HUBUNGAN PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BTA SPUTUM SETELAH PEMBERIAN TERAPI TUBERKULOSIS TAHAP INTENSIF

Sejahtera, Debby Nirma Sari (2018) HUBUNGAN PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BTA SPUTUM SETELAH PEMBERIAN TERAPI TUBERKULOSIS TAHAP INTENSIF. Other thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (276Kb)

    Abstract

    ABSTRAK Debby Nirma Sari Sejahtera, G001464, 2017. HUBUNGAN PEROKOK PASIF DAN KEJADIAN KONVERSI BTA SPUTUM SETELAH PEMBERIAN TERAPI TUBERKULOSIS TAHAP INTENSIF. Skripsi. Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Latar belakang: Penyakit tuberkulosis paru (TB paru) masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat secara global yang menduduki peringkat kedua sebagai penyebab utama kematian akibat penyakit menular. Indikator yang digunakan dalam mengevaluasi dan meningkatkan keberhasilan pengobatan TB paru adalah angka kesembuhan dan angka konversi. Konversi yang tinggi akan diikuti dengan kesembuhan yang tinggi. Asap rokok menjadi faktor eksternal yang mempengaruhi konversi jika orang tersebut terpapar asap rokok dari lingkungannya yang disebut sebagai perokok pasif (secondhand smoker). pajanan asap rokok akan meningkatkan risiko infeksi, sakit, kekambuhan bahkan kematian pada TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perokok pasif dan kejadian konversi BTA sputum setelah pemberian terapi tuberkulosis tahap intensif. Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan studi kohort retrospektif yang dilakukan di poliklinik TB paru Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat di Surakarta. Pengambilan sampel secara consecutive sampling, sampel yang diambil sebanyak 71 orang terbagi ke dalam 2 kelompok berdasarkan status perokok pasif pasien tuberkulosis kasus baru. Kelompok Kontrol (KK) terdiri dari 35 pasien tuberkulosis kasus baru yang bukan perokok maupun perokok pasif, Kelompok Penelitian (KP) terdiri dari 36 pasien tuberkulosis kasus baru yang merupakan perokok pasif. Kedua kelompok telah menyelesaikan terapi tahap intensif secara lengkap dan rutin, kemudian diamati status konversi BTA pasien. Pengumpulan data melalui rekam medik dan data sewaktu sampel. Data dianalisis menggunakan SPSS dengan uji Chi Square. Batas kemaknaan p < 0,05 dan interval kepercayaan 95%. Hasil: Terdapat 1 penderita dari Kelompok Kontrol (KK) yang gagal mengalami konversi BTA sputum setelah menjalani terapi 2 bulan tahap intensif sedangkan dari Kelompok Penelitian (KP) terdapat 11 penderita yang gagal mengalami konversi. Analisis data menggunakan Chi Square dengan taraf signifikansi p < 0,05 didapatkan hasil p = 0,002 dan Relative Risk (RR) = 10,694. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara perokok pasif dan kejadian konversi BTA sputum pada pasien TB paru kasus baru dengan BTA sputum positif yang telah menjalani terapi tuberkulosis tahap intensif. Pasien tuberkulosis yang merupakan perokok pasif memiliki kemungkinan untuk mengalami konversi BTA 10,694 kali lebih rendah daripada yang bukan merupakan perokok pasif maupun perokok aktif.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Fakultas Kedokteran > Pendidikan Kedokteran
    Depositing User: Mujahidah Showafah
    Date Deposited: 03 Apr 2018 13:43
    Last Modified: 03 Apr 2018 13:43
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/40431

    Actions (login required)

    View Item