ANALISIS KEUNTUNGAN PETANI PADI DI KECAMATAN NOGOSARI KABUPATEN BOYOLALI

CAHYONO , LADY (2010) ANALISIS KEUNTUNGAN PETANI PADI DI KECAMATAN NOGOSARI KABUPATEN BOYOLALI. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (663Kb)

    Abstract

    Indonesia merupakan negara sedang berkembang dan juga negara agraris dengan wilayah daratan yang sangat luas dan didukung oleh stuktur geografis yang sangat menguntungkan untuk usaha pertanian. Letak Negara Indonesia yang berada diantara dua benua yaitu Benua Asia dan Benua Australia, serta terletak diantara dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik menyebabkan Negara Indonesia beriklim tropis. Dan lagi, Indonesia adalah negara kepulauan yang merupakan jalur gunung api yang masih aktif, sehingga tanah di Indonesia memiliki tingkat kesuburan yang tinggi. Sebagai negara agraris dimana dilihat dari jumlah penduduknya, sebagian besar bekerja di sektor pertanian, pembangunan pertanian dalam arti luas perlu terus dikembangkan dan diarahkan menuju tercapainya pertanian yang maju, efisien dan tangguh. Tujuan pertanian di Indonesia layak ditempatkan sebagai prioritas utama agar tercapainya swasembada pangan. Pertanian sebaiknya tidak lagi dipandang sebagai usaha tradisional yang berskala kecil, tetapi lebih dipandang sebagai suatu usaha yang apabila dijalankan dan dikelola dengan baik maka akan sangat menguntungkan, agar produk yang dihasilkan mempunyai kualitas yang mampu bersaing. Untuk itu usaha tani tidak saja memerlukan teknologi pertanian yang mampu meningkatkan kualitas, tapi juga memerlukan manajemen yang baik dalam mengelolanya. Beras yang dihasilkan dari tanaman padi merupakan makanan pokok lebih dari separo penduduk Asia. Di Indonesia beras bukan hanya sekedar komoditas pangan, tetapi juga merupakan komoditas strategis yang memiliki sensitivitas politik, ekonomi, dan kerawanan sosial yang sangat tinggi. Demikian tergantungnya penduduk Indonesia pada beras maka sedikit saja terjadi gangguan produksi beras, pasokan menjadi terganggu, dan harga jual meningkat (Andoko, 2002: 11). Sampai dengan saat ini, pemerintah sangat menaruh perhatian pada sektor pertanian, karena pertanian sebagai penyedia pangan dan merupakan basis perekonomian Indonesia. Meskipun sumbangsih nisbi (Relative Contribution) sektor pertanian yang diukur berdasarkan proporsi nilai tambahnya dalam membentuk Produk Domestic Bruto atau pendapatan nasional tahun demi tahun semakin mengecil, namun tidak berarti bahwa nilai dan perannya semakin tidak bermakna. Nilai tambah sektor pertanian ini dalam menyerap tenaga kerja tetap penting. Sampai dengan tahun 2004, sektor pertanian menyerap tenaga kerja sebesar 40.608.019 orang. Jumlah ini mengalami peningkatan dari 39.743.908 orang di tahun 2001. Di sisi lain, penyerapan tenaga kerja di sektor industri pengolahan cenderung menurun. Pada tahun 2001 tenaga kerja yang bekerja di sektor ini sejumlah 12.086.122 orang (www.bps.go.id dalam Statistik Indonesia, 2004). Pemerintah Indonesia yang sedang berusaha mengembangkan sektor industri, tidak mungkin dapat dipisahkan dari sektor pertanian. Setelah terjadinya krisis moneter yang melanda Indonesia, sektor industri yang selama ini diberikan fasilitas lebih yaitu pemberian kredit yang lebih mudah, berakhir dengan membengkaknya angka pengangguran. Sedang sektor pertanian relatif bisa bertahan sebagai penggerak perekonomian terutama di pedesaan. Usaha untuk meningkatkan produksi pertanian ditempuh dengan cara ekstensifikasi, intensifikasi dan diversifikasi. Usaha ekstensifikasi pada umumnya diartikan perluasan tanah pertanian dengan cara mengadakan pembukaan tanah- tanah baru (Mubyarto, 1994: 78). Usaha ini banyak dilakukan di luar pulau Jawa, mengingat semakin padatnya pulau Jawa dengan industri dan pemukiman penduduk. Meskipun demikian usaha ekstensifikasi yang dilakukan di luar pulau Jawa ini juga mengalami banyak hambatan, diantaranya adalah kurang cocoknya lahan untuk ditanami tanaman pangan, serta belum tersedianya ahli-ahli di bidang pertanian. Usaha intensifikasi dimaksudkan penggunaan lebih banyak faktor produksi tenaga kerja dan modal atas sebidang tanah tertentu untuk mencapai hasil produksi yang lebih besar (Mubyarto, 1994: 77). Dilakukan dengan cara penerapan teknologi baru, dengan menggunakan input-input modern seperti bibit unggul, pupuk kimia, pestisida, insektisida dan pengairan yang baik. Usaha intensifikasi ini dilakukan dengan program panca usaha tani yang meliputi: pemilihan bibit unggul, pengolahan lahan yang baik dan benar, pemakaian pupuk yang tepat, baik tepat jumlah maupun tepat waktu, pemberantasan hama penyakit. Pemilihan bibit unggul ini didasarkan pada bibit unggul yang mempunyai ketahanan terhadap penyakit serta mempunyai produktivitas yang tinggi dan mempunyai umur yang relatif pendek. Dengan keunggulan ini maka lahan pertanian yang relatif sempit dapat dimanfaatkan secara penuh dan diharapkan dapat mempertinggi luas panen dan hasil produksi per satuan hasil lahan. Pengolahan yang baik memungkinkan bibit unggul tersebut tumbuh dan berproduksi sesuai yang diharapkan. Disamping itu, pengolahan tanah yang baik juga memungkinkan terpeliharanya lahan pertanian dari kerusakan-kerusakan akibat erosi. Usaha yang tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan hasil pertanian adalah diversifikasi pertanian. Diversifikasi pertanian adalah menganeka- ragamkan hasil pertanian dengan memanfaatkan tanah, air dan teknologi baru (Rahardjo, 1984: 58). Usaha ini dilakukan dengan tujuan untuk memperbanyak aneka ragam tanaman pertanian sehingga petani tidak hanya tergantung pada satu jenis komoditi pertanian saja, sehingga pada suatu kondisi tertentu petani dapat meningkatkan suatu jenis komoditi lain yang diharapkan dapat memberikan keuntungan yang lebih besar. Dengan semakin banyaknya jenis tanaman, maka fluktuasi harga yang tajam dapat dihindari yang akhirnya tidak akan terlalu merugikan petani. Usaha-usaha di atas perlu ditingkatkan dengan penyelenggaraan yang makin terpadu dan disesuaikan dengan kondisi tanah, air, iklim, pola tata ruang, pembangunan sektor lain, serta kehidupan dan kebutuhan dari masyarakat setempat. Namun demikian, usaha-usaha tersebut tidak akan berhasil apabila petani sebagai pelaku utama tidak dapat menyerap teknologi dan arah kebijaksanaan yang dilakukan pemerintah. Pembangunan pertanian sebagai realisasi dari kebijakan pemerintah telah tersebar di berbagai daerah dengan potensi berbeda. Dikarenakan potensi daerah yang berbeda tersebut, maka pelaksanaan pembangunan pertanian akan didasarkan pada ketersediaan sumber daya alam yang dominan di daerah tersebut dan daya dukung lainnya. Diharapkan pembangunan ini mampu mendorong pemerataan pertumbuhan dan dinamika ekonomi yang lebih baik. Harapan untuk mencapai swasembada beras kini diperkuat oleh tersedia varietas hibrida yang mulai diperkenalkan kepada petani. Dengan menanam padi hibrida, diharapkan peningkatan produksi beras nasional tidak memerlukan investasi untuk peluasan lahan sawah yang biayanya mahal dan sering menimbbulkan konflik sosial maupun lingkungan. Pemerintah telah memfasilitasi pengembangan areal penanaman hibrida dengan pelepasan beberapa varietas hibrida baru, bantuan benih hibrida untuk petani, dan ijin impor benih padi hibrida dari luar negeri. Seperti diketahui pembangunan sektor pertanian di Indonesia masih sangat bertumpu pada wilayah tertentu saja. Wilayah yang paling dominan digunakan untuk usaha pertanian, khususnya padi masih sangat berkisar pada pulau Jawa. Memang tidak bisa dipungkiri meskipun Indonesia mempunyai wilayah yang sangat luas, tetapi tidak semua wilayah tersebut cocok untuk digunakan sebagai lahan pertanian, khususnya padi. Pulau Jawa merupakan salah satu wilayah Indonesia yang dikaruniai dengan kesuburan dan pengairan yang lancar, sangat cocok digunakan sebagai lahan usaha pertanian. Hal ini dapat dibuktikan dengan mayoritas penghasil padi yang paling dominan adalah di pulau Jawa. Di Jawa Tengah, perkiraan produksi padi tahun 2004 mencapai 8,44 juta ton gabah kering giling GKG atau 102,8% terhadap sasaran produksi padi di Jawa Tengah tahun 2004 yaitu 8,21 juta ton GKG dari luas panen 1,59 juta hektar. Besarnya proporsi sasaran produksi padi di Jawa Tengah tersebut mencapai 15,46% dari total sasaran produksi di Indonesia. Perkiraan produksi ini berdasarkan keadaan tanaman dan panen padi yang secara umum hasil panen padi tahun 2004 cukup baik sehingga mendukung persediaan pangan di Jawa Tengah (Media Indonesia, 2004). Di Propinsi Jawa Tengah, Kabupaten Boyolali merupakan wilayah yang masih menyimpan potensi yang sangat besar bagi usaha pertanian, khususnya pertanian padi. Hal ini terlihat bahwa Kabupaten Boyolali terdapat beberapa kecamatan yang sudah mempunyai Lumbung Pangan Masyarakat Desa (LPMB). Dan untuk tahun ke depan akan mulai dicoba program Desa Pangan Mandiri. Kabupaten Boyolali terletak antara 1100 22’ – 1100 50’ Bujur Timur dan 70 7’ – 70 36’ Lintang Selatan, dengan ketinggian antara 75 – 1500 meter diatas permukaan laut. Wilayah Kabupaten Boyolali tergolong cukup luas, dengan jarak bentang dari barat sampai dengan timur adalah 48 km, dan jarak bentang dari utara sampai dengan selatan adalah 54 km. Dengan kondisi wilayah yang mempunyai dua gunung, yaitu Gunung Merapi dan Gunung Merbabu dan juga Kabupaten Boyolali mempunyai 6 sumber mata air dangkal / mata air yang terletak di 6 kecamatan berbeda dan terdapat 4 sungai berbeda yang melintasi 15 kecamatan serta Kabupaten Boyolali mempunyai jenis tanah dan struktur tanah yang bagus menyebabkan Kabupaten Boyolali menjadi wilayah yang potensial dan sangat cocok sebagai daerah pertanian. Salah satu wilayah bagian Kabupaten Boyolali yang paling produktif sebagai daerah penghasil padi adalah Kecamatan Nogosari, seperti dapat dilihat dari tabel 1.1 Tabel 1.1 Luas Panen dan Produksi Padi Sawah di Kabupaten Boyolali Tahun 2006 NO KECAMATAN Luas Panen (Ha) Rata-rata Produksi (Kw/Ha) Produksi (Ton) 1 Selo 9 48,89 44 2 Ampel 813 56,56 4.598 3 Cepogo 18 49,44 89 4 Musuk - - - 5 Boyolali 499 60,04 2.996 6 Mojosongo 1.668 54,77 9.136 7 Teras 2.680 58,47 15.669 8 Sawit 2.283 64,56 14.739 9 Banyudono 3.025 62,26 18.834 10 Sambi 3.843 55,35 21.270 11 Ngemplak 3.321 56,69 18.827 12 Nogosari 4.973 68,44 34.034 13 Simo 3.660 64,45 23.590 14 Karangede 3.019 63,91 19.294 15 Klego 2.323 56,31 13.081 16 Andong 4.326 59,37 25.685 17 Kemusu 972 50,45 4.904 18 Wonosegoro 2.705 51,28 13.870 19 Juwangi 589 47,37 2.790 Jumlah 40.726 59,78 243.450 2005 38.686 55,08 213.081 2004 40.081 53,00 212.432 2003 33.544 55,70 186.846 2002 38.261 54,95 210.256 2001 38.364 54,10 207.549 Sumber: Kabupaten Boyolali dalam angka tahun 2006 Dari data di atas jelas dapat dilihat daerah penghasil utama tanaman padi di Kabupaten Boyolali adalah Kecamatan Nogosari. Hasil produksi padi di Kecamatan Nogosari tahun 2006 mencapai 34.034 ton.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > HB Economic Theory
    Divisions: Fakultas Ekonomi
    Depositing User: Budianto Erwin
    Date Deposited: 15 Jul 2013 17:06
    Last Modified: 15 Jul 2013 17:06
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/4521

    Actions (login required)

    View Item