KEKERASAN DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN FORMAL (STUDI MENGENAI KEKERASAN OLEH GURU TERHADAP SISWA SEKOLAH DASAR DI SURAKARTA)

Saptarini, Yustina (2009) KEKERASAN DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN FORMAL (STUDI MENGENAI KEKERASAN OLEH GURU TERHADAP SISWA SEKOLAH DASAR DI SURAKARTA). Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (360Kb)

    Abstract

    Dalam bidang pendidikan bentuk-bentuk kekerasan terjadi melalui praktik-praktik dan pelaku yang berbeda. Memetakan pelaku kekerasan dalam bidang pendidikan yakni terdiri dari individu, institusi, dan negara. Masing masing pelaku berbeda motivasi, tujuan, dan manifestasi tindak kekerasannya. Ketiga pelaku terlibat langsung dan tidak langsung dalam melanggengkan terjadinya kekerasan terhadap anak didik. Kekerasan yang banyak terjadi di lingkungan sekolah disebabkan karena beberapa faktor diantaranya yaitu, pertama, kurikulum pendidikan yang cukup padat dan sarat beban, menyebabkan anak harus belajar berbagai hal dalam waktu yang ditentukan. Kurikulum yang ada sangat memaksa anak untuk mengikuti dan mengejar pencapaian kurikulum, walaupun apa yang diinginkan kurikulum belum tentu relevan dengan cita-cita anak. Kedua, pengajar saat ini sangat sarat dengan persoalan. Pengajar sebagai tokohkunci, dalam kenyataannya tidaklayak mengajar dan mendidik di sekolah. Intelektualitas pendidik yang rendah namun dipaksa mengejar target kurikulum. Lebih jauh, pergulatan hidup yang berat membuat sebagian pendidik belum mampu mengelola emosi negatif sehinga dapat memperlakukan peserta didik dengan kasar. Kenyataan tentang adanya kasus kekerasan terhadap anak baik di lingkungan masyarakat secara umum maupun di lingkungan sekolah menunjukkan bahwa saat ini banyak terjadi krisis moral. Cerita kekerasan terhadap anak seolah tak pernah ada habisnya. Ini merupakan sebuah indikator bahwa diberlakukannya UU No. 23/2002 tentang Perlindungan anak yang seolah menjadi antiklimaks dari banyak aktivis perlindungan anak saja tidak cukup untuk menurunkan tingkat kejadian kekerasan pada anak, karena yang dibutuhkan adalah kesadaran yang tinggi serta sebuah kerjasama yang baik antara keluaga, masyarakat dan pemerintah terhadap penciptaan perlindungan terhadap anak. Segala bentukkekerasan baik yang ditujukan bagi anak-anak atau orang dewasa merupakan pengabaian terhadap sense of justice. Kekerasan dengan segala manifestasinya tersebut merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan serangan terhadap martabat manusia, sekalipun dalam lembaga pendidikan (www.kakak.org/kakakmenulis). Mengingat bahwa pendidikan adalah ilmu normatif, maka fungsi institusi pendidikan adalah menumbuh-kembangkan subyek didik ke tingkat yang normatif lebih baik, dengan caraatau jalan yang baik, serta dalam konteks yang positif. Disebut subyek didik karena peserta didik bukan merupakan obyek yang dapat diperlakukan semaunya pendidik, bahkan seharusnya dipandang sebagai manusia lengkap dengan harkat kemanusiannya (Assegaf, Ringkasan Laporan 9 Hasil Penelitian Tentang Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan : 2002). Adanya beberapa bentuk kekerasan dalam lembaga pendidikan yang masih merajalela merupakan indikator bahwa proses atau aktivitas pendidikan kita masih jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Disinilah urgensi humanisasi pendidikan. Humanisasi pendidikan merupakan upaya untuk menyiapkan generasi yang cerdas nalar, cerdas emosional, dan cerdas spiritual, bukan menciptakan manusia yang kerdil, pasif, dan tidak mampu mengatasi persoalan yang dihadapi (Assegaf, Ringkasan Laporan Hasil Penelitian Tentang Kondisi dan Pemicu Kekerasan dalam Pendidikan: 2002). Dalam hal ini peneliti mengetengahkan salah satu unsur penting yaitu suatu tindak kekerasan seharusnya tidak terjadi di lembaga pendidikan. Mengingat bahwalembaga pendidikan seharusnya dapat menyelesaikan masalah secara edukatif tanpa harus menggunakan tindak kekerasan. Karena fungsi utama lembaga pendidikan adalah sebagai tempat untuk mendidik dan memberikan ajaran yang baik oleh guru terhadap siswanya. Maka seharusnya segala bentuk permasalahan yang menyangkut struktur dan sistem lembaga pendidikan dapat diselesaikan dengan cara-cara yang mendidik, bukan dengan tindak kekerasan.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    H Social Sciences > HM Sociology
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Sosiologi
    Depositing User: Andika Setiawan
    Date Deposited: 15 Jul 2013 17:34
    Last Modified: 15 Jul 2013 17:34
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/4616

    Actions (login required)

    View Item