Peranan Modal Sosial Untuk Strategi Kelangsungan Hidup Ekonomi Rumah Tangga Kaum Difabel Dalam Self Help Group Solo (SHG Solo)

Prasetyo , Suyanto (2010) Peranan Modal Sosial Untuk Strategi Kelangsungan Hidup Ekonomi Rumah Tangga Kaum Difabel Dalam Self Help Group Solo (SHG Solo). Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1884Kb)

    Abstract

    Isu tentang keberadaan kaum difabel sudah dikenal di Indonesia, namun kenyataanya masih banyak masyarakat tidak peduli. Sebenarnya kaum difabel berada diantara lingkungan kita tinggal. Menurut data WHO (World Health Organization) sampai tahun 2002, 3%-5% dari 210 juta penduduk Indonesia atau sekitar 10,5 juta orang adalah kaum difabel. Sementara di kota Solo jumlah kaum difabel pada tahun 2009 diperkirakan mencapai sekitar 6,2 juta orang dan bakal terus bertambah. (Sapto Nugroho, Membawa "Ideologi Kenormalan" Jumat, 25 September 2009 | http://psibkusd.wordpress.com 02:44 WIB). Kaum difabel dari segi kuantitas merupakan kelompok minoritas dalam masyarakat, tetapi mereka masih memiliki potensi yang dapat diandalkan sesuai dengan kecacatannya melalui proses-proses khusus dan merekapun merupakan sumber daya manusia yang menjadi aset nasional. Hal ini ditunjang dengan diterimanya Deklarasi Hak-Hak Penyandang Cacat oleh PBB (Perserikatan Bangsa- Bangsa) pada tanggal 9 Desember 1975 yang antara lain menyebutkan bahwa kaum difabel mempunyai hak yang sama dalam masyarakat, termasuk hak untuk berperan serta dan ikut memberi sumbangan pada semua segi ekonomi, sosial, dan politik. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, kaum difabel merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang mempunyai hak, kewajiban dan peran yang sama dengan masyarakat Indonesia lainnya di segala aspek kehidupan dan penghidupan. Akan tetapi Undang-Undang Republik Indonesia No.4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat ini belum terimplementasikan dengan baik di masyarakat. (Demartoto, 2005:2). Melihat kaum difabel yang sedikit jumlahnya dalam masyarakat, berdampak terhadap keberadaan mereka. Kaum difabel tidak diperhatikan oleh masyarakat dan masyarakat bersifat masa bodoh dengan hak-haknya. Bahkan suara kaum difabel seolah tidak terdengar di perbincangan masyarakat dan pihak-pihak pemangku kepentingan. Padahal jika dicermati lebih dalam, kaum difabel ini syarat dengan permasalahan sosial dan ekonomi. Keterbatasan akses kaum difabel terhadap layanan sosial, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, menyebabkan mereka menjadi kelompok yang rentan dengan kemiskinan. Tidak heran jika rata-rata kaum difabel berpotensi penyandang masalah kesejahteraan sosial. Belum lagi persoalan stigma dan negative stereotype masyarakat terhadap keberadaan kaum difabel yang semakin membuat mereka menjadi terpinggirkan secara sosial. Dengan kondisi tubuh yang kurang normal, maka mereka dianggap tidak memiliki kemampuan layaknya orang dengan kondisi tubuh normal. Hal ini juga menyebabkan keberadaan kaum difabel hanya sebagai pelengkap semata dalam kehidupan di masyarakat. Sungguh sangat rendah status/posisi sosial kaum difabel di mata masyarakat. Disamping kurang diakui keberadaanya, kaum difabel dalam pengambilan kebijakan tentang masalah yang dihadapi kurang diikutsertakan, dan kaum difabel saat ada acara-acara sosial atau kerja bakti jarang untuk dilibatkan. Hak-hak kaum difabel yang antara lain berupa hak memperoleh pendidikan, kesempatan kerja atau pengembangan ekonomi, meggunakan fasilitas umum dan mendapatkan informasi, perlindungan hukum, peran politik, jaminan sosial, dan kesehatan serta pengembangan budaya tidak akan pernah mereka dapatkan sebagaimana mestinya. Kalaupun ada, pemberian hak tersebut hanya merupakan lips service atau bahkan promosi untuk kepentingan penguasa atau kelompok tertentu yang memerlukan dukungan ataupun massa. Kaum difabel seakan dianggap sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Kaum difabel yang berada di Solo saat ini sudah membentuk kelompok- kelompok sosial yang sesuai dengan kedifabelannya. Sehingga kelompok sosial inilah menjadi media untuk menyiarkan atau menyuarakan keinginan dan menuntut apa yang menjadi haknya sebagai warga negara yang sah. Saat ini sudah ada sekitar 40 panti yang menangani kaum difabel (Sapto : 2009). Panti atau lembaga tersebut antara lain Self Help Group Solo (SHG Solo), Yayasan Talenta, Yayasan Interaksi, Pusat Pengembangan dan Pelatihan Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (PPRBM) Prof. Dr. Soeharso Solo, Ikatan Motor Roda Tiga Solo (IMRTS). Maka dari kondisi di atas akhirnya memunculkan masalah terhadap kehidupan kaum difabel di Kota Solo. Contoh masalah aksesibilitas fasilitas umum yang dihadapi oleh kaum difabel adalah adanya pembangunan Pasar Kleco dan Pasar Kembang yang tidak aksesibel menyebabkan kaum difabel kehilangan kesempatan untuk mencari nafkah. Sebelum mengalami renovasi pembangunan, kedua pasar ini merupakan salah satu tempat kaum difabel untuk melakukan aktifitas ekonomi seperti kulakan (Pak Sukarno dan Pak Wiyatno) dan berjualan (tempe kripik di Pasar Kleco). Kaum difabel mulai jarang melakukan aktifitas ekonomi, setelah kedua pasar tersebut mengalami renovasi. Mereka kesulitan dalam mengakses fasilitas umum yang ada di kedua pasar. Dari kasus ini, kaum difabel akan kehilangan matapencahariannya. Sehingga bagi mereka tidak ada lagi pemasukan untuk biaya hidup, biaya pendidikan untuk anaknya dan kesehatan untuk keluarganya. (Memgembalikan Surga Yang Hilang: 2009). Syarat menjadi tenaga kerja atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) harus sehat jasmani dan rohani. Bagi kaum difabel tidak diberi kesempatan, karena dikelompokan tidak sehat jasmani dan rohani atau kecacatanya dianggap sebagai penyakit mental. Dengan adanya persayaratan itu kaum difabel jelas tidak diperhatikan hak-haknya sebagai warga negara, padahal kalau kita mau jujur banyak kaum difabel yang memiliki kemampuan lebih baik daripada kaum non-difabel. Kaum difabel yang ingin bersekolah masih ditolak di sekolahan-sekolahan umum, dengan alasan akan merepotkan teman atau gurunya. Sekolahan inklusi yang diperuntuhkan bagi kaum difabel juga belum banyak. Dari sudut pandang keluarga, kaum difabel masih sering mendapatkan perlakuan overprotektif dari orang tua. Orang tua membatasi aktifitas kaum difabel dengan dunia luar, seperti melarang untuk bersekolah, bermain atau bergaul dengan masyarakat. Kaum difabel hanya disuruh tetap tinggal di rumah, dibiarkan tanpa ada pembekalan pendidikan dan keterampilan. Tindakan inilah yang sebenarnya memperburuk citra kaum difabel. Sehingga mereka seperti mahkluk tidak berdaya tanpa bantuan orang lain, padahal itu anggapan yang salah. Adanya perlakuan yang khusus dari masyarakat dan overprotektif orang tua berdampak terhadap kaum difabel. Sebagian dari kaum difabel berusaha untuk mandiri dan berkarya. Sebagian mulai mengurung diri dan enggan bersosialisasi dengan dunia luar, yang akhirnya keberadaan kaum difabel semakin tidak dikenal oleh masyarakat. Adanya perbedaan aktifitas kaum difabel ini, maka memicu terjadinya kesenjangan sosial dan keberdayaan dari kaum difabel sendiri. Kaum difabel yang mampu belajar, mandiri dan berkarya, keberdayaannya semakin kuat dalam menghadapi tuntutan kehidupan. Sedangkan yang mengurung diri tetap dalam bayangan ketidakberdayaan seperti manusia yang tidak berguna. Kaum difabel di kota Solo ada yang mempunyai peranan di masyarakat yaitu dalam bidang pemberdayaan dan advokasi (Sunarman CS. Ketua Self Help Group Solo (SHG Solo) dan Direktur PPRBM Prof. Dr Soeharso). Dalam bidang sosial bapak Sukarno, beliau menjadi ketua posyandu lansia di kampung Sidokare, Surakarta, sedangkan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari membuka toko kelontong dirumah. Namun kaum difabel yang hidup digaris kemiskinan masih banyak, untuk sekedar menyambung hidup terpaksa harus menjual kecacatanya menjadi seorang peminta-minta di pinggir jalan atau perempatan rambu-rambu lalu lintas jalan kota dan tempat-tempat umum lainnya. Kaum difabel untuk bangkit dari kondisi kemiskinan adalah suatu hal yang sulit sulit, jika dibandingkan dengan kaum non-difabel. Dalam kontek ini, kaum difabel dihadapkan dengan dua tantangan yaitu tantangan internal (dari diri difabel) dan tantangan eksternal (dari non-difabel). Tantangan internal berupa bayangan ketidakmampuan, ketidaksempurnaan dan ketidakberdayaan tubuh yang dapat menjadi penghambat dalam bekerja dan berkarya. Tantangan eksternal yaitu persaingan dengan kaum non-difabel dalam hal pekerjaan dan peluang usaha serta pelayanan publik. Kaum difabel di kota Solo demi kelangsungan hidup ekonomi rumah tangganya membentuk suatu kelompok atau wadah perkumpulan. Kelompok ini diharapkan bisa menolong, melindungi dan menjadi kekuatan untuk bersaing di segala aspek kehidupan dengan kaum non-difabel. Kelompok ini juga memberi kekuatan dan rasa percaya diri bagi setiap anggata yang tergabung di dalamnya. Kelompok ini salah satunya adalah Self Help Group Solo (SHG Solo), dimana suatu kelompok yang mampu membantu anggotanya untuk bisa mandiri. Terbentuknya SHG Solo bagi kaum difabel merupakan satu cara untuk menghimpun dan mengorganisir aspirasinya. Kaum difabel diharapkan mampu menjadi manusia yang berguna bagi hidupnya, keluarga, masyarakat dan bangsa. Melihat fenomena ini, perlu untuk diadakan kajian (penelitian) tentang modal sosial dan strategi kelangsungan hidup ekonomi rumah tangga kaum difabel dalam Self Help Group Solo (SHG Solo) guna meningkatkan keberdayaannya untuk mandiri dan berkarya di tengah persaingan global yang terjadi dewasa ini.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Sosiologi
    Depositing User: Budianto Erwin
    Date Deposited: 15 Jul 2013 19:22
    Last Modified: 15 Jul 2013 19:22
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/4949

    Actions (login required)

    View Item