Efek Laserpunktur Titik GV20 dan ST36 terhadap Pertumbuhan Tulang Panjang Tikus Adolesen (studi molekuler dan stereologi)

HANDAYANI, SELFI (2019) Efek Laserpunktur Titik GV20 dan ST36 terhadap Pertumbuhan Tulang Panjang Tikus Adolesen (studi molekuler dan stereologi). Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (11Kb)

    Abstract

    ABSTRAK Latar Belakang. Tinggi badan akhir seseorang ditentukan oleh pertumbuhan memanjang tulang yang dipengaruhi oleh pertumbuhan memanjang pada cakram epifise. Mekanisme bagaimana proses yang terjadi dalam cakram epifise tergantung dari banyak faktor, yaitu genetik dan lingkungan termasuk hormon dan faktor pertumbuhan baik yang bersifat sistemik atau lokal. Laserpunktur terbukti mempengaruhi pertumbuhan tulang dengan mengubah hormon, enzim dan faktor pertumbuhan tertentu. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan dan menganalisis efek laserpunktur terhadap pertumbuhan memanjang tulang dengan melihat perubahan panjang tungkai, jumlah sel kondrosit dan volume cakram epifise, kadar IGF-1 dan ghrelin pada tikus adolesen. Materi dan Metoda. Penelitian ini adalah eksperimental murni dengan menggunakan tikus putih sebagai subjek penelitian. Sebanyak 40 ekor tikus, usia 3 minggu, jenis kelamin jantan, dibagi secara random menjadi 2 grup, A dan B. Grup A mendapatkan laser selama 10 hari dan B mendapatkan laser selama 15 hari. Setiap grup kemudian dibagi menjadi 4 subgrup, yaitu kontrol (A1 dan B1), subgrup GV20 yaitu mendapatkan laser pada titik GV20 (A2 dan B2), subgrup ST36 yaitu mendapatkan laser pada titik ST36 (A3 dan B3) dan subgrup GV20+ST36 mendapatkan laser pada kombinasi titik akupunktur GV20 dan ST36. Laser yang dipakai adalah semikonduktor level rendah dengan panjang gelombang 635 mA dan power 5mW dan energi 0,3 J/m. Sebelum dan setelah diberi perlakuan, diukur panjang tungkai pada hari ke 8 dan 15, diambil darahnya dari sinus orbitalis untuk pemeriksaan IGF-1 dan ghrelin dengan Eliza dan diambil tibia untuk pemeriksaan histologi cakram epifise. Analisis statistik dengan menggunakan ANOVA dan Kruskal Wallis dilanjtukan dengan uji Pos Hoc. Hasil. Data menunjukkan panjang tungkai bawah subgrup B3 meningkat secara signifikan (p = 0,005), sedangkan subgrup lain meningkat tetapi tidak berbeda secara statistik. Jumlah kondrosit meningkat di semua subgrup secara signifikan. Volume cakram epifise meningkat semua pada grup perlakun tetapi tidak signifikan. Tingkat Ghrelin menurun pada subgrup GV20, dan meningkat pada ST36 dan kombinasi GV20+ST36, tetapi secara statistik tidak berbeda. Kadar IGF-1 pada A2 dan B2 menurun tidak signifikan, tetapi meningkat pada A3, A4, B3 dan B4. Simpulan. Laserpunktur memiliki efek positif dan dapat mengoptimalisasi proses biologi dengan mempengaruhi panjang tungkai bawah, jumlah kondrosit dan volume cakram epifise, kadar ghrelin, IGF-1 serum. Kata kunci: laserpunktur, panjang tungkai, jumlah kondrosit cakram epifise, volume cakram epifise, IGF-1, ghrelin, tikus adolesen

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Pascasarjana
    Pascasarjana > Doktor
    Pascasarjana > Doktor > Ilmu Kedokteran - S3
    Depositing User: Fransiska Meilani f
    Date Deposited: 02 Jan 2019 16:02
    Last Modified: 02 Jan 2019 16:02
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/43071

    Actions (login required)

    View Item