MODEL KELEMBAGAAN KONSERVASI HUTAN DAN LAHAN BERPERSPEKTIF GENDER DALAM MENDUKUNG PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (Studi di Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo Hulu Jawa Tengah)

UTAMI, TRISNI (2019) MODEL KELEMBAGAAN KONSERVASI HUTAN DAN LAHAN BERPERSPEKTIF GENDER DALAM MENDUKUNG PENGELOLAAN LINGKUNGAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (Studi di Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo Hulu Jawa Tengah). PhD thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (149Kb)

    Abstract

    ABSTRAK TRISNI UTAMI. T631108008. Model Kelembagaan Konservasi Hutan dan Lahan Berperspektif Gender dalam Mendukung Pengelolaan Lingkungan Daerah Aliran Sungai (Studi di Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo Hulu Jawa Tengah). Promotor: Prof. Dr. Ir. Suntoro, M.S., Ko-promotor: Dr. Prabang Setyono, M.Si., dan Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti N., M.Si. Disertasi Program Doktor Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2018. Konservasi hutan dan lahan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo Hulu merupakan hal penting dalam pengelolaan DAS tersebut; kelembagaan konservasi hutan dan lahan merupakan aspek penting. Hutan dan lahan di kawasan hutan merupakan satu kesatuan ekosistem yang perlu mendapatkan perhatian dari aspek lingkungan karena hutan memiliki fungsi sebagai pengatur tata air, fungsi tata tanah, dan tata udara, dan berfungsi sebagai antisipasi terhadap perubahan Iklim. Kerusakan hutan, terutama di daerah hulu, akan berdampak serius tarhadap penurunan fungsi DAS. Penurunan daya dukung lingkungan di wilayah DAS ini menyebabkan lahan kritis semakin luas, terjadi pendangkalan waduk dan sungai lebih cepat, sering terjadi bencana banjir dan tanah longsor. Penerapan tata kelola kelembagaan yang baik dapat meningkatkan keberhasilan program konservasi hutan dan lahan. Tujuan penelitian desertasi ini adalah mengembangkan Model Kelembagaan Konservasi Hutan dan Lahan Berperspektif Gender dalam Mendukung Pengelolaan Lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS), khususnya di daerah DAS Bengawan Solo hulu. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian adalah: (1) Bagaimanakah kelembagaan yang selama ini berperan dalam konservasi hutan dan lahan untuk mendukung pengelolaan lingkungan DAS Bengawan Solo Hulu?; (2) Apakah kelembagaan yang ada sudah berperspektif gender dilihat dari aspek kesetaraan, pembagian peran dan proses hubungan sosial terjadi?; (3) Bagaimanakah model kelembagaan konservasi hutan dan lahan yang berperspektif gender? Penelitian ini dilakukan di wilayah DAS Bengawan Solo Hulu, yakni: wilayah hutan sosial Jatisrono Kabupaten Wonogiri dan wilayah hutan lindung Segorogunung Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kooperatif (cooperative inquiry) dengan menerapkan metode Rapid Rural Appraisal (RRA). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan Focussed Group Discussion (FGD). Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling berdasar pada kriteria terkait konservasi hutan dan lahan. Analisis SWOT dilakukan untuk melihat kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi perempuan dalam konservasi hutan dan lahan; hasil analisis SWOT berguna untuk menyusun strategi dan rencana aksi. Analisis stakeholders dilakukan untuk mengkaji unsur-unsur (pihak) yang terlibat dalam konservasi hutan dan lahan, selanjutnya mengkaji posisi, peran, dan kekuatan pengaruh masing-masing pihak tersebut. Analisis gender dilakukan untuk mengkaji masalah ketimpangan gender dan cara intervensi untuk mengatasi masalah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelembagaan konservasi hutan dan lahan di wilayah DAS Bengawan Solo Hulu belum optimal; Kelompok Tani Konservasi sebagai pelaku utama konservasi belum dapat berperan secara maksimal. Kelembagaan konservasi hutan dan lahan di wilayah DAS Bengawan Solo Hulu yang telah terbangun selama ini melibatkan berbagai pihak (kelembagaan stakeholders), yakni: Kelompok Tani Konservasi (sebagai pelaku utama konservasi), Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung (BPDAS-HL), Badan Perencanaan Daerah, Dinas Perkebunan dan Kehutanan (DISBUNHUT) / Perhutani, Dinas Lingkungan Hidup, Perguruan Tinggi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM); masing-masing pihak masih bekerja sendiri-sendiri (bersifat sektoral). Posisi Kelompok Tani Konservasi sebagai pelaku utama konservasi masih lemah, cenderung diposisikan sebagai obyek dan belum sebagai subyek, sehingga Kelompok Tani Konservasi belum bisa berperan secara maksimal dalam konservasi. Posisi dan peran perempuan dalam kegiatan konservasi hutan dan lahan masih lemah, baik dalam kepengurusan kelembagaan maupun dalam proses pengambilan keputusan. Hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa perempuan memiliki potensi yang besar dalam konservasi hutan dan lahan dilihat dari sifat ketelatenan, sifat memelihara, peran pengolahan dan pemasaran hasil hutan, serta edukasi peduli lingkungan. Namun, perempuan masih menghadapi kendala untuk terlibat secara optimal dalam konservasi hutan dan lahan disebabkan padatnya kegiatan-kegiatan di ranah domestik. Kelembagaan konservasi hutan dan lahan di wilayah DAS Bengawan Solo hulu belum sepenuhnya berperspektif gender dilihat dari keterlibatan dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi. Pengembangan model kelembagaan konservasi hutan dan lahan di Wilayah DAS Bengawan Solo Hulu dilakukan dengan memperkuat peran dan posisi kelompok tani (sebagai pelaku utama konservasi) pada kelembagaan stakeholders konservasi hutan dan lahan. Kelompok Tani Konservasi sebagai pelaku utama dalam konservasi hutan dan lahan lebih diperkuat posisi tawarnya (bargaining position) dan lebih ditingkatkan perannya, baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, maupun monitoring sehingga terbangun Kelompok Tani Konservasi sebagai komunitas basis peduli lingkungan (Community Base Environment) yang kuat. Penguatan Kelompok Tani Konservasi ini didasarkan pada pengembangan nilai-nilai partisipatif, kemandirian, kesetaraan gender, dan sikap peduli dan berbagi (care-share holder). Model Kelembagaan ini memposisikan pihak-pihak: Pemerintah, Perguruan Tinggi, LSM, dan Pihak Swasta sebagai fasilitator dalam kerjasama antarpihak (stakeholders) untuk memperkuat Kelompok Tani Konservasi. Melalui Kelompok Tani Konservasi yang kuat, peran kelembagaan berperspektif gender dalam program konservasi hutan dan lahan akan lebih berkelanjutan (sustainable). Kata kunci: kelembagaan, konservasi hutan dan lahan, gender, pengelolaan DAS.

    Item Type: Thesis (PhD)
    Subjects: G Geography. Anthropology. Recreation > GE Environmental Sciences
    Divisions: Pascasarjana
    Pascasarjana > Doktor > Ilmu Lingkungan S3
    Depositing User: Ferina Umu Salamah
    Date Deposited: 08 Feb 2019 10:37
    Last Modified: 08 Feb 2019 10:44
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/43211

    Actions (login required)

    View Item