guru dan sebagainya. Interaksi belajar mengandung suatu arti bahwa adanya kegiatan intekasi dari pengajar yang melaksanakan tugas mengajar di satu pihak, dengan warga belajar (siswa) yang sedang melaksanakan kegiatan belajar dipihak lain. Informasi yang disampaikan guru harus mendapat umpan balik dari siswa maksudnya siswa tidak begitu saja menerima informasi tersebut tetapi siswa juga harus bersikap kritis. Siswa harus bertanya apabila ada materi yang belum jelas bahkan siswa bisa mengoreksi kesalahan guru dalam menyampaikan materi. Guru juga harus menerima hal tersebut dengan lapang dada sehingga benar-benar terjadi proses belajar mengajar antara guru dengan siswa. Kegiatan ini akan berhasil jika didukung dengan fasilitas belajar yang memadai seperti adanya buku sebagai salah satu sumber belajar ataupun alat peraga lainnya. Keberhasilan belajar juga dipengaruhi oleh metode belajar yang diterapkan oleh guru di dalam kelas. Metode belajar yang tepat diharapkan dapat membantu dalam menciptakan suasana proses belajar mengajar yang kondusif sehingga siswa dapat belajar secara efektif dan efisien dan efisien serta tujuan belajar dapat tercapai. Pentingnya suatu metode belajar yang diterapkan guru maka, seoarang guru yang baik dan kreatif akan memilih metode mengajar yang tepat sesuai dengan topik pembahasan, materi dan tujuan pengajaran serta jenis kegiatan belajar siswa yang dibutuhkan. Menurut hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti melalui observasi kelas menunjukkan bahwa terdapat beberapa permasalahan dalam proses pembelajaran akuntansi keuangan di SMK Negeri 3 Surakarta yaitu: (1) KBM Berjalan monoton dan tidak menarik perhatian siswa, (2) Sarana dan prasarana pembelajaran kurang memadai (terbukti dengan tidak semua siswa mempunyai buku paket), (3) Siswa kurang bisa memahami materi akuntansi keuangan, (4) pembelajaran masih bersifat teacher centered dan (5) kurangnya pemahaman guru yang mengembangkan pendekatan metode pengajaran yang berpusat pada siswa (student centered), sehingga pembelajaran akuntansi masih bersifat konvensional. Metode guru biasanya menggunakan metode ceramah dan penugasan. Guru memberikan materi dimana siswa hanya duduk, mendengarkan mencatat dan mengerjakan tugas jika ada. Metode mengajar guru yang seperti ini menyebabkan proses belajar mengajar masih terfokus pada guru dan kurang terfokus pada siswa. Hal ini mengakibatkan kegiatan belajar mengajar lebih menekankan pengajaran daripada pembelajaran. Metode pembelajaran yang digunakan didominasi oleh siswa-siswa tertentu saja. Partisipasi siswa belum menyeluruh sehingga menyebabkan kesenjangan antara siswa yang aktif dengan siswa yang kurang aktif. Siswa yang aktif dalam kegiatan belajar mengajar cenderung lebih aktif dalam bertanya dan menggali informasi dari guru maupun sumber belajar lain sehingga cenderung memperoleh hasil belajar yang baik. Siswa yang kurang aktif cenderung pasif dalam kegiatan belajar mengajar, mereka hanya menerima pengetahuan yang datang padanya dan malas untuk mencari informasi dari guru maupun sumber lain sehingga cenderung memperoleh hasil belajar yang rendah. Keterbatasan akan buku paket yang tersedia di SMK Negeri 3 Surakarta khususnya kelas XI Akuntansi menjadi salah satu hambatan bagi siswa dalam belajar. Selain itu buku paket yang mereka miliki adalah buku pelajaran yang kurikulumnya sudah tidak berlaku lagi untuk sekarang ini sehingga antara materi yang diberikan oleh guru akuntansi keuangan dan buku paket yang mereka miliki berbeda. Kurangnya pemahaman guru akan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa mengakibatkan kegiatan balajar mengajar yang dilakukan akan berjalan secara monoton. Metode yang diterapkan oleh guru yang bersifat konvensional dimana siswa hanya akan duduk, diam, mendengar dan mencatat membuat siswa merasa bosan karena setiap hari mereka harus menjalani metode belajar yang sama dan tidak ada variasi sehingga siswa kurang bersemangat untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Untuk mengantisipasi segala permasalahan tersebut, maka guru harus lebih kreatif dalam memilih metode pembelajaran yang tepat. Metode pembelajaran yang harus dipakai adalah metode yang melibatkan peran siswa secara menyeluruh dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga tercipta suasana belajar yang menyenangkan, aktif, kreatif, bisa bekerja sama dan membangun daya pikir yang optimal. Salah satu metode pembelajaran yang melibatkan peran serta siswa adalah pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini menekankan pada pemberian kesempatan belajar yang lebih luas dan suasana yang kondusif kepada siswa untuk memperoleh serta mengembangkan pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan sosial yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Di dalam pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif, siswa bukan hanya belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru dalam pembelajaran, melainkan dapat belajar dari siswa lainnya serta mempunyai kesempatan untuk membelajarkan siswa yang lain. Ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dari penmggunaan metode pembelajaran kooperatif ini, yaitu: siswa dapat mencapai prestasi belajar yang bagus, menerima pelajaran dengan senang hati atau sebagai hiburan, karena adanya kontak fisik antar para siswa. Disamping itu kemampuan siswa untuk belajar mandiri lebih dapat ditingkatkan (Etin Solihatin dan Rahardjo, 2007: 2-3). Dalam penelitian ini, peneliti mencoba mengkaji penerapan metode pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division (STAD) dalam proses pembelajaran. Menurut Slavin (2008: 12) gagasan utama dari STAD adalah untuk memotivasi siswa supaya dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru. Dalam pembelajaran kooperatif STAD guru hanya bertindak sebagai fasilisator bukan sebagi pemberi informasi. Guru cukup menciptakan suasana atau kondisi yang kondusif bagi peserta didiknya. Pembelajaran kooperatif STAD, siswa ditempatkan kelompok belajar yang beranggotakan 4-5 orang secara heterogen, terdiri dari laki-laki maupun perempuan, memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. guru menyajikan pelajaran, dan kemudian seluruh siswa bekerja sama didalam kelompok mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran tersebut. Kemudian seluruh siswa diberi kuis tentang materi tersebut dan waktu mengerjakan kuis itu siswa tidak diperbolehkan saling membantu. Skor siswa dibandingkan dengan rata-rata skor mereka sebelumnya, dan poin diberikan berdasarkan pada seberapa jauh siswa menyamai atau melampaui kinerja sebelumnya. Poin tiap anggota kelompok dijumlah untuk mendapatkan skor kelompok dan kelompok yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi penghargaan. Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka di rumuskan judul penelitian sebagai berikut: "PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI BELAJAR MATA PELAJARAN AKUNTANSI KEUANGAN PADA SISWA KELAS XI SMK NEGERI 3 SURAKARTA TAHUN DIKLAT 2007/2008".

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    Divisions: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan > Pendidikan Ekonomi
    Depositing User: Budianto Erwin
    Date Deposited: 15 Jul 2013 20:01
    Last Modified: 15 Jul 2013 20:01
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/4972

    Actions (login required)

    View Item