MAGANG TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI RSUP DR SARDJITO YOGYAKARTA

Ekowati, Astriningrum Dyah (2009) MAGANG TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI RSUP DR SARDJITO YOGYAKARTA. Other thesis, Universitas Negeri Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (391Kb)

    Abstract

    Proses industrialisasi yang sedang berlangsung di Indonesia tidak hanya memberikan pencapaian positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga menghasilkan dampak negatif yang mengurangi nilainilai kemanusiaan. Seluruh sektor pekerjaan telah terlibat dalam persaingan yang telah dapat memanfaatkan maksimal tenaga kerja, sehingga sering hakhak tenaga kerja diabaikan begitu saja. Rumah sakit adalah bentuk industri jasa yang tidak berbeda dengan industri barang. Komponen manusia, dan energi yang merupakan aset industri akan menentukan tujuan perusahaan. Industri akan dapat diartikan secara luas tergantung dari karakteristik tiga hal yang berlangsung didalamnya yaitu : 1. Jenis masukan 2. Proses produksi yang berlangsung 3. Jenis keluaran yang dihasilkan Berdasarkan jenis keluaran (out put) yang dihasilkan, maka rumah sakit termasuk di dalam jenis consumer goods industries, oleh karena hasil keluarannya dapat atau akan langsung digunakan oleh konsumen. Berdasarkan pengertian tersebut, maka sistem produksi rumah sakit adalah masukan berupa pasien sakit, obatobat dan bahan penunjang, sedangkan proses produksinya berupa pelayanan ke arah usaha penyembuhan atau perawatan, dan keduanya tersebut dihasilkan keluaran yang berupa orang yang sehat kembali maupun orang mati. Dalam pelaksanaan proses produksi, rumah sakit tidak terlepas dari adanya faktorfaktor serta potensipotensi bahaya yang ada di dalamnya. Masalah yang terjadi di rumah sakit dapat menghambat proses pelayanan, termasuk diantaranya adalah terjadinya kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, kebakaran, maupun akibat dari bencana alam. Untuk itu perlu adanya persiapan dini sebagai pencegahan halhal yang tidak akan ditanggung oleh rumah sakit baik yang bersifat ekonomis maupun non ekonomis. Menyadari akan arti pentingnya penerapan kesehatan dan keselamatan kerja maka Rumah Sakit Dr. Sardjito membentuk suatu panitia untuk mengelola kesehatan dan keselamatan kerja yang dikenal dengan nama Panitia Kesehatan dan Keselamatan Kerja (PK3). Rumah sakit merupakan fasilitas kesehatan yang paling kompleks diantara jenis fasilitas kesehatan yang ada. Kompleksitas rumah sakit ini dapat ditinjau dari jumlah dan karakteristik layanan yang tersedia, luasnya area yang diperlukan untuk menjalankan layanan, jumlah dan ragam personal yang terlibat dalam layanan, jumlah dan ragam personal yang terlibat dalam layanan, serta peralatan dan teknologi yang digunakan dalam penyelenggaraan layanan, serta peralatan dan teknologi yang digunakan dalam penyelenggaraan layanan. Seperti halnya fasilitas kesehatan lainnya, rumah sakit merupakan tempat kerja yang sangat serat dengan potensi bahaya kesehatan dan keselamatan pekerjanya. Risiko terjadinya gangguan kesehatan dan kecelakaan menjadi semakin besar pada pekerja disuatu rumah sakit mengingat rumah sakit merupakan fasilitas kesehatan paling kompleks seperti yang disebutkan sebelumnya dan merupakan tempat yang padat tenaga kerja. Kebutuhan terhadap layanan kesehatan semakin meningkat sebanding dengan pertumbuhan penduduk dan pertambahan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan. Peningkatan kebutuhan ini menyangkut pertambahan jumlah dan besarnya suatu fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit yang berdampak pada peningkatan jumlah pekerja. Tentu saja pekerja tersebut berkemungkinan besar terkena bahaya potensial kesehatan yang ada. Rumah sakit mempunyai perbedaan khas dengan tempat kerja yang lain terkait dengan terbukanya akses bagi bukan pekerja dengan leluasa. Berbeda dengan tempat kerja lain, hanya pekerja saja yang dapat memasuki area pabrik misalnya. Sebagai konsekuensinya, pajanan bahaya potensial yang terdapat di rumah sakit dapat mengenai bukan hanya pekerja, tetapi juga komunitas bukan pekerja dalam hal ini pengguna jasa rumah sakit, dan juga pengunjung lainnya. Perbedaan lain adalah dengan berlangsungnya kegiatan yang terus menerus 24 jam dan 7 hari seminggu, menjadikan risiko gangguan kesehatan menjadi lebih besar sebagai akibat lama pajanan terhadap bahaya potensial menjadi lebih lama. Berbagai penelitian menunjukkan prevalensi gangguan kesehatan yang terjadi di antara pekerja/petugas fasilitas kesehatan cukup tinggi. Kita sering tidak sadar bahwa rumah sakit termasuk salah satu tempat kerja yang berisiko terutama bagi pekerja, pasien dan orang lain yang berada di lingkungan rumah sakit. Di rumah sakit banyak sekali bahan, alat dan proses kerja yang mengancam Kesehatan dan Keselamatan Kerja. NIOSH pada tahun 1985 mencatat bahwa di rumah sakit terdapat 159 zat yang bersifat iritan bagi kulit dan 135 bahan kimia berbahaya yang bersifat karsinogenik, teratogenik dan mutagenik yang dapat mengancam kesehatan pekerja. Disamping itu, angka berbagai Penyakit Akibat Kerja seperti Low Back Pain, Hypertensi, Varises, Gangguan Pencernaan dan Stress diyakini cukup tinggi dan angka Kecelakaan Akibat Kerja juga cukup memprihatinkan. NSCAmerika (1998) mencatat frekuensi angka Kecelakaan Akibat Kerja di rumah sakit lebih tinggi 41% dibanding pekerja lain dengan angka yang terbesar adalah Needle Stick Injuries (NSI). Di Indonesia, penelitian dr. Joseph tahun 20052007 mencatat bahwa angka NSI mencapai 3873% dari total petugas kesehatan. Pada prinsipnya permasalahan tersebut timbul karena lemahnya pihak manajemen dalam menjalankan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Rumah Sakit dengan baik dan benar, serta tingkat kesadaran pekerja rumah sakit akan Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang masih rendah. Di samping itu berbagai masalah Kesehatan dan Keselamatan Kerja kurang mendapat perhatian sebagaimana mestinya, hal ini dapat dilihat, masih banyaknya Penyakit Akibat Kerja dan Kecelakaan Akibat Kerja yang tidak termasuk dalam 31 Penyakit Akibat Kerja yang ditetapkan oleh pemerintah (Keppres No. 31/1991) sehingga PT. Jamsostek menolak membayar klaim berbagai PAK tersebut. Agar Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit dapat dilaksanakan dengan baik, maka pihak manajemen dan penanggung jawab kesehatan dan keselamatan kerja rumah sakit perlu memahami berbagai hal yang terkait dengan Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Keselamatan kerja sebagai salah satu sarana untuk mencegah kecelakaan dan mempunyai peranan penting dalam berlangsungnya proses produksi. Hal ini perlu mendapatkan perhatian yang serius oleh pengusaha dan pekerja. Oleh karena itu keselamatan kerja harus benarbenar di terapkan dalam suatu rumah sakit atau tempat kerja lainnya dimana didalamnya tenaga kerja melakukan pekerjaanya. Bukan hanya pengawasan terhadap mesin, dan peralatan lain saja tetapi yang lebih penting pada manusia atau tenaga kerjanya. Hal ini dilakukan karena manusia adalah faktor yang paling penting dalam suatu proses produksi. Manusia sebagai tenaga kerja akan selalu berhadapan dengan suatu resiko kerja yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja yang berdampak cacat sampai meninggal. (Boedi Maryoto, 1997). Suatu kecelakaan akan berpengaruh luas terhadap penderita kecelakaan, bukan hanya pada dirinya sendiri, tetapi kemungkinan yang lebih besar akan berpengaruh terhadap orang lain, misalnya keluarga korban. Hal ini sangat terasa jika keluarganya tersebut menggantungkan hidupnya dari hasil kerjanya. Tidak mustahil apabila kapasitas kerja seseorang akan turun setelah sembuh dari kecelakaan sehingga hasil dari kerjanya juga menurun, lebih lagi apabila sampai merenggut jiwanya. Kerugian akibat kecelakaan bisa berujud: 1. Kerusakan. 2. Kekacauan. 3. Keluhan dan kesedihan. 4. Kelainan dan cacat. 5. Kematian. (Suma’mur, 1989) Kita harus ingat bahwa kecelakaan itu ada sebabnya, karena itu kecelakaan masih dapat dicegah dengan meniadakan sebabsebabnya, dimana kecelakaan merupakan akibat dari tindakan yang tidak aman dan keadaan yang tidak aman. Biasanya tindakan tidak amanlah yang menimbulkan keadaan tidak aman, sebabsebabnya antara lain: 1. Tidak peduli atau masa bodoh Karena seorang pekerja tidak mempunyai perhatian yang cukup terhadap pekerjaan dan tugasnya. 2. Tidak tahu Karena karyawan tidak mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk bekerja dengan aman. 3. Tidak sanggup Karena karyawan tidak mempunyai kesanggupan fisik dan mental yang cukup untuk melaksanakan pekerjaan dengan aman. Tiga hal diatas sebagai sebab tindakan tidak aman tersebut mungkin juga disebabkan oleh latar belakang karyawan itu sendiri yang terjadi diluar pekerjannya. Oleh sebab itu harus diinsyafi bahwa kemungkinan tersebut besar pengaruhnya terhadap keselamatan kerja dan terjadinya kecelakaan, misalnya seorang pekerja merasa terganggu mentalnya. Pada umumnya keadaan tidak aman dapat menimbulkan kecelakaan, keadaan tidak aman tersebut antara lain: 1. Tidak ada Alat Pelindung Diri (APD). 2. Tidak ada pelindung peralatan mesin. 3. Alatalat yang rusak atau tidak sempurna tetap dipakai. 4. Tempat pekerjaan yang terlalu sempit dan kotor, berminyak tidak ada pintu darurat. 5. Penerangan yang kurang memenuhi syarat kesehatan. 6. Ventilasi yang tidak sempurna, sehingga gas dan debu tidak dapat dibilas dengan udara bersih serta kelembaban udara yang diluar batas. Oleh karena itu setiap tempat kerja harus ada pengawasan yang dapat memperhitungkan akan kecelakaan yang timbul, hubungannya dengan efisiensi kerja. Tidak dapat disangkal bahwa setiap karyawan akan lebih senang atau aman bekerja dibagian yang tidak atau sedikit sekali terdapatnya resiko kecelakaan dan lebih senang bekerja disuatu bagian yang mempunyai program pencegahan kecelakaan yang dilaksanakan dengan baik (Daryanto, 1982). Selain itu, untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas ditempat kerja maka diupayakan peningkatan derajat kesehatan yang setinggitingginya. Untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggitingginya syarat mutlak adalah tujuh macam syarat yang utama yaitu: 1. Pangan yang memenuhi syaratsyarat kesehatan. 2. Sandang yang baik. 3. Perumahan dan pengangkutan yang memenuhi syaratsyarat kesehatan. 4. Pencegahan penyakit menular. 5. Pengobatan dan perawatan. 6. Penyediaan obatobatan. 7. Pendidikan dan latihan tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3). (Daryanto, 1982). Pelatihan yang diadakan ini tujuannya adalah menjawab permasalahanpermasalahan yang terkait Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit dari aspek pengelolaannya, serta lebih meningkatkan profesionalisme Sumber Daya Manusia, Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang ada di rumah sakit. Selanjutnya diharapkan para SDM Kesehatan dan keselamatan Kerja tersebut lebih peka dan kreatif dalam implementasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit. K3 di rumah sakit dapat dilaksanakan dengan baik, jika pihak manajemen rumah sakit mau memahami berbagai hal yang terkait dengan K3. Pelatihan yang diadakan ini tujuannya adalah menjawab atas permasalahanpermasalahan yang terkait K3 di rumah sakit, tidak hanya dari aspek pengelolaannya saja, akan tetapi lebih meningkatkan profesionalisme SDM K3 yang ada di rumah sakit, sehingga diharapkan para SDM K3 tersebut lebih peka dan kreatif dalam implementasi K3 di rumah sakit. Dengan penerapan K3 Rumah Sakit yang baik dan benar tersebut maka berbagai Penyakit Akibat Kerja dan Kecelakaan Akibat Kerja dapat diminimalisasi, produktivitas pekerja dapat ditingkatkan dan pada akhirnya dapat meningkatkan profit bagi rumah sakit.

    Item Type: Thesis (Other)
    Subjects: R Medicine > R Medicine (General)
    Divisions: Fakultas Kedokteran > D3 - Hiperkes dan Keselamatan Kerja
    Depositing User: Chrisstar Dini S
    Date Deposited: 14 Jul 2013 21:19
    Last Modified: 14 Jul 2013 21:19
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/4004

    Actions (login required)

    View Item