PENGARUH DURASI RECOVERY TERHADAP KERUSAKAN MIOKARDIUM PADA OVERTRAINING EXERCISE (KAJIAN BIOMOLEKULER DAN PATOBIOLOGI)

W G, MADE KURNIA (2018) PENGARUH DURASI RECOVERY TERHADAP KERUSAKAN MIOKARDIUM PADA OVERTRAINING EXERCISE (KAJIAN BIOMOLEKULER DAN PATOBIOLOGI). PhD thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (127Kb)

    Abstract

    RINGKASAN Overtraining sering terjadi pada periode produktif atlet yang umumnya dipicu oleh program latihan yang buruk (Kreher and schwartz, 2012) dan recovery yang tidak adekuat (Leyland, 2007; Gerche and Heidbuchel, 2014). Padahal, overtraining dapat berpengaruh terhadap penurunan performance, sistem fisiologis dan psikologis atlet (Kreher and Schwartz, 2012 Le Meur et al., 2014). Overtraining belum pernah dikaitkan dengan fenomena sudden cardiac death pada atlet, meskipun data yang lebih akurat mengenai penyebab kematian pada sudden cardiac death masih belum tersedia karena pada umumnya data yang dilaporkan berasal dari hasil pemeriksaan jeazah yang berhasil diotopsi sehingga belum dapat menjelaskan secara akurat penyebab sudden cardiac death pada kasus kematian atlet lainnya. Pada umumnya, penyebab sudden cardiac death ini disebutkan penyebabnya adalah akibat kelainan jantung kongenital (Chandra et al, 2013; Harmon et al, 2014; Chugh and Weiss, 2015). Sementara itu, di sisi lain overtraining dibuktikan menyebabkan kerusakan miokardium pada hewan coba (Flora et al, 2011; Giri et al, 2017). Namun pengaruh recovery sebagai upaya penatalaksanaan alamiah dari overtraining dengan kerusakan miokardium belum dikaji secara mendalam dalam kajian biomolekuler dan patobiologi. Recovery memiliki kedudukan yang sama pentingnya dengan latihan fisik itu sendiri. Recovery yang tidak memadai akan menyebabkan atlet jatuh dalam kondisi overtraining. Recovery seharusnya diberikan dengan metode dan durasi yang disesuaikan dengan dosis latihan yang diberikan. Seringkali pelaku olahraga hanya menitikberatkan pada dosis latihan fisik maksimal tanpa mempertimbangkan kebutuhan recovery sebagai konsekuensi pembebanan latihan fisik tersebut. Keterkaitan antara pengaruh program latihan yang buruk terhadap proses recovery dan akibat recovery tidak adekuat pada atlet dikaji melalui penelitian ini, dan penelitian ini berusaha mencermati lebih lanjut mengenai patomekanisme overtraining pada organ jantung dan kontribusinya pada penyebab sudden cardiac death pada atlet ini melalui kajian biomolekuler dan patobiologi yang akan mengukur kondisi kerusakan miokardium pada overtraining dengan memberikan penatalaksanaan recovery pasca latihan fisik dengan durasi tiga dan tujuh hari pada overtraining pada hewan coba tikus. Melalui metode Enzym Linked Immunoabsorbent Assay (ELISA) dengan menggunakaan skor histological abnormalities dalam bentuk persentase pengamatan terhadap hipertrofi, nekrosis dan kondensasi khromatin, penelitian ini menghasilkan gambaran mengenai kondisi stres oksidatif melalui pemeriksaan biomolekuler dan kondisi gambaran perubahan histopatologis miokardium. Kajian pada penelitian ini menggunakan kajian biomolekuler berupa pemeriksaan konsentrasi Malondialdehide (MDA) dan Superoxide Dismutase (SOD) yang akan mendeskripsikan kondisi ketidakseimbangan oksidan dan antioksidan pada kondisi stres oksidatif. Kajian patobiologi juga dilakukan melalui pemeriksaan histopatologi berupa hipertrofi ventikel kiri, nekrosis dan kondensasi khromatin kardiomiosit. Uji statistik dengan analisis komparasi post test dilakukan terhadap nilai rerata post test masing – masing kelompok. Untuk konsentrasi MDA miokardium, hasil Analisis Of Varians (ANOVA) menunjukkan F= 6,248 dengan p=0,002; konsentrasi SOD miokardium didapatkan nilai hitung F=19,519 dengan p<0,001; Indeks Hipertrofi Ventrikel Kiri antar kelompok didapatkan nilai hitung F=140,732 viii dengan p<0,001; Indeks Nekrosis Miokardium antar kelompok, didapatkan nilai hitung F= 201,911 dengan p<0,001; Indeks kondensasi khromatin pada kardiomiosit antar kelompok didapatkan nilai hitung F= 524,466 dengan p= 0,0001. Uji post hoc menunjukkan tingkat kemaknaan yang berbeda pada konsentrasi MDA dan SOD namun tidak berbeda pada hipertrofi ventrikel kiri, nekrosis dan kondensasi khromatin. Penelitian ini membuktikan bahwa ada perbedaan pengaruh durasi recovery tiga dan tujuh hari terhadap kerusakan miokardium pada overtraining. Recovery menurunkan konsentrasi MDA miokardium, meningkatkan konsentrasi SOD miokardium, namun tidak mencegah terjadinya hipertrofi ventrikel kiri, nekrosis dan kondensasi khromatin. Hasil penelitian ini berimplikasi secara ilmiah dan praktis. Implikasi ilmiah memberikan pengayaan bagi patomekanisme overtraining dan menunjukkan akan pentingnya kajian immunoexercise dalam penelitian di bidang keolahragaan. Manfaat praktis bagi pelaku olahraga yaitu pelatih, atlet, organisasi keolahragaan dan perguruan tinggi keolahragaan tentang urgenitas pencegahan overtraining dan merancang protokol latihan dengan dosis tepat dan bersifat individual bagi atlet

    Item Type: Thesis (PhD)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Pascasarjana
    Pascasarjana > Doktor
    Pascasarjana > Doktor > Ilmu Kedokteran - S3
    Depositing User: faizah sarah yasarah
    Date Deposited: 26 Mar 2018 21:27
    Last Modified: 26 Mar 2018 21:27
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/40177

    Actions (login required)

    View Item