ANALISIS EFISIENSI PENGELOLAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU KEDELAI PADA PERUSAHAAN KECAP PT. LOMBOK GANDARIA FOOD INDUSTRY PALUR KARANGANYAR

TUNJUNG , (2010) ANALISIS EFISIENSI PENGELOLAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU KEDELAI PADA PERUSAHAAN KECAP PT. LOMBOK GANDARIA FOOD INDUSTRY PALUR KARANGANYAR. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (686Kb)

    Abstract

    Indonesia merupakan negara agraris artinya sektor pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang hidup atau bekerja dalam sektor pertanian atau dari produk nasional yang berasal dari sektor pertanian. Pertanian dalam arti luas terdiri dari lima sektor, yaitu tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan. Kelima sektor pertanian tersebut bila ditangani dengan serius sebenarnya akan mampu memberikan sumbangan yang besar bagi perkembangan perekonomian Indonesia mendatang. Salah satu cara penanganannya yaitu dengan berorientasi pada bisnis pertanian atau agrobisnis (Soekartawi, 1999). Salah satu hasil pertanian dari sektor tanaman pangan adalah kedelai. Menurut Hidayat (2009), kedelai merupakan salah satu komoditas pertanian yang cukup penting di Indonesia. Meskipun kedelai bukan merupakan bahan pangan pokok namun kegunaannya yang cukup banyak (yaitu dapat dibuat tempe, tahu, kecap dan sebagainya), dan dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat menjadikan kedelai sebagai bahan baku pangan yang digemari untuk konsumsi. Di dalam pembuatan kecap, kedelai mempunyai peran yang penting karena kedelai merupakan bahan baku utama dalam pembuatan kecap. Persediaan kedelai dalam industri kecap sangat penting, karena jumlah persediaan akan menentukan atau mempengaruhi kelancaran proses produksi serta keefektifan dan efisiensi industri tersebut. Menurut Assauri (1998), jumlah atau tingkat persediaan yang dibutuhkan oleh perusahaan berbeda-beda untuk setiap perusahaan, pabrik, tergantung dari volume produksinya, jenis pabrik dan prosesnya. Persediaan bahan baku dibutuhkan perusahaan untuk menjamin kelancaran proses produksi. Tanpa adanya persediaan, para pengusaha akan dihadapkan pada resiko bahwa perusahaannya pada suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan para langganannya. Hal ini bisa saja terjadi, karena tidak selamanya barang-barang atau jasa-jasa tersedia pada setiap saat, yang berarti pula bahwa perusahaan akan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan yang seharusnya perusahaan dapatkan. Akan tetapi persediaan bahan baku yang terlalu besar akan merugikan perusahaan, demikian pula halnya persediaan bahan baku yang terlalu kecil juga tidak menguntungkan. PT. Lombok Gandaria Food Industry sebagai salah satu produsen kecap juga tidak lepas dari permasalahan bahan baku. Agar perusahaan tetap berproduksi maka perusahaan harus mempunyai persediaan bahan baku yang cukup, mengingat produksi kecap yang dilakukan PT. Lombok Gandaria Food Industry berjalan terus menerus atau secara kontinyu. Bahan baku yang digunakan untuk membuat kecap di PT. Lombok Gandaria adalah kedelai putih kekuningan (Glycine max). Menurut pihak perusahaan kedelai putih mengandung protein lebih tinggi daripada menggunakan kedelai hitam. Kedelai putih mempunyai tekstur yang kasar sehingga akan mempermudah dan mempercepat pertumbuhan jamur. Kedelai yang digunakan berasal dari Jawa Timur yaitu Madiun. Bahan baku kedelai umumnya dibeli dalam jumlah yang besar sesuai dengan kemampuan daya beli perusahaan dan target produksi yang ingin di capai. Selain dimaksudkan untuk cadangan juga untuk mengantisipasi kenaikan harga kedelai yang tidak terduga. Penanganan bahan baku kedelai di PT. Lombok Gandaria Food Industry sudah memenuhi standar yang telah ditetapkan. Menurut Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan (2003), penyimpanan biji kedelai harus memenuhi beberapa syarat yang diperlukan untuk meminimalisir kemungkinan adanya kontaminasi hama, penyakit dan kotoran. Syarat tersebut yaitu: kemasan harus rapat, kadar air harus rendah sekitar 10- 11%, kedelai harus bebas hama dan penyakit, dan kelembaban udara tidak berlebihan. Kedelai mempunyai daya simpan yang cukup lama yaitu 6-12 bulan apabila cara penyimpanannya sesuai dengan ketentuan di atas. Jumlah persediaan bahan baku kedelai untuk tahun 2005-2009 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Persediaan Bahan Baku Kedelai di PT. Lombok Gandaria Food Industry Tahun 2005-2009 Tahun Penambahan Bahan Baku (Kg) Pengurangan Bahan Baku (Kg) Persediaan Akhir (Kg) Harga Kedelai / Kg (Rp) 2005 Triwulan I 38.000 31.985 13.540 4.000 Triwulan II 38.000 35.350 16.190 4.000 Triwulan III 38.000 40.475 13.715 3.900 Triwulan IV 38.000 46.025 5.690 4.000 2006 Triwulan I 38.000 39.700 3.990 3.950 Triwulan II 42.000 41.575 4.415 3.900 Triwulan III 44.000 40.850 7.565 3.850 Triwulan IV 45.000 41.385 11.180 3.400 2007 Triwulan I 40.000 39.840 11.340 3.900 Triwulan II 38.000 38.800 10.540 4.200 Triwulan III 37.000 38.500 9.040 4.450 Triwulan IV 37.000 39.400 6.640 4.600 2008 Triwulan I 34.000 34.700 5.940 6.200 Triwulan II 33.000 34.200 4.740 7.000 Triwulan III 36.000 36.650 4.090 6.700 Triwulan IV 41.000 40.550 4.540 5.900 2009 Triwulan I 41.000 40.575 4.965 5.900 Triwulan II 45.000 41.275 8.690 5.550 Triwulan III 45.000 42.875 10.815 5.500 Triwulan IV 40.000 41.200 9.615 5.700 Sumber: PT. Lombok Gandaria Food Industry Berdasarkan tabel di atas, pembelian kedelai pada tahun 2005 tetap yaitu sebesar 38.000 kg setiap pesannya. Hal tersebut disebabkan karena harga kedelai cenderung tetap yaitu sekitar Rp 3.900,- sampai Rp 4.000,- per kg. Tahun 2006 perusahaan melakukan pembelian kedelai sebesar 38.000 kg di triwulan pertama dan cenderung menambah kuantitas di triwulan berikutnya. Hal tersebut dikarenakan harga kedelai turun yaitu dari Rp 4.000,- hingga Rp 3.400,- per kg. Tahun 2007 harga kedelai mengalami kenaikan dari Rp 3.900,- hingga Rp 4.600,- per kg sehingga dalam melakukan pemesanan pihak perusahaan menyesuaikan dengan target produksi yang akan dibuat. Produksi kecap pada tahun 2007 mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan karena harga jual kecap sedikit dinaikan karena bahan baku kedelai juga mengalami kenaikan. Tahun 2008 harga kedelai sangat tinggi yaitu sebesar Rp 5.900,- sampai Rp 7.000,- per kg. Perusahaan menggurangi kuantitas dalam pembelian kedelai. Pertengahan tahun 2008 harga kedelai mulai mengalami penurunan dari Rp 7.000,- menjadi Rp 5.900,- sampai tahun 2009 harga kedelai sekitar Rp 6.000,- per kg. Perusahaan dalam melakukan pembelian bahan baku kedelai berdasarkan kebiasaan, yaitu setiap tiga bulan sekali. Pembelian bahan baku setiap tiga bulan sekali ini menurut perusahaan dapat menghemat biaya pembelian bahan baku dan menghindari lonjakan harga kedelai yang tiba-tiba meningkat pesat mengingat perkembangan harga kedelai terus mengalami perubahan yang drastis. Perusahaan dalam melakukan pembelian bahan baku memang didasarkan pada harga. Apabila harga kedelai sedang rendah, maka perusahaan akan membeli kedelai dalam jumlah yang besar. Sedangkan apabila harga kedelai tinggi, maka perusahaan mengurangi kuantitas dalam membeli kedelai atau membeli kedelai disesuaikan dengan target produksi yang akan dijalankan. Target produksi dapat diketahui berkat kerja keras sales kecap gandaria. Para sales memantau stock kecap gandaria di supermarket maupun di toko-toko yang menjual produk kecap gandaria. Apabila stock kecap di toko tersebut habis maka sales memberitahu bagian marketing, kemudian marketing memberikan konfirmasi ke bagian PPIC (Planning Produktion Inventory Control), kemudian bagian PPIC membuat jadwal produksi dan selanjutnya jadwal produksi tersebut diserahkan ke bagian produksi agar bagian produksi segera membuat produk sesuai jadwal yang telah ditentukan. Sales penjualan kecap terbagi dalam tiga kelompok sales, yaitu sales horeka (hotel, restoran dan kafe), sales modern (sales di tempat perbelanjaan modern seperti Hipermart, Luwes, dan sebagainya), dan sales tradisional (sales di tempat perbelanjaan tradisional seperti di pasar-pasar tradisional, di toko-toko atau warung-warung kecil). Sales kecap gandaria terbagi juga ke dalam lima wilayah yang masing-masing wilayah terdapat distrik atau gudang produk jadi yaitu Solo 11 orang, Madiun 5 orang, Yogyakarta 7 orang, Semarang 10 orang, dan Kediri 4 orang. Perusahaan mulai melakukan strategi pemasaran agar produk kecap yang dihasilkan mengalami peningkatan melihat di tahun sebelumnya pemasaran kecap sempat menurun akibat lonjakan harga bahan baku yang meningkat. Perusahaan dalam memasarkan produk sudah menggunakan media promosi yaitu dengan iklan di radio, pembagian jam dinding sebagai hadiah apabila ada konsumen yang membeli kecap gandaria di swalayan-swalayan, dan pemasangan spanduk di warung makan atau di jalan-jalan. Pada tahun 2009 yang lalu perusahaan mengadakan undian berhadiah di Luwes Wonogiri. Para pengunjung Luwes yang membeli produk kecap gandaria dapat mengambil undian yang di dalamnya terdapat hadiah apabila beruntung. Hal tersebut merupakan salah satu cara untuk mempertahankan konsumen kecap gandaria dan sebagai media promosi untuk konsumen lain yang sebelumnya belum menggunakan kecap gandaria. Dalam pengelolaan bahan baku khususnya kedelai perusahaan mempunyai kebijakan dalam melakukan pembelian kedelai tidak menunggu persediaan kedelai di gudang habis baru membeli. Perusahaan selalu menyisakan bahan baku (tapi jumlahnya tidak menentu) dari pembelian terakhir agar apabila sewaktu-waktu dalam melakukan pemesanan kedelai terjadi keterlambatan, perusahaan masih bisa mengatasi permintaan produksi. Jadi produksi tidak berhenti karena tidak tersediaanya bahan baku di gudang. Jenis kecap yang diproduksi oleh PT. Lombok Gandaria Food Industry adalah kecap manis dan kecap asin. Kecap manis disini masih dikelompokkan dalam dua tingkatan mutu, yaitu: Mutu 1: Kecap Lombok Gandaria Merah Kecap Lombok Gandaria Merah Sate Mutu 2: Kecap Semar Gandaria Merah Kecap Semar Gandaria Kuning Tingkatan mutu kecap berdasarkan sari kedelai hasil pengepresan dan jenis gula yang ditambahkan. Kecap yang dihasilkan PT. Lombok Gandaria Food Industry dipasarkan ke beberapa daerah. Daerah pusat meliputi Surakarta, Sukoharjo, Karanganyar, Klaten, Boyolali, Sragen, Wonogiri. Daerah-daerah lain meliputi Semarang, Salatiga, Pekalongan, Tegal, Magelang, Purwokerto, Pacitan, Yogyakarta, Gunung Kidul, Ngawi, Madiun, Surabaya, dan Malang. Perusahaan membutuhkan kedelai sebagai bahan baku utama dalam proses produksi kecap. Hal inilah yang membuat perusahaan membutuhkan persediaan bahan baku kedelai agar proses produksi dapat berjalan dengan lancar. Agar persediaan bahan baku bisa optimal maka perlu adanya pengelolaan bahan baku sehingga dapat membantu tercapainya suatu tingkat efisiensi penggunaan dana dalam persediaan.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
    Divisions: Fakultas Pertanian
    Fakultas Pertanian > Agribisnis
    Depositing User: Budianto Erwin
    Date Deposited: 15 Jul 2013 19:29
    Last Modified: 15 Jul 2013 19:29
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/4955

    Actions (login required)

    View Item