PENGARUH DOSIS PUPUK KANDANG SAPI DAN JENIS CM ( CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULAR) TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN PURWOCENG ( Pimpinella pruatjan Molkenb ) DI KECAMATAN SELO, BOYOLALI

Nugroho, Yosep Setyo (2010) PENGARUH DOSIS PUPUK KANDANG SAPI DAN JENIS CM ( CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULAR) TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN PURWOCENG ( Pimpinella pruatjan Molkenb ) DI KECAMATAN SELO, BOYOLALI. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (279Kb)

    Abstract

    Purwoceng ( Pimpinella pruatjan Molkenb ) merupakan salah satu tanaman obat yang tumbuh secara liar di daerah pegunungan. Rahardjo ( 2005 ) menyatakan bahwa purwoceng merupakan tanaman dataran tinggi, yaitu tumbuh pada ketinggian 1.800-3.300 m dpl. Tumbuhan ini juga ditemukan di Pegunungan Alpen, Swiss pada ketinggian 2.000-3.000 m dpl. Penyebaran tanaman purwoceng di Indonesia hanya di daerah Jawa, meliputi Jawa Barat ( Gunung Galunggung dan Pangrango ) , Jawa Tengah ( Pegunungan Dieng ) dan Jawa Timur ( Pegunungan Iyang dan Tengger ) . Purwoceng di Pegunungan Iyang dikenal sebagai suripandak abang, sedangkan di Tengger dinamai gebangan depok. Tanaman purwoceng mempunyai kandungan bahan yang bersifat afrodisiak sehingga keberadaannya semakin dicari orang. Pada mulanya, tanaman purwoceng digunakan oleh penduduk di sekitar pegunungan Dieng untuk pemeliharaan kesehatan. Namun sejalan dengan perkembangan penelitian, tanaman ini berkembang menjadi komoditas tanaman obat sebagai penambah stamina terutama bagi kaum pria atau secara medis disebut afrodisiak. Bahkan kini telah dipopulerkan oleh masyarakat dan kelompok tani setempat dengan sebutan ”Viagra Jawa” ( Yuhono, 2004 ) . Purwoceng terus dicari banyak orang, termasuk juga oleh pelaku usaha obat tradisional maupun obat modern. Seluruh bagian tanaman purwoceng, terutama akarnya berkhasiat untuk meningkatkan stamina tubuh. Rivai et al. ( 1992 ) menyatakan bahwa berdasarkan status erosi genetiknya, tanaman purwoceng dapat dikelompokkan ke dalam kategori genting atau hampir punah. Pesatnya perburuan tanaman purwoceng tanpa diikuti oleh upaya budidaya akhirnya menjadikan tanaman tersebut menjadi langka. Tanpa ada upaya budidaya maka tanaman purwoceng lambat laun pasti akan punah. Purwoceng merupakan salah satu tanaman afrodisiak di Indonesia yang dapat menjadi pengganti ginseng yang diimpor dari Cina dan Korea. Potensi tanaman purwoceng cukup besar, tetapi pengembangannya masih terkendala oleh kesulitan dalam melakukan budidaya di luar habitat aslinya. Purwoceng yang tergolong tanaman langka ini sulit dibudidayakan di luar habitatnya karena membutuhkan persyaratan agroklimat tertentu. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai budidaya tanaman purwoceng di luar habitat aslinya yang memiliki kesesuaian dengan kriteria pertumbuhan tanaman purwoceng sehingga pengembangan budidaya dapat dilakukan secara luas. Dalam budidaya tanaman purwoceng, unsur hara sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, rusaknya struktur tanah dan menurunnya kesuburan biologis tanah. Oleh karena itu, diperlukan suatu cara pemupukan yang ramah lingkungan, yaitu melalui penggunaan pupuk kandang. Penggunaan pupuk kandang diharapkan dapat meningkatkan kandungan metabolit sekunder tanaman purwoceng. Selain itu, cara untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman dapat dilakukan melalui pemanfaatan CMA ( Cendawan Mikoriza Arbuskular ) . Husin dan Marlis ( 2002 ) menyatakan bahwa pemanfaatan mikoriza dapat memperpanjang dan memperluas jangkauan akar terhadap penyerapan unsur hara, sehingga serapan hara tanaman akan meningkat dan hasil tanaman juga akan meningkat.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: S Agriculture > S Agriculture (General)
    Divisions: Fakultas Pertanian > Agribisnis
    Depositing User: Users 831 not found.
    Date Deposited: 15 Jul 2013 19:19
    Last Modified: 15 Jul 2013 19:19
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/4948

    Actions (login required)

    View Item