Peran Faktor Risiko Terhadap Prevalensi Infeksi Menular Seksual dan Infeksi HIV Pada Wanita Pekerja Seks di Surakarta

HASTUTI, RINI (2018) Peran Faktor Risiko Terhadap Prevalensi Infeksi Menular Seksual dan Infeksi HIV Pada Wanita Pekerja Seks di Surakarta. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (102Kb)

    Abstract

    Latar Belakang: Prevalensi infeksi menular seksual (IMS) dan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menunjukkan hasil yang bervariasi di berbagai kota dan negara. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti faktor demografi, sosiologi dan pengetahuan. Apabila faktor risiko yang mempengaruhi prevalensi IMS dan infeksi HIV ini diketahui, maka dapat dibuat program pengawasan dan pencegahan untuk mencegah transmisi IMS dan infeksi HIV sehingga dapat menurunkan prevalensi IMS dan infeksi HIV. Berdasarkan tinjauan terhadap data Dinas Kesehatan Surakarta pada tahun 2016, jumlah layanan IMS dan infeksi HIV pada kelompok wanita pekerja Seks (WPS) di Surakarta hanya sedikit dan lebih berfokus pada layanan infeksi HIV. Tujuan: Penelitian dilakukan untuk mengetahui faktor risiko apa saja yang mempengaruhi terjadinya IMS dan infeksi HIV pada WPS di kota Surakarta, sekaligus untuk mengetahui prevalensi dan hubungan antara IMS dan infeksi HIV pada WPS di kota Surakarta. Metode: Jenis penelitian adalah observasional analitik dengan studi cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 175 subyek dengan menggunakan teknik cluster sampling. Analisis data dilakukan menggunakan analisis bivariat, analisis jalur dengan structural equation modelling (SEM) dan multivariat dengan metode regresi logistik. Hasil: Prevalensi IMS pada penelitian ini adalah sebesar 53,5% yang terdiri dari sifilis 16%, vaginosis bakterialis 16%, infeksi genital non spesifik 10%, kandidiasis vulvovaginalis 6%, trikomoniasis 3%, gonore 2%, dan kondiloma akuminata 0,5%, sedangkan infeksi HIV adalah sebesar 4,5%. Terdapat hubungan antara faktor demografi berupa usia, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan dan tempat bekerja terhadap prevalensi IMS. Terdapat hubungan antara faktor sosiologi berupa kebiasaan merokok, penggunaan minuman beralkohol dan narkoba, jumlah pelanggan, lama menjadi WPS, penggunaan kondom dan kekerasan yang dialami selama menjadi WPS denagn prevalensi IMS. Terdapat hubungan antara faktor demografi berupa usia dan tingkat pendidikan dengan prevalensi infeksi HIV. Terdapat hubungan antara faktor sosiologi berupa jumlah pelanggan dan kekerasan yang dialami selama menjadi WPS dengan prevalensi infeksi HIV. Terdapat hubungan antara pengetahuan berupa pengetahuan tentang IMS dengan prevalensi IMS dan infeksi HIV. Terdapat hubungan antara IMS dengan terjadinya infeksi HIV. Kesimpulan: Prevalensi IMS dan infeksi HIV di kota Surakarta masih cukup tinggi apabila dibandingkan dengan kota lain di Indonesia. Faktor demografi, sosiologi dan pengetahuan mempunyai hubungan yang signifikan dengan prevalensi IMS dan infeksi HIV. Terdapat hubungan antara IMS dengan terjadinya infeksi HIV. Saran: Perlu dilakukan edukasi serta skrining IMS dan infeksi HIV secara rutin, yang disertai dengan kerjasama lintas sektoral dengan semua instansi terkait untuk mengurangi faktor risiko pada WPS sehingga diharapkan dapat menurunkan prevalensi dari IMS dan infeksi HIV. Kata kunci: faktor risiko, IMS, infeksi HIV, WPS

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: R Medicine > RZ Other systems of medicine
    Divisions: Fakultas Kedokteran
    Fakultas Kedokteran > Spesialis Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
    Depositing User: Rifqi Imaduddin Irfan
    Date Deposited: 14 May 2018 11:59
    Last Modified: 14 May 2018 11:59
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/40966

    Actions (login required)

    View Item