PERPUSTAKAAN UMUM SURAKARTA SEBAGAI PEWUJUDAN RUANG KOMUNIKASI DENGAN PENGOPTIMALAN PENGOLAHAN LANSEKAP

D., Indah Kaartika (2010) PERPUSTAKAAN UMUM SURAKARTA SEBAGAI PEWUJUDAN RUANG KOMUNIKASI DENGAN PENGOPTIMALAN PENGOLAHAN LANSEKAP. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (2861Kb)

    Abstract

    1. Perpustakaan Sebagai Sarana Pengembangan Pendidikan Mandiri Saat ini pendidikan tidak semata-mata didapat melalui pendidikan formal saja, bahkan banyak yang beranggapan pendidikan formal belum cukup. Era teknologi informasi mendorong orang untuk selalu up to date. Oleh sebab itu sarana selain fasilitas pendidikan formal harus dikembangkan dan ditingkatkan. Alasan kenapa harus ditingkatkan dan dikembangkan adalah: a. Kebutuhan manusia akan informasi guna menambah dan mengembangkan wawasan keilmuan maupun kepribadian. Hal ini berkaitan dengan semakin terbukanya jalur perdagangan internasional dan kompetisi global dunia, sehingga manusia modern dituntut untuk banyak belajar baik secara psikologis maupun empiris. b. Membantu mewujudkan salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa (yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945), maka sarana untuk menggugah minat baca masyarakat Indonesia perlu ditingkatkan. Salah satunya melalui perpustakaan umum ini. Salah satu sarana utama yang dapat dikembangkan dan ditingkatkan adalah perpustakan umum. Perpustakaan umum merupakan sebuah fasilitas publik yang sifatnya mandiri. Kemandirian ini maksudnya adalah setiap orang dapat menggali ilmu pengetahuan secara mandiri (sesuai kebutuhannya). Perpustakaan juga sebagai sarana pendidikan diluar sarana formal dan dapat menjadi area komunal yang efektif. 2. Tren/fenomena perkembangan perpustakaan umum ke depan Perpustakaan sekarang ini telah banyak berkembang/berubah, dan perkembangannya tersebut cukup jauh dari karakter-karakter yang sudah ada. Lokasi, desain dan layanan yang ditawarkan berbeda dari contoh-contoh yang berkembang selama periode abad ke-19 dan abad ke-20. Perpustakaan menghadapi banyak tantangan antara lain, bagaimana merespon perubahan demografi dan percampuran kultur (budaya) yang berkembang dengan sangat cepat. Selain itu perpustakaan juga harus menilik ulang peran dan manfaatnya sebagai pusat informasi dan pusat Teknologi Komunikasi. Banyak perubahan yang diharapkan dalam sebuah bangunan perpustakaan, bukan hanya secara fisik namun layanan yang ditawarkan juga harus berubah. Sekarang ini perpustakaan telah memperlihatkan tren/fenomena yang dapat menjadi patokan perkembangannya ke depan. Tren ataupun fenomena ini dimulai pada awal abad ke-21 ditandai dengan pembangunan Sendai Mediatheque oleh Toyo Ito. Tren perkembangan perpustakaan ke depan antara lain2 : 1. Setiap perpustakaan akan lebih sensitif terhadap perubahan demografi dan kultur yang sangat cepat. Hal ini nantinya berpengaruh terhadap prioritas jenis layanan perpustakaan yang diinginkan oleh masyrakat setempat. 2. Perpustkanaan kedepan akan bekerjasama dengan institusi lain yang memiliki sifat pelayanan jasa yang berbeda. 3. Kemampuan adaptasi pada desain internal, sirkulasi, akses dan jam layanan akan menjadi sebuah faktor kunci dalam perencanaan desain dan layout bangunan. 4. Perkembangan minat baca dan literatur menjadi isu sentral pada sebuah perpustakaan dalm sebuah komunitas. 5. Perpustakaan menjadi pusat komunikasi bagi komunitas yang selalu berpindah (mobile population). Hal ini berkaitan dengan perkembangan penggunaan teknologi informasi seperti laptop dan smartphone yang berintegrasi dengan internet. 6. Penyediaan layanan penunjang yang bersahabat dan efisien seperti toilet, kafetaria, dan area rekreasi tenang akan meninkatkan penggunaan perpustakaan dalam waktu lama (setiap orang akan lebih betah untuk tinggal) 7. Keterkaitan elektronik (layanan internet) antara rumah dan perpustakaan akan semakin meningkat. 8. Layanan untuk anak-anak akan semakin berkembang dan semakin diperhatikan dengan seksama. Selama ini fasilitas untuk anak-anak masih dianggap sama dengan fasilitas orang dewasa, belum ada kekhususan dan pengketatan keamanan. 9. Perpustakaan virtual akan melayani selama 24 jam sehari 10. Peranan petugas perpustakaan akan berubah dari seorang penjaga perpustakaan (secara pasif) menjadi navigator pengetahuan (secara aktif). Dengan kata lain etos kerja yang selanjutnya berkembang adalah proaktif dan entrepreneurial. Fenomena terkini telah memperlihatkan bahwa peran perpustakaan pada saat ini telah berkembang dari sekedar pusat penyimpanan dan referensi buku menjadi pusat kemasyarakatan dengan berbagai macam fungsi yang heterogen. Dari preservasi dokumen kuno hingga akses perpustakaan 24-jam. Hal ini nantinya mencerminkan jumlah dan macam layanan yang harus ditawarkan perpustakaan kontemporer. Kebutuhan dan bentuk layanan yang selalu berkembang ini membutuhkan berbagai macam kuantitas dan kualitas ruang yang berbeda-beda. 3. Perpustakaan umum sebagai perwujudan ruang komunal Perpustakaan secara esensi (dasar) merupakan wadah bagi manusia untuk mendapatkan informasi berupa dokumentasi maupun catatan secara digital. Selain itu juga bisa sebagai tempat orang berlomba dalam memperkaya diri akan khasanah ilmu pengetahuan dan keterampilan. Sesungguhnya perpustakaan juga merupakan sebuah area komunal, karena orang dapat datang dan melakukan aktifitas bersama. Secara sadar ruang-ruang komunal yang saat ini berkembang adalah ruang komunal yang bersifat komersial. Banyak ruang komunal terbentuk dalam sebuah mall (pusat perbelanjaan), kafe-kafe dalam berbagai jenis, bahkan toko buku. Dari sini muncul ide untuk menciptakan atau mewujudkan sebuah ruang komunal sekaligus tempat pembelajaran (karena fungsi perpustakaan ini) yang setiap orang dapat masuk tanpa ada segregasi ras, jenis kelamin, usia maupun tingkatan sosial bahkan tanpa retribusi. Jika kita dapat menggabungkan kegiatan-kegiatan tersebut dalam sebuah wadah perpustakan maka manfaatnya akan berlipat ganda. Selama ini perpustakaan dipandang sebagai tempat yang membosankan, wadah untuk buku-buku tua, beberapa dianggap sebagai museum “pembuangan” dokumentasi. Anggapan tersebut seyogyanya diudah untuk meningkatkan peran perpustakaan sebagai ruang komunal. Citra atau gambaran ruang komunal yang berkembang dalam deskripsi masyarakat adalah sebuah ruangan terbuka yang bercirikan suasana alamiah seperti sebuah taman kota. Dengan menangkap sebuah fenomena tersebut, bagaimana mencoba menduplikasikan suasana tersebut dalam sebuah bangunan perpustakaan, hal ini sebagai sebuah pendekatan dari penguatan citra ruang komunal. - 6 - 4. Potensi Pengembangan Perpustakaan di Surakata Kota Surakarta (Solo) merupakan salah satu kota budaya di Jawa Tengah yang sedang berkembang, maka pembangunan di segala bidang pun terus ditingkatkan, salah satunya adalah pengembangan di sektor pendidikan. Hingga saat ini kota Surakarta baru memiliki satu perpustakaan umum resmi yaitu Perpustakaan Umum Daerah Surakarta, berlokasi di Jl. Kolonel Sutarto. Secara umum perpustakaan ini masih minim dari segi arsitektural, kenyamanan pengguna dan pelayanannya. Hal ini merupakan salah satu akibat dari perubahan fungsi bangunan yang dahulu merupakan bangunan sekolah dasar kemudian dialihfungsikan sebagai perpustakaan tanpa disertai upaya renovasi fisik bangunan yang sesuai untuk aktifitas didalamnya. Akibatnya proses kegiatan didalamnya tidak terwadahi dengan baik dan perpustakaan umum menjadi kurang diminati. Media distribusi pustaka di Surakarata masih belum mencukupi kebutuhan dan kurang begitu lengkap, padahal kelancaran distribusi memegang peranan penting dalam hubungannya mensukseskan gerakan gemar membaca guna mewujudkan tujuan nasional bangsa Indonesia. Salah satu contohnya adalah Perpustakaan Umum Surakarta yang kondisi ruang dan bangunannya saat ini kurang mendukung fungsinya sebagai perpustakaan. Pada saat ini, tren peningkatan minat baca di kalangan masyarakat Surakarta terutama kaum muda mulai terlihat. Hal ini diindikasikan melalui sering diadakannya pameran buku di Surakarta, yang rencananya akan menjadi agenda tahunan kota. Selain itu indikasi lainnya adalah semakin maraknya persewaan- persewaan buku yang peminatnya tidak pernah sepi (walaupun jenis bacaannya bersifat ringan dan berkala seperti komik, majalah dan tabloid). Mulai dari persewaan kelas satu sampai persewaan skala mahasiswa. Faktor lainnya yang tak kalah penting adalah cukup besarnya jumlah instansi pendidikan di Kota Surakata3 . Tercatat hingga tahun 2007 tercatat fasilitas pendidikan yang terdiri dari TK (taman kanak-kanak) 258 unit, SD 294 unit, SLTP 75 unit, dan SMU 44 unit. Selain itu Kota Surakarta juga memiliki perguruan tinggi sebanyak 32 unit. Faktor instansi pendidikan ini berkaitan dengan potensi layanan perpustakaan nantinya. Dengan kondisi-kondisi tersebut diatas maka terlihat bahwa potensi pengembangan perpustakaan sebagai sebuah fasilitas yang menunjang kegiatan dari instansi-instansi tersebut, adalah besar dan sangat dimungkinkan. Perpustakaan umum ini nantinya diharapkan bernuansa santai, nyaman dan rekreatif sesuai sifat-sifat kaum urban saat ini. 5. Peluang Pengolahan Lansekap Akibat Perkembangan konsep Green Architecture Berawal dari sebuah wacana yang menunjukkan bahwa jumlah (persentase) ruang terbuka hijau (RTH) di kota-kota besar Indonesia yang semakin sedikit, tak terkecuali di Surakarta, sebagai akibat meningkatnya kebutuhan lahan pemukiman. Padahal tidak sedikit masyarakat yang menggunakan RTH ini sebagai area komunal. Dengan kata lain semakin sedikit RTH, area-area komunal juga mengalami penurunan. Setidaknya area-area komunal ke depan berganti orientasi pengembangannya. Perpustakaan seperti disebutkan sebelumnya juga merupakan bentuk dari ruang komunal, dari sini muncul ide untuk menjadikan bangunan perpustakaan yang sekaligus menjadi ruang komunal baru yang memiliki sifat-sifat fisik RTH. Hal ini dikuatkan dari beberapa preseden yang memperlihatkan kemungkinan bangunan fungsi tertentu juga dapat berfungsi sekaligus sebagai ruang terbuka hijau, contoh preseden yang dapat mewakili adalah Fukuoka Prefectural International Hall karya Emilio Ambasz. Dalam mewujudkan gagasan metode pendekatan yang dilakukan melalui pendekatan pengolahan lansekap. Alasan atau latar belakang yang mendasarinya adalah bahwa saat ini dalam bidang arsitektural sedang berkembang gagasan arsitektur hijau (green architecture). Inti dari gagasan ini adalah mengurangi dampak buruk pembangunan fisik terhadap lingkungan ataupun memperluas alternatif terbentuknya suatu lingkungan hijau baru. Oleh sebab itu asumsi bahwa pendekatan melalui pengolahan lansekap ini nantinya dapat dilakukan, karena hakikatnya dasar pemikiran arsitektur hijau sejalan dengan dasar-dasar pemikiran lansekap sendiri. Lansekap dibanguan dan diolah bukan semata-mata untuk keindahan, melainkan untuk mengurangi maupun memperbaiki kualitas lingkungan biologi. Bentuk lansekap yang menjadi gambaran nantinya adalah bentuk lansekap dimana bangunan adalah bagian langsung dari lansekap atau Bangunan sebagai Lansekap.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: T Technology > TA Engineering (General). Civil engineering (General)
    Divisions: Fakultas Teknik
    Depositing User: Budianto Erwin
    Date Deposited: 15 Jul 2013 03:02
    Last Modified: 15 Jul 2013 03:02
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/4177

    Actions (login required)

    View Item