Identitas Komunikasi Masyarakat Pasca Konflik: Studi Kasus Kelompok Masyarakat Keturunan Madura di Kota Sampit Pasca Konflik Antar Etnis Tahun 2001

Yonefendi, Yesi (2019) Identitas Komunikasi Masyarakat Pasca Konflik: Studi Kasus Kelompok Masyarakat Keturunan Madura di Kota Sampit Pasca Konflik Antar Etnis Tahun 2001. PhD thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (67Kb)

    Abstract

    Dampak konflik terasa ketika terjadi perubahan terhadap nilai-nilai, norma, dan budaya yang berbeda dari kondisi sebelumnya dalam suatu komunitas. Begitu juga konflik sosial yang pernah terjadi di kota Sampit pada tahun 2001, yakni antara etnis Madura sebagai penduduk pendatang dengan etnis Dayak sebagai penduduk lokal. Konflik memaksa warga pendatang untuk mengungsi keluar wilayah, dan kembali ketika keadaan sudah kondusif dengan kesepakatan yang harus dipenuhi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana identitas kultural dan identitas personal ditunjukkan warga keturunan Madura di kota Sampit pasca konflik. Selain itu penelitian juga bertujuan untuk mengetahui bentuk negosiasi identitas warga Madura setelah kembali hidup dikota Sampit. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap informan dari tokoh warga Madura dan tokoh warga lokal yang mengalami peristiwa konflik. Pendekatan Communication Theory of Identity (CTI), Michael Hecht, digunakan sebagai pisau analisis dalam mengetahui identitas yang beragam. Selain itu untuk mendalami peristiwa komunikasi dalam proses negosiasi identitas, peneliti menggunakan pendekatan Face Negotiation Theory (FNT), Stella Ting-Toomey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas kultural warga Madura di kota Sampit pasca konflik ditandai dengan adanya pergeseran yang meliputi beberapa aspek penting yaitu bahasa, pakaian, tradisi dan kesenian. Bahasa ditandai dengan tergantikannya bahasa Madura sebagai bahasa pergaulan menjadi bahasa Banjar. Pakaian ditandai dengan hilangnya tradisi pakaian adat pesa’an setelah konflik. Sedangkan tradisi arisan menunjukkan adanya akulturasi budaya dengan budaya lokal. Kesenian, ditandai hilangnya kesenian tradisional Madura pasca konflik. Pergeseran empat aspek identitas kultural menunjukkan dua hal penting yaitu akulturasi dan krisis atas budaya. Hal ini merupakan hasil negosiasi identitas kultural warga keturunan Madura di Kota Sampit. Negosiasi ditentukan identitas personalnya dan dipengaruhi oleh pengalaman konflik dan peran tokoh dari kalangan Madura dan masyarakal lokal. Kata kunci : identitas kultural, identitas etnis, negosiasi identitas, pasca konflik, komunikasi antar budaya. Yesi Yonefendi. S231608036. 2018. Communication Identity of Post-Conflict Community (Case Study of Madurese Community Groups in Sampit Post Conflict Ethnic at 2001). TESIS. First Counselor: Prof. Drs. Pawito, Ph.D, Second Counselor: Prof. Mahendra Wijaya, M.S., Communication Science Study Program, Post-Graduate, Sebelas Maret University, Surakarta. Email: yon.efendi05@student.uns.ac.id Abstract The conflict impact will be appear when there is a change of values, norms, and cultures, that different from the previous conditions in a community. Likewise the social conflicts have occurred in Sampit at 2001, between Madurese as immigrants ethnic with Dayaks as local residents ethnic. The conflict forced migrants to evacuate outside from conflict area, and returned when the conditions were conducive with any agreement must be fulfilled. The purpose of this study was to find out how cultural identity and personal identity were shown by citizens of Madurese in Sampit after conflict. In addition, the research also aims to find out form of negotiation of Madurese identity after returning to Sampit. This study uses qualitative research approach with a case study method. The study was conducted by interviewing informants from Madurese leaders and local community leaders who experienced with conflict events. The Communication Theory of Identity (CTI) approach, Michael Hecht, is used to analysis in identifying diverse identities. Furthermore, the process of communication will occur in identity negotiation, the researchers revealed it using Face Negotiation Theory (FNT) approach, Stella Ting-Toomey. The results showed that the cultural identity of Madurese in Sampit after conflict was marked by a change that included several important aspects, namely language, clothing, tradition and art. Language is characterized by the substitution of Madurese language as a social language into Banjar language. Clothing was marked by the loss of traditional clothing which called pesa’an. While the arisan tradition shows the acculturation of culture with local culture. Art, marked by the loss of post-conflict traditional Madurese art that called Sandur and Ronggeng. The four aspects change of cultural identity shows two important item, namely acculturation and crisis of culture. This is the result of cultural identity negotiation of Madurese ethnic in Sampit. Negotiations are determined by their personal identities, also influenced by experiences about conflict and the role of leaders from Madurese and local communities. Keywords: cultural identity, ethnic identity, identity negotiation, post-conflict, intercultural communication.

    Item Type: Thesis (PhD)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    H Social Sciences > HN Social history and conditions. Social problems. Social reform
    Divisions: Pascasarjana > Doktor > Ilmu Komunikasi - S3
    Pascasarjana > Doktor
    Depositing User: Ahadi Muhsin
    Date Deposited: 28 May 2019 20:21
    Last Modified: 29 May 2019 11:24
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/43741

    Actions (login required)

    View Item