Kesantunan Tindak Tutur Asertif dalam Dialog Religious Freedom Project (RFP) di Universitas Georgetown

ALI, SOPYAN (2018) Kesantunan Tindak Tutur Asertif dalam Dialog Religious Freedom Project (RFP) di Universitas Georgetown. Masters thesis, Universitas Sebelas Maret.

[img] PDF - Published Version
Download (1356Kb)

    Abstract

    Kajian kesantunan pragmatik dalam penelitian ini menerapkan teori Prinsip-prinsip Kesantunan (PS) Leech, teori tindak tutur (TT) asertif Searle dan teori taksonomi penanda-penanda santun House & Kasper. Tergolong kedalam jenis penelitian deskriptif-kualitatif, kajian ini berusaha mendeskripsikan dan menjelaskan kesantunan dari sudut pandang teori tindak tutur (Held, 2005). Sumber data yang digunakan adalah transkripsi atau teks rekaman tayangan dialog Religious Freedom Project (RFP) di Universitas Georgetown, Amerika Serikat. Adapun teks tayangan dialog yang dijadikan sampel berjumlah 4 dialog spesifik pada tahun 2012 dan 2014 dapat diakses pada http://berkleycenter.georgetown.edu/rfp. Fokus penelitian ini mendeskripsikan dan menjelaskan (1) realisasi TT asertif dan sub-TT-nya pada tuturan cendikiawan dalam dialog RFP, (2) penerapan PS-Leech yang direalisasikan melalui TT asertif dalam tinjauan penanda-penanda santunnya, (3) skala-skala kesantunan Leech tecermin pada realisasi TT asertif dalam dialog RFP. Berdasarkan temuan data 137 segmen tutur T T asertif dalam dialog RFP, ditemukan penggunaan tujuh jenis TT asertif dominan yang merefleksikan PS-Leech, yakni TT sub-mengakui, menginformasikan, meyakinkan, mengargumentasikan, mengafirmasi, dan melaporkan. Maksim kerendahan hati direalisasikan melalui TT mengakui, menginformasikan, dan mengargumentasikan difungsikan Pn.untuk merendahkan kemampuan pribadinya, berorientasi mempersuasi Mt. dan kelompoknya terhadap sistem ideologi negara demokrasi di NMM (Negara Mayorits Muslim). Maksim kedermawanan identtik diealisasikan melalui TT meyakinkan dan mengargumentasikan diterapkan untuk merubah pandangan Mt., meyakinkan dan menyadari resiko dan penolakan Mt./NMM terhadap program RFP. Maksim kebijaksanaan melalui TT menginformasikan, meyakinkan dan mengakui secara bijaksana direalisasikan sebagai saran pentingnya ajaran Islam yang moderat dalam meresolusi ekstrimisme beragama dan urgensi mendukung program RFP. Maksim penerimaan merupakan cara dan sikap Pn.mengurangi ketidaksantunan pada ujaran-ujaran yang bertujuan ilokusi kritikan terhadap: a) mentalitas pemimpin Agama Islam modern, b) mengkritisi Saudi Arabia sebagai pengsung radikalisme. Maksim kesimpatian menghindari asumsi negatif kepentingan lain yang bersifat eksploitatif dan mengusung program RFP murni karena alasan kepedulian. Kemudian Maksim kesepakatan direalisasikan melalui TT-mengafirmasi untuk menghindari tindak berbahasa tidak menyepakati yang berpotensi mengancam citra diri Mt., sehingga Pn. mengafirmasi pernyataan Mt. sebagai usaha menjaga solidaritas. Dalam dialog RFP penanda-penanda kesantunan diklasifikasi menjadi delapan jenis. Perangkat penghindaran/Phd misalnya pada kata people untuk memberi kesan menghindri penyebutan objek tutur secara langsung, penggunaan frasa ‘the policy’ mengganti rujukan kata (sebenarnya) ‘Amerika’. Perangkat berpagar/hedging/Pbg pada frasa ‘tended to ‘cenderung’ dan the kind of ‘semacam’ memitigasi/mengurangi daya ilokusi tuturan yang mengimplikasikan sebuah kritikan. Penanda santun penurun komitmen diri/Pkd misalnya pada frasa referensial ‘I think’ difungsikan untuk menghindari tanggung jawab penuh atas kebenaran dalam ujaran yang disampaikan. Penggunaan skala terbesar berupa ‘skala ketanglangsungan’ bersinergi dengan ‘maksim penerimaan’, dalam penggunaannya mencerminkan kesantunan negatif. Kedua adalah skala pilihan difungsikan untuk memitigasi/mengurangi daya impositif (bersifat menekan). Skala jarak sosial yaitu persepsi kesantunan yang ditentukan oleh derajat diantara Pn. dan Mt.nya diterapkan dominan pada maksim kerendahan hati. Dalam dialog RFP penerapan skala ini ditengarai sikap Pn. yang memandang hubungan komunikatif sebagai konsekuensi logis pertimbangan menginformasikan gagasan atau persepsi terkait pemahaman wilayah pribadi (self-territory) dan wilayah kelompok lain (other-territory), hal ini kemudian menjelaskan hubungan sosial antar penutur bersifat simetris.

    Item Type: Thesis (Masters)
    Subjects: H Social Sciences > H Social Sciences (General)
    Divisions: Pascasarjana
    Pascasarjana > Magister
    Pascasarjana > Magister > Linguistik - S2
    Depositing User: Fransiska Meilani f
    Date Deposited: 27 Feb 2018 11:20
    Last Modified: 27 Feb 2018 11:20
    URI: https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/39582

    Actions (login required)

    View Item