KAJIAN SOSIOPRAGMATIK TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM WACANA AKADEMIK LISAN BERBAHASA INDONESIA: STRATEGI KOMUNIKASI PENGGUNAAN BAHASA LOKAL DI PERGURUAN TINGGI SULAWESI TENGAH

, FATMA (2019) KAJIAN SOSIOPRAGMATIK TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM WACANA AKADEMIK LISAN BERBAHASA INDONESIA: STRATEGI KOMUNIKASI PENGGUNAAN BAHASA LOKAL DI PERGURUAN TINGGI SULAWESI TENGAH. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (144Kb)

    Abstract

    Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan (1) penggunaan bentuk, fungsi, dan kekhasan tindak tutur direktif bahasa lokal yang digunakan dalam wacana akademik lisan di perguruan tinggi Sulawesi Tengah, (2) faktor-faktor yang mempengaruhi adanya pilihan bahasa lokal dalam penggunaan tindak tutur direktif, (3) strategi penggunaan tindak direktif bahasa lokal dalam wacana akademik lisan di perguruan tinggi Sulawesi Tengah, dan (4) keefektifan komunikasi dalam bahasa Indonesia yang diwarnai dengan penggunaan bahasa lokal di perguruan tinggi Sulawesi Tengah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiopragmatik. Data dibagi menjadi dua yaitu jenis data dan wujud data. Jenis data dalam penelitian ini adalah data lisan. Wujud data adalah tuturan lisan dosen dan mahasiswa yang di dalamnya terkandung tindak tutur direktif bahasa lokal. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari tuturan dosen dan mahasiswa dengan mempertimbangkan konteks untuk menganaliss bentuk fungsi, dan strategi yang digunakan oleh setiap partisipan. Metode pengumpulan data dengan cara observasi (2) perekaman dan (3) pencatatan. Teknik analisis data menggunakan model interaktif dimulai dengan (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan simpulan. Pada tahap analisis data digunakan teori pragmatik, khususnya pengklasifikasian tindak tutur direktif oleh Searle (1967), yang dipadupadankan dengan pendekatan sosiopragmatik dan etnografi. Pandangan etnografi komunikasi dari segi sosiolonguistik oleh Hymes dengan akronim SPEAKING yang digunakan terkait dengan komponen tutur yang muncul dalam komunikasi wacana akademik lisan. Temuan penelitian ini menunjukkan bentuk dan fungsi tindak tutur direktif dalam bahasa lokal Kaili, Melayu Bugis, dan Melayu Manado yang ditemukan di lapangan terdiri atas (1) permintaan, (2) saran, (3) perintah, (4) penolakan, dan (5) larangan. Bentuk dan fungsi tindak tutur direktif tersebut ditandai dengan adanya penanda kesantunan tersebut ditandai dengan adanya honorifik sapaan keakraban dan kekerabatan dalam kata kita (anda) dan kata iyee’ (iya) yang merupakan cerminan rasa hormat dan bentuk persetujuan atas permintaan yang merupakan sistem leksikal yang memiliki makna kesantunan dan realisasi budaya mappasikaraja (saling menghargai) dan sipakalebbi (saling menghormati antarsesama), bentuk pronomina -ta (anda) dan enklitik -qi (kamu) menyuratkan kata yang sifatnya imperatif sebagai bentuk ekspresi linguistik kesantunan dalam bahasa Bugis, adanya sapaan kekerabatan dengan menggunakan kata ndi’ (adik) kepada orang yang usianya lebih muda dan kata ganti orang kedua jamak, idi’ (kamu) yang lebih halus daripada iko (kamu). Serta adanya penggunaan penegasan, permohonan dan permintaan dalam bentuk, ji (saja), ‘da (ya?), dan bela (ayolah) berdasarkan konteks yang melatari penggunaan masing-masing kata tersebut Dalam bahasa Kaili dengan ditandai kata iyo (iya), lea (ya) , dan mangkali (barangkali) dan bentuk larangan. Dalam bahasa Melayu Manado dengan ditandai oleh penggunaan kata nyanda’ (tidak) dan jang (jangan) dengan modalitas kase’ (berikan) dan penegasan dang (kan) dan fungsi penolakan dalam bahasa bugis dengan modalitas aii (tidak; penolakan) dan je’(saja). Kekhasan penggunaan bahasa lokal diwarnai dengan adanya penggunaan perubahan vokal, penghilangan vokal, dan penghilangan konsonan. (2) Faktor faktor yang memengaruhi adanya penggunaan bahasa lokal yakni usia, jenis kelamin, strata sosial, tingkat keakraban antarpartisipan, an latar belakang budaya yang sama. (3) Strategi yang digunakan oleh dosen dan mahasiswa adalah strategi langsungdan strategi tidak langsung dengan bentuk dan fungsinya masing-masing. (4) komunikasi berbahasa Indonesia yang diwarnai dengan penggunaan bahasa daerah menjadi lebih efektif ditandai dengan adanya kesesuaian respon ditunjukkan oleh mitra tutur terhadap strategi penggunaan tindak tutur yang disampaikan oleh penutur. Adapun penggunaan tindak tutur dalam bahasa lokal Sulawesi Tengah didominasi oleh bentuk direktif dengan sub-tindak tutur direktif berfungsi untuk memerintah. Kata Kunci: sosiopragmatik, tindak tutur direktif, bahasa lokal, wacana akademik lisan

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: L Education > L Education (General)
    P Language and Literature > P Philology. Linguistics
    Divisions: Pascasarjana > Magister
    Pascasarjana > Magister > Pendidikan Bahasa Indonesia - S2
    Depositing User: Aren Dwipa
    Date Deposited: 04 Feb 2019 10:57
    Last Modified: 04 Feb 2019 10:57
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/43185

    Actions (login required)

    View Item