FASHION DAN IDENTITAS DIRI WARIA Studi Etnografi Simbol-simbol Komunikasi Non-verbal dalam Fashion Sebagai Pembentuk Identitas Diri di kalangan Waria di kota Yogyakarta

B, A'malia (2010) FASHION DAN IDENTITAS DIRI WARIA Studi Etnografi Simbol-simbol Komunikasi Non-verbal dalam Fashion Sebagai Pembentuk Identitas Diri di kalangan Waria di kota Yogyakarta. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (534Kb)

    Abstract

    Waria merupakan suatu subjek komunikasi yang menjadi suatu fenomena komunikasi tersendiri karena mereka berhasil memanfaatkan fashion (pakaian, make up dan aksesoris) untuk mengkomunikasikan tidak hanya kepribadian mereka, tetapi juga identitas subyektif dan obyektif mereka yang bermuara pada pemilihan orientasi seksual yang berbeda dari apa yang dianggap lazim di masyarakat. Waria menjadi contoh dari sekian contoh lainnya bahwa komunikasi memiliki kekuatan yang sangat pekat untuk bisa mempengaruhi segala aspek kehidupan, bahkan hingga ke tingkatan seksual dengan bahasa yang sangat sederhana sekaligus kompleks, fashion. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimanakah proses komunikasi yang terjadi dalam pembentukan identitas diri ini dan pesan apa yang hendak disampaikan waria melalui pemilihan fashionnya tersebut. Penelitian yang melibatkan 9 orang waria dari 7 profesi yang berbeda di kota Yogyakarta ini menerapkan metode etnologi untuk melihat waria sebagai suatu subjek studi yang lekat akan nilai-nilai budaya dan sosial. Melalui penelitian ini tergali lah beberapa kesalahan persepsi yang selama ini, setidaknya ada dalam benak peneliti, tentang sosok waria. Masyarakat awam cenderung menjustifikasi waria sebagai subjek penyimpangan seksual yang berusaha untuk menjadi perempuan untuk memenuhi antara lain hasrat seksualnya. Namun, ternyata ini tidak sepenuhnya benar. Waria tidak sekedar mengaktualisasikan identitas gender ataupun sosial melalui fashion yang mereka pilih, tapi waria menyuarakan pemberontakan, menuntut kesetaraan agar bisa dikategorikan sebagai gender ketiga, bukan laki-laki dan bukan pula perempuan. Anggapan bahwa waria kurang memiliki sense ketika berpakaian dan berdandan yang mengakibatkan tampilan mereka menjadi norak dan berlebihan, ternyata juga salah. Justru sebagai bentuk reproduksi stereotipe sosial mereka, waria dengan sengaja memililih penampilan norak dan berlebihan ini untuk menyatakan bahwa mereka ingin melebihi perempuan dan menjadi pusat perhatian. “Saya waria, bukan perempuan,” ujar mereka. Melalui penelitian sederhana ini peneliti berharap kajian komunikasi semakin kaya, jendela komunikasi semakin lebar dan semakin banyak unsur-unsur unik kehidupan yang akan diteliti dengan pisau komunikasi, terutama etnologi sebagai pisau pembedah yang diambil untuk menafsirkan segala simbol-simbol sosial yang hadir ditengah-tengah kehidupan waria.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    Divisions: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik > Ilmu Komunikasi
    Depositing User: Users 832 not found.
    Date Deposited: 15 Jul 2013 16:35
    Last Modified: 15 Jul 2013 16:35
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/4433

    Actions (login required)

    View Item